ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Ukraina kini secara aktif merombak konstelasi keamanan di Timur Tengah. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa negaranya telah “mengubah situasi geopolitik” melalui kesepakatan pertahanan jangka panjang dengan negara-negara Teluk yang sedang terancam oleh gempuran drone dan rudal Iran.
Dalam konteks ini, Zelenskyy memanfaatkan momentum tour diplomatiknya ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Ia mempromosikan sistem pertahanan udara Ukraina sebagai solusi paling efektif bagi ancaman yang sedang dihadapi wilayah tersebut saat ini.
Keunggulan Teknologi: Melawan Shahed dengan Pengalaman
Negara-negara Teluk kini menjadi target utama serangan drone berbasis teknologi Shahed milik Iran. Oleh karena itu, pengalaman Ukraina yang telah empat tahun menghadapi ratusan serangan serupa setiap malam menjadi aset diplomatik yang tak ternilai.
Bahkan, data Angkatan Udara Ukraina menunjukkan tingkat keberhasilan pencegatan mencapai lebih dari 80 persen. Ukraina telah mengembangkan serangkaian alat pencegat drone-lawan-drone yang murah namun sangat efektif. “Saat ini, tidak ada pihak lain yang memiliki keahlian dan pengalaman tempur seperti kami,” tegas Zelenskyy kepada wartawan AFP.
Kontrak 10 Tahun dan Produksi Bersama
Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Ukraina telah menandatangani perjanjian kerja sama selama sepuluh tahun dengan Arab Saudi dan Qatar. Selanjutnya, kesepakatan serupa dijadwalkan akan segera tuntas dengan pihak UEA. Fokus utama dari kemitraan ini adalah produksi bersama drone di pabrik-pabrik yang akan dibangun baik di Ukraina maupun di kawasan Teluk.
Meskipun demikian, rincian nilai kontrak tersebut masih bersifat rahasia. Zelenskyy hanya menyebutkan bahwa kesepakatan ini bernilai “miliaran, bukan jutaan” bagi para eksportir Ukraina. Sebagai hasilnya, Kyiv berharap aliran modal ini dapat memperkuat industri pertahanan dalam negerinya tanpa mengurangi pasokan kebutuhan bagi tentaranya sendiri di garis depan.
Barter Senjata demi Kedaulatan Energi
Selain aspek militer, Zelenskyy mengincar sumber daya energi raksasa milik negara-negara Teluk. Serangan Rusia selama empat tahun terakhir telah melumpuhkan jaringan listrik dan pasokan bahan bakar Ukraina. Oleh sebab itu, Kyiv sangat membutuhkan perjanjian energi jangka panjang guna menjamin stabilitas pasokan domestik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami membutuhkan kesepakatan dengan negara produsen energi, dan inilah yang sedang kami negosiasikan secara intensif,” ujar Zelenskyy. Secara simultan, langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Ukraina pada pasar energi Barat yang sering kali fluktuatif akibat dampak perang regional.
Dilema Etika dan Risiko Pasar Persenjataan
Namun, manuver diplomatik ini tidak lepas dari kritik. Di internal militer Ukraina, ekspor senjata saat perang masih berlangsung memicu perdebatan moral. “Satu orang menjadi miliarder melalui ekspor, sementara yang lain tewas di parit pertempuran,” ujar seorang komandan unit drone kepada AFP.
Terlebih lagi, analis politik Yevgen Magda memperingatkan bahwa ini adalah momen yang berisiko bagi diplomasi Ukraina. Sebagai pendatang baru di pasar penjualan senjata internasional, keberhasilan Kyiv tidak dapat dijamin hanya dengan satu kunjungan. Pada akhirnya, kemampuan Ukraina untuk merealisasikan janji-janji teknologi ini akan menentukan apakah Kyiv mampu menjadi pemain kunci dalam tatanan keamanan dunia di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















