JAKARTA, POSNEWS.CO.ID â Kasus dugaan kekerasan seksual oleh driver taksi online di wilayah Jakarta Pusat mengungkap fakta mengerikan.
Polisi menyoroti penggunaan kaca film super gelap sebagai celah pelaku menjalankan aksi bejat tanpa terdeteksi.
Korban, perempuan asal Jawa Tengah berinisial SKD (20), diduga menjadi sasaran predator berkedok sopir berinisial WAH (39).
Peristiwa ini langsung memicu perhatian serius aparat.
Dir PPA dan PPO Polda Metro Jaya, Kombes Rita Wulandari, mengungkapkan kondisi kendaraan pelaku sangat mencurigakan.
Kaca film samping mencapai tingkat kegelapan 80 persen, sementara bagian depan sekitar 60 persen.
âAkibatnya, visibilitas dari luar nyaris tertutup total. Aktivitas di dalam mobil tidak terlihat, dan ini dimanfaatkan pelaku,â tegas Rita, Senin (6/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Modus Menyimpang: Korban Dibawa ke Lokasi Sepi di Harmoni
Lebih lanjut, pelaku diduga sengaja membawa korban keluar dari rute normal. Ia mengarah ke kawasan sepi di sekitar Harmoni, sehingga situasi semakin rawan dan sulit terpantau warga.
Namun, korban berhasil melarikan diri. Sayangnya, warga sekitar tidak langsung mengamankan pelaku karena mengira keduanya pasangan.
Alhasil, pelaku sempat lolos dari amukan massa.
Polisi pun langsung bergerak. Saat ini, penyelidikan terus dikembangkan untuk memastikan kronologi lengkap serta menjerat pelaku dengan pasal berlapis terkait kekerasan seksual.
Di sisi lain, aparat mengeluarkan imbauan tegas. Masyarakat diminta lebih waspada saat menggunakan transportasi online.
Pertama, penumpang harus selalu memeriksa identitas pengemudi dan kendaraan. Kedua, segera bagikan lokasi perjalanan ke keluarga atau teman.
Ketiga, jika muncul tanda bahaya, minta sopir menghentikan kendaraan dan segera keluar.
Selain itu, polisi menekankan pentingnya dokumentasi. Rekaman video atau foto dari ponsel bisa menjadi bukti krusial dalam proses hukum.
Jika dalam kondisi darurat, masyarakat diminta segera menghubungi hotline 110.
âKami minta masyarakat cepat tanggap, berani bertindak, dan saling membantu. Jangan ragu menolong jika melihat indikasi kejahatan,â tegas Rita.
Tak hanya itu, polisi juga mengingatkan seluruh pengemudi, baik online maupun konvensional, untuk tetap profesional. Mereka wajib menjaga etika, mematuhi rute, dan menjamin keselamatan penumpang.
Kasus ini menjadi alarm keras. Di balik layanan transportasi yang praktis, ancaman kejahatan tetap mengintai.
Oleh karena itu, kewaspadaan menjadi kunci utama agar tidak menjadi korban berikutnya. (red)
Editor : Hadwan



















