JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda melihat teman yang mengeluh tidak punya uang, tetapi keesokan harinya liburan ke luar negeri? Atau mungkin Anda sendiri sering membeli barang mewah impulsif meski tabungan pas-pasan?
Perilaku ini memiliki nama khusus. Para ahli menyebutnya sebagai Doom Spending. Fenomena ini menggambarkan tindakan menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat karena seseorang merasa pesimis terhadap masa depan.
Mereka merasa tidak akan pernah sanggup membeli rumah atau pensiun dengan nyaman. Akibatnya, mereka memilih untuk menikmati uang tersebut sekarang juga. Pola pikir “hidup hanya sekali” berubah menjadi pembenaran finansial yang nekat.
Nihilisme Ekonomi Akibat Berita Buruk
Pemicu utama perilaku ini adalah paparan berita buruk yang terus-menerus. Setiap hari, kita membuka media sosial dan melihat kabar tentang perang, krisis iklim, hingga ancaman resesi global.
Otak kita merespons informasi negatif ini dengan rasa cemas berlebih. Psikolog menyebut kondisi ini memicu semacam “nihilisme ekonomi”. Kita merasa dunia sedang menuju kehancuran.
Oleh karena itu, menabung terasa seperti tindakan sia-sia. Untuk apa menyimpan uang demi masa depan yang mungkin tidak akan pernah ada? Lantas, belanja barang mewah atau hiburan mahal menjadi obat penenang instan bagi kecemasan tersebut.
Gen Z vs Boomer: Prioritas yang Bergeser
Perbedaan pola pikir antargenerasi terlihat sangat mencolok di sini. Generasi Boomers dahulu bekerja keras dan menabung ketat demi membeli properti. Sebaliknya, Gen Z menghadapi realitas harga properti yang tidak masuk akal dibandingkan gaji mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak muda ini sadar bahwa menabung seumur hidup pun mungkin tidak cukup untuk membayar uang muka rumah. Maka, mereka mengubah haluan prioritas.
Mereka lebih memilih pengalaman nyata seperti konser musik, traveling, atau tas branded. Setidaknya, hal-hal tersebut memberikan kebahagiaan yang bisa mereka rasakan secara langsung saat ini juga.
Lingkaran Setan Utang Konsumtif
Meskipun demikian, mekanisme koping ini menyimpan bahaya tersembunyi yang serius. Doom spending sering kali menjebak pelakunya ke dalam lingkaran setan utang konsumtif.
Banyak orang menggunakan fitur PayLater atau kartu kredit untuk membiayai gaya hidup ini. Sayangnya, mereka sering abai terhadap risiko finansial jangka panjang.
Ketiadaan dana darurat menjadi bom waktu. Jika terjadi PHK atau sakit mendadak, mereka tidak memiliki jaring pengaman sama sekali. Keuangan mereka sangat rapuh karena habis untuk kesenangan sesaat.
Koping Mahal di Tengah Pesimisme
Pada akhirnya, doom spending adalah respons manusiawi terhadap ketidakpastian zaman. Ini adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang mahal dalam menghadapi pesimisme global.
Kita memang berhak menikmati hasil kerja keras. Akan tetapi, kita harus tetap waras. Jangan sampai keputusasaan terhadap masa depan justru menghancurkan sisa harapan yang masih kita miliki hari ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















