Menlu Iran Sebut Kesepakatan Hindari Perang Dalam Jangkauan

Rabu, 25 Februari 2026 - 15:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampu hijau untuk Jenewa. Menlu Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Oman di Muscat guna menyelaraskan posisi sebelum menghadapi delegasi Amerika Serikat dalam perundingan nuklir putaran kedua. Dok: Istimewa.

Lampu hijau untuk Jenewa. Menlu Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Oman di Muscat guna menyelaraskan posisi sebelum menghadapi delegasi Amerika Serikat dalam perundingan nuklir putaran kedua. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, meluncurkan seruan diplomatis yang mendesak pada Selasa. Ia mengeklaim bahwa Teheran memiliki peluang bersejarah untuk mencapai kesepakatan guna menghindari bentrokan militer dengan Amerika Serikat.

Pernyataan Araghchi muncul dua hari sebelum musuh bebuyutan tersebut kembali bertemu di meja perundingan Jenewa. “Kesepakatan berada dalam jangkauan, namun hanya jika diplomasi mendapatkan prioritas,” tulis Araghchi melalui akun media sosialnya. Langkah ini merupakan upaya Iran untuk meredam eskalasi setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan meluncurkan serangan jika kesepakatan tidak segera tercapai.

Protes Mahasiswa dan Pelanggaran “Garis Merah”

Di saat Araghchi berupaya menenangkan Washington, ketegangan justru meledak di dalam negeri. Mahasiswa di berbagai universitas di Teheran menandai dimulainya semester baru dengan menggelar demonstrasi anti-pemerintah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Video yang telah terverifikasi menunjukkan kelompok mahasiswa terlibat bentrokan fisik di dalam aula universitas. Bahkan, aksi protes mencapai puncaknya saat mahasiswa membakar bendera Republik Islam Iran sebagai bentuk pembangkangan terhadap kepemimpinan ulama. Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, mengeluarkan peringatan keras kepada para pengunjuk rasa. Ia menegaskan bahwa bendera negara merupakan “garis merah” yang tidak boleh warga langgar meskipun dalam puncak amarah sekalipun.

Baca Juga :  Usia Pensiun Polri Naik, Wamenkum Jelaskan Isi Revisi UU Polri

Ancaman Militer: Kepungan Dua Kapal Induk

Washington terus meningkatkan tekanan psikologis melalui mobilisasi aset tempur paling mematikan. Kapal induk nuklir terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, telah tiba di Kreta guna bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah bersiaga di Laut Arab.

Selain itu, penumpukan militer ini bertujuan memaksa Teheran untuk menerima syarat-syarat berat dalam meja perundingan. Donald Trump mengisyaratkan bahwa opsi militer tetap berada di atas meja jika Iran gagal memberikan konsesi yang memuaskan. Namun demikian, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir, sembari tetap menuntut hak kedaulatan untuk memanfaatkan teknologi nuklir damai bagi kepentingan nasional.

Baca Juga :  Berburu Berkah Ramadan 2026, Ratusan Paket Makanan Dibagikan di Muara Angke

Bayang-Bayang Tragedi Masa Lalu

Proses diplomasi tahun 2026 ini berjalan di bawah trauma kerusuhan bulan Januari lalu. Organisasi hak asasi manusia (HRANA) mencatat lebih dari 7.000 kematian akibat tindakan keras aparat terhadap demonstran, meskipun pemerintah hanya mengakui sekitar 3.000 korban jiwa.

Selanjutnya, ingatan mengenai perang 12 hari dengan Israel pada tahun lalu juga masih membekas kuat. Konflik tersebut mengakhiri lima putaran negosiasi sebelumnya secara mendadak. Kini, pertemuan trilateral di Jenewa pada hari Kamis menjadi pertaruhan terakhir bagi Araghchi untuk membuktikan bahwa jalur politik masih mampu mencegah Timur Tengah terperosok kembali ke dalam lubang peperangan yang lebih destruktif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB