WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan upaya diplomatik terakhir guna mencegah kehancuran total tatanan energi global. Wakil Presiden JD Vance secara resmi memimpin delegasi menuju Islamabad guna menghadapi perundingan yang ia sebut sebagai fase “penentu nasib” pada hari Jumat.
Dalam konteks ini, misi Vance bertujuan mengakhiri peperangan yang telah berlangsung selama enam pekan. Namun demikian, ketidakpastian menyelimuti pertemuan tersebut setelah otoritas Teheran mengajukan sejumlah prasyarat berat sebelum duduk di meja perundingan.
Tuntutan Keras Teheran dan Aset yang Membeku
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Washington harus membuktikan komitmennya terlebih dahulu. Iran menuntut Amerika Serikat segera mencairkan aset bernilai puluhan miliar dolar yang tersimpan di bank-bank asing. Selain itu, Teheran mendesak penghentian total gempuran Israel terhadap wilayah Lebanon sebagai bagian integral dari kesepakatan damai.
Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mendukung posisi keras tersebut. Oleh karena itu, para mediator Pakistan kini bekerja ekstra keras guna memastikan kedua belah pihak tidak membatalkan pertemuan di Islamabad pada Jumat malam. Iran mengincar pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz sebagai alat tawar guna menghapus sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan mereka selama bertahun-tahun.
Retorika Trump dan Kesiapan Negosiator AS
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap menggunakan narasi yang agresif di media sosial. Trump mengeklaim bahwa Iran tidak memiliki kartu tawar apa pun selain “pemerasan” di jalur pelayaran internasional. “Satu-satunya alasan mereka masih hidup hari ini adalah untuk bernegosiasi!” tulis Trump guna menegaskan dominasi militer Amerika Serikat.
Meskipun demikian, JD Vance mencoba membawa nada yang lebih terukur namun tetap waspada. Ia berharap perundingan ini membuahkan hasil positif bagi stabilitas kawasan. Namun, Vance memperingatkan bahwa tim negosiasi AS tidak akan bersikap reseptif jika Iran mencoba melakukan manipulasi diplomatik di tengah gencatan senjata yang rapuh di tahun 2026 ini.
Eskalasi di Lebanon: 1.953 Nyawa Melayang
Situasi di medan tempur Lebanon justru menunjukkan arah yang berlawanan dengan semangat gencatan senjata. Militer Israel meluncurkan serangan udara terdahsyat tepat setelah pengumuman jeda pertempuran oleh Trump. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 350 orang tewas dalam gempuran mendadak di kawasan padat penduduk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara khusus, serangan rudal di kota Nabatieh menghancurkan sebuah gedung pemerintah pada hari Jumat. Insiden tersebut menewaskan 13 personel pasukan keamanan negara Lebanon. Akibatnya, total korban jiwa di Lebanon sejak awal Maret kini telah melampaui 1.953 orang. Hezbollah membalas aksi tersebut dengan menembakkan salvo roket ke kota-kota di utara Israel, membuktikan bahwa api peperangan masih berkobar hebat di luar wilayah kedaulatan Iran.
Guncangan Ekonomi: Inflasi AS Tembus 0,9 Persen
Perang di Timur Tengah kini mulai mencekik ekonomi rumah tangga di Amerika Serikat. Data inflasi bulanan yang terbit pada hari Jumat menunjukkan kenaikan harga konsumen sebesar 0,9 persen sepanjang Maret 2026. Angka ini merupakan laju inflasi tercepat sejak krisis energi tahun 2022 silam.
Terlebih lagi, kelumpuhan Selat Hormuz telah memicu disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Para analis memperingatkan bahwa dampak ekonomi ini akan bertahan selama berbulan-bulan meskipun Vance sukses membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Pada akhirnya, keberhasilan diplomasi di Islamabad menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah resesi global yang lebih dalam di sisa tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















