JENEWA, POSNEWS.CO.ID โ Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa putaran kedua pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat telah dimulai di Jenewa pada Selasa pagi waktu setempat. Proses diplomasi ini bertujuan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir yang berisiko mengguncang Timur Tengah.
Oman tetap memegang peran krusial sebagai jembatan komunikasi dalam negosiasi ini. Pertemuan tersebut meneruskan momentum putaran pertama di Muscat pada 6 Februari lalu, yang para pejabat deskripsikan sebagai “awal yang baik” meskipun belum menghasilkan terobosan besar.
Kehadiran Jared Kushner dan Tim Spesialis
Washington mengirimkan tim kuat yang terdiri dari utusan khusus presiden, Steve Witkoff, dan Jared Kushner. Kehadiran Kushner menandakan keterlibatan langsung lingkaran inti Presiden Donald Trump dalam menentukan arah kebijakan luar negeri AS di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memimpin delegasi yang ia sebut sebagai tim “diplomatik dan terspesialisasi”. Tim ahli ini memegang mandat penuh untuk mengevaluasi poin-poin teknis terkait nuklir dan dampak sanksi ekonomi terhadap Iran.
Tawaran Fleksibilitas vs “Garis Merah” Teheran
Sebelum perundingan dimulai, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi memberikan sinyal kompromi dalam wawancara dengan BBC pada hari Minggu. Ia menyatakan bahwa Iran bersedia mendiskusikan pengenceran cadangan uranium hasil pengayaan 60 persen sebagai bentuk itikad baik.
Namun demikian, Takht-Ravanchi menutup pintu rapat-rapat bagi tuntutan Washington mengenai penghentian total pengayaan uranium (zero enrichment) di tanah Iran. Teheran menetapkan hak pengolahan energi nuklir damai dan kapasitas pertahanan rudal sebagai “garis merah” yang tidak akan mereka kompromikan. “Kami mencari kesepakatan yang adil dan merata yang mampu mencabut sanksi ekonomi,” tegas Takht-Ravanchi.
Tuntutan Berat dari Washington
Amerika Serikat tetap memegang posisi tawar yang keras dalam meja perundingan. Washington secara eksplisit menuntut agar kesepakatan baru mencakup larangan total pengayaan uranium dan pemindahan seluruh material hasil pengayaan ke luar negeri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, pemerintahan Trump ingin memperluas cakupan perjanjian untuk membatasi pengembangan rudal jarak jauh Iran. AS juga mendesak Teheran untuk segera menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan regional. Perbedaan fundamental ini memicu kekhawatiran para pengamat bahwa negosiasi di Jenewa akan menghadapi tantangan teknis dan politik yang sangat berat. Dunia kini memantau apakah kehadiran mediator Oman mampu melunakkan kebuntuan antara syarat berat Washington dan kedaulatan energi Teheran.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















