UEA Diserang Rudal Iran Saat AS Paksa Buka Jalur Energi

Rabu, 6 Mei 2026 - 06:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik didih baru. Presiden Donald Trump mengerahkan Angkatan Laut AS guna membuka paksa blokade Iran melalui operasi “Project Freedom”. Misi militer ini bertujuan mengawal kapal tanker yang terdampar untuk memulihkan arus energi dunia.

Namun, misi tersebut memicu reaksi keras. Militer AS menghancurkan enam perahu kecil Iran. Mereka juga melumpuhkan rudal jelajah dan drone yang mengancam armada. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan Washington tidak mencari musuh. Ia menganggap gencatan senjata empat minggu itu tetap bertahan secara teknis.

UEA dalam Bidikan: “Hak untuk Membalas”

Kementerian pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi serangan susulan Iran. Pertahanan udara mereka mencegat rudal dan drone tersebut. Serangan ini mengincar infrastruktur vital negara. Sebuah pelabuhan minyak bahkan terbakar hebat pada Senin malam akibat serangan itu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemenlu UEA menyebut serangan itu eskalasi serius bagi keamanan nasional. Abu Dhabi pun mengeklaim hak sah untuk merespons secara militer. Di pihak lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memberi peringatan. Menurutnya, pelanggaran gencatan senjata oleh AS justru membahayakan pelayaran global.

Baca Juga :  Pyongyang Pamer Kekuatan: Korea Utara Uji Coba Bom Klaster dan Senjata Elektromagnetik

Perang Urat Saraf di Oval Office

Di Washington, Presiden Donald Trump meremehkan kekuatan militer Iran. Ia menyamakan persenjataan Iran dengan “senapan mainan” (peashooters). Trump yakin Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan damai segera.

“Mereka bermain gim, namun mereka ingin kesepakatan,” ujar Trump di Oval Office. Namun, realitas lapangan menunjukkan hal berbeda. Garda Revolusi Iran merilis peta perluasan area kendali selat. Mereka memperingatkan kapal agar mematuhi koridor Teheran atau menghadapi respons tegas.

Sukses Kecil di Tengah Blokade

Militer AS mengeklaim telah mengamankan jalur bagi ratusan kapal komersial. Dua kapal dagang berbendera AS sukses melintasi selat. Kapal penghancur rudal mengawal pergerakan mereka dengan ketat.

Maersk mengonfirmasi kapal Alliance Fairfax berhasil keluar dari Teluk pada Senin. Militer AS memberikan pengawalan bagi kapal tersebut. Namun, Iran membantah pelintasan kapal secara legal. Mereka mengeklaim melepaskan tembakan peringatan yang memaksa kapal perang AS berbalik arah.

Baca Juga :  Trump dan Netanyahu Gagal Capai Kesepakatan Definitif

Mediasi Pakistan dan Jalur Beijing

Perang ini mengguncang pasar komoditas dunia secara masif. Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan peringatan keras. Dunia butuh tiga hingga empat bulan untuk memulihkan ekonomi meski konflik usai hari ini.

Mediasi Pakistan menjadi harapan baru bagi perdamaian. Islamabad melaporkan kedua pihak mulai mempersempit perbedaan. Menlu Iran Abbas Araqchi juga bertolak ke Beijing pada Selasa. Ia melakukan pembicaraan tingkat tinggi sebelum rencana kunjungan Trump ke China.

Syarat Mutlak Nuklir

Isu nuklir tetap menjadi ganjalan terbesar. Trump mewajibkan Iran menyerahkan seluruh cadangan uranium mereka. Hal ini menjadi syarat utama pencabutan sanksi. Teheran tetap membantah ambisi senjata nuklir. Namun, AS menganggap program rudal Iran sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.

Masa depan Selat Hormuz bergantung pada diplomasi di Beijing dan Islamabad. Negosiasi ini berlangsung selama dua pekan ke depan. Kegagalan diplomasi akan memicu eskalasi militer yang lebih parah. Hal tersebut berisiko menjerumuskan ekonomi global ke dalam krisis besar pada tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

Valve membongkar rahasia sensor kapasitif Grip Sense pada Steam Controller. Fitur ini mengendalikan gyro, weapon wheel, dan navigasi menu tanpa tombol fisik tambahan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Valve Ungkap Fitur Tersembunyi Grip Sense di Steam

Minggu, 9 Agu 2026 - 06:00 WIB

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB