Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Maret 2026 - 21:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membalikkan keadaan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah melalui ekspor teknologi pencegat drone ke negara-negara Teluk yang kini menjadi target serangan Iran. Dok: Istimewa.

Membalikkan keadaan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah melalui ekspor teknologi pencegat drone ke negara-negara Teluk yang kini menjadi target serangan Iran. Dok: Istimewa.

ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Ukraina kini secara aktif merombak konstelasi keamanan di Timur Tengah. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa negaranya telah “mengubah situasi geopolitik” melalui kesepakatan pertahanan jangka panjang dengan negara-negara Teluk yang sedang terancam oleh gempuran drone dan rudal Iran.

Dalam konteks ini, Zelenskyy memanfaatkan momentum tour diplomatiknya ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Ia mempromosikan sistem pertahanan udara Ukraina sebagai solusi paling efektif bagi ancaman yang sedang dihadapi wilayah tersebut saat ini.

Keunggulan Teknologi: Melawan Shahed dengan Pengalaman

Negara-negara Teluk kini menjadi target utama serangan drone berbasis teknologi Shahed milik Iran. Oleh karena itu, pengalaman Ukraina yang telah empat tahun menghadapi ratusan serangan serupa setiap malam menjadi aset diplomatik yang tak ternilai.

Bahkan, data Angkatan Udara Ukraina menunjukkan tingkat keberhasilan pencegatan mencapai lebih dari 80 persen. Ukraina telah mengembangkan serangkaian alat pencegat drone-lawan-drone yang murah namun sangat efektif. “Saat ini, tidak ada pihak lain yang memiliki keahlian dan pengalaman tempur seperti kami,” tegas Zelenskyy kepada wartawan AFP.

Baca Juga :  Mikrofon Mati Saat Pidato di PBB, Prabowo Tetap Lantang Bicarakan Palestina

Kontrak 10 Tahun dan Produksi Bersama

Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Ukraina telah menandatangani perjanjian kerja sama selama sepuluh tahun dengan Arab Saudi dan Qatar. Selanjutnya, kesepakatan serupa dijadwalkan akan segera tuntas dengan pihak UEA. Fokus utama dari kemitraan ini adalah produksi bersama drone di pabrik-pabrik yang akan dibangun baik di Ukraina maupun di kawasan Teluk.

Meskipun demikian, rincian nilai kontrak tersebut masih bersifat rahasia. Zelenskyy hanya menyebutkan bahwa kesepakatan ini bernilai “miliaran, bukan jutaan” bagi para eksportir Ukraina. Sebagai hasilnya, Kyiv berharap aliran modal ini dapat memperkuat industri pertahanan dalam negerinya tanpa mengurangi pasokan kebutuhan bagi tentaranya sendiri di garis depan.

Barter Senjata demi Kedaulatan Energi

Selain aspek militer, Zelenskyy mengincar sumber daya energi raksasa milik negara-negara Teluk. Serangan Rusia selama empat tahun terakhir telah melumpuhkan jaringan listrik dan pasokan bahan bakar Ukraina. Oleh sebab itu, Kyiv sangat membutuhkan perjanjian energi jangka panjang guna menjamin stabilitas pasokan domestik.

Baca Juga :  Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami membutuhkan kesepakatan dengan negara produsen energi, dan inilah yang sedang kami negosiasikan secara intensif,” ujar Zelenskyy. Secara simultan, langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Ukraina pada pasar energi Barat yang sering kali fluktuatif akibat dampak perang regional.

Dilema Etika dan Risiko Pasar Persenjataan

Namun, manuver diplomatik ini tidak lepas dari kritik. Di internal militer Ukraina, ekspor senjata saat perang masih berlangsung memicu perdebatan moral. “Satu orang menjadi miliarder melalui ekspor, sementara yang lain tewas di parit pertempuran,” ujar seorang komandan unit drone kepada AFP.

Terlebih lagi, analis politik Yevgen Magda memperingatkan bahwa ini adalah momen yang berisiko bagi diplomasi Ukraina. Sebagai pendatang baru di pasar penjualan senjata internasional, keberhasilan Kyiv tidak dapat dijamin hanya dengan satu kunjungan. Pada akhirnya, kemampuan Ukraina untuk merealisasikan janji-janji teknologi ini akan menentukan apakah Kyiv mampu menjadi pemain kunci dalam tatanan keamanan dunia di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82
Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi
20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global
Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 21:54 WIB

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:47 WIB

Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Berita Terbaru

Membalikkan keadaan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah melalui ekspor teknologi pencegat drone ke negara-negara Teluk yang kini menjadi target serangan Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Mar 2026 - 21:54 WIB

Pemberontakan sipil di seluruh negeri. Gelombang ketiga aksi

INTERNASIONAL

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Mar 2026 - 20:00 WIB

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB