BELEM – Konferensi iklim PBB, COP30, di Belem, Brasil, seharusnya berakhir Jumat malam (21/11/2025). Namun, negosiasi justru memanas dan molor hingga larut malam. Nasib kesepakatan global untuk menyelamatkan bumi kini menggantung tanpa kepastian.
Ketegangan memuncak setelah Uni Eropa (UE) mengambil langkah tegas. Blok tersebut menolak mentah-mentah rancangan kesepakatan (draft deal) yang diajukan oleh tuan rumah, Brasil.
Pasalnya, teks tersebut dianggap terlalu lemah. Draf itu gagal mencantumkan peta jalan jelas untuk pengurangan emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.
Pertarungan Soal Bahan Bakar Fosil
Presidensi Brasil merilis draf teks tersebut sebelum fajar pada Jumat. Sayangnya, referensi tentang penghentian penggunaan minyak, gas, dan batu bara menghilang dari dokumen itu.
Draf awal sebenarnya memuat opsi penghapusan bahan bakar fosil. Akan tetapi, poin krusial tersebut dihapus setelah mendapat penolakan keras dari negara-negara produsen minyak utama.
Arab Group, yang beranggotakan 22 negara termasuk Arab Saudi, memainkan peran kunci dalam penolakan ini. Sumber internal menyebutkan bahwa Arab Saudi memperingatkan negosiator lain. Mereka menegaskan bahwa menargetkan industri energi mereka akan meruntuhkan seluruh negosiasi.
Akibatnya, Uni Eropa berang. Komisaris Iklim UE, Wopke Hoekstra, menyatakan kekecewaannya secara terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dalam keadaan apa pun kami tidak akan menerima ini,” tegas Hoekstra dalam pernyataannya, Jumat (21/11/2025).
Beberapa negosiator Eropa bahkan memberi sinyal keras. Bahkan, mereka mempertimbangkan opsi walk out atau meninggalkan pembicaraan daripada menyetujui kesepakatan yang cacat.
Kebakaran Venue dan Tuntutan Dana
Suasana di Belem kian kacau karena insiden non-politis. Sebelumnya, kebakaran sempat terjadi di lokasi konferensi pada Kamis sore. Insiden ini memaksa penundaan sesi dan menambah ketegangan di antara para delegasi yang sudah kelelahan.
Di sisi lain, negara-negara berkembang menyerang balik posisi negara maju. Mereka menuntut komitmen pendanaan yang lebih besar (climate finance).
Draf kesepakatan menyerukan pelipatgandaan dana adaptasi pada 2030 dari level 2025. Namun, teks itu tidak merinci dari mana uang itu berasal, apakah dari negara kaya atau sektor swasta.
“Kita tidak bisa hanya bekerja dengan satu jalur. Jika ada jalan untuk bahan bakar fosil, harus ada jalan untuk pendanaan iklim juga,” ujar seorang negosiator negara berkembang.
Absennya AS dan Posisi China
KTT tahun ini juga menghadapi tantangan geopolitik berat. Presiden AS Donald Trump absen dan menyebut pemanasan global sebagai hoax. Oleh sebab itu, Presiden COP30 André Corrêa do Lago mendesak dunia untuk menunjukkan persatuan multilateral.
“Dunia sedang menonton. Kita harus mencapai kesepakatan di antara kita,” desak Corrêa do Lago.
Sementara itu, harapan agar China mengisi kekosongan kepemimpinan AS tampaknya belum terwujud. Beijing hadir dengan paviliun megah dan teknologi hijau canggih. Tetapi, diplomat China lebih fokus menentang hambatan perdagangan teknologi daripada memimpin negosiasi politik yang alot.
Kini, para delegasi berpacu dengan waktu. Mereka harus menjembatani jurang perbedaan yang menganga lebar atau pulang dengan tangan hampa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















