Pyongyang Pamer Kekuatan: Korea Utara Uji Coba Bom Klaster dan Senjata Elektromagnetik

Kamis, 9 April 2026 - 15:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Lompatan teknologi mematikan. Korea Utara mengonfirmasi keberhasilan uji coba sistem rudal taktis dengan hulu ledak bom klaster serta senjata elektromagnetik strategis guna memperkuat daya gentar terhadap lawan regional. Dok: Istimewa.

Foto, Lompatan teknologi mematikan. Korea Utara mengonfirmasi keberhasilan uji coba sistem rudal taktis dengan hulu ledak bom klaster serta senjata elektromagnetik strategis guna memperkuat daya gentar terhadap lawan regional. Dok: Istimewa.

YONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Otoritas militer Korea Utara melakukan unjuk kekuatan besar-besaran melalui uji coba berbagai sistem persenjataan mutakhir pekan ini. Langkah ini mencakup pengujian rudal balistik taktis dengan hulu ledak klaster dan sistem elektromagnetik yang pemerintah sebut sebagai aset strategis nasional di tahun 2026.

Dalam konteks ini, pengujian berlangsung selama tiga hari hingga Rabu kemarin di bawah pengawasan Jenderal Kim Jong Sik. Pengumuman ini muncul sehari setelah militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran beberapa rudal balistik jarak pendek menuju Laut Jepang.

Rudal Hwasongpho-11 Ka: Menghancurkan 7 Hektar

Pilar utama dalam pengujian ini adalah rudal permukaan-ke-permukaan taktis Hwasongpho-11 Ka. Secara khusus, rudal ini menggunakan hulu ledak bom klaster yang dirancang untuk menyebarkan submunisi dalam skala luas.

Otoritas pertahanan Korea Utara mengonfirmasi bahwa hulu ledak tersebut memiliki kemampuan untuk “meratakan menjadi abu setiap target yang mencakup area seluas 6,5 hingga 7 hektar.” Oleh karena itu, efektivitas serangan ini dipandang sebagai ancaman serius bagi konsentrasi pasukan dan infrastruktur darat lawan. Meskipun senjata semacam ini dilarang oleh konvensi internasional, Korea Utara tetap melanjutkan pengembangannya karena bukan merupakan anggota pakta tersebut.

Baca Juga :  Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung

Senjata Elektromagnetik dan Bom Serat Karbon

Selain kekuatan daya ledak fisik, Pyongyang juga menguji sistem peperangan asimetris. Jenderal Kim Jong Sik menegaskan bahwa sistem elektromagnetik dan bom serat karbon tiruan merupakan “aset khusus yang bersifat strategis”.

Lebih lanjut, militer juga menguji sistem rudal anti-pesawat jarak pendek seluler serta kinerja mesin roket yang menggunakan bahan baku berbiaya rendah. Langkah ini menunjukkan upaya Korea Utara untuk memproduksi senjata canggih secara massal dengan efisiensi anggaran di tengah sanksi internasional. Akibatnya, diversifikasi arsenal ini memberikan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi bagi unit-unit tempur di garis depan.

Lintasan Ireguler dan Respons Regional

Aktivitas militer ini segera memicu alarm keamanan di negara-negara tetangga. Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan bahwa salah satu rudal yang diluncurkan pada hari Rabu terbang lebih dari 700 kilometer dengan ketinggian puncak 60 km.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, militer Jepang mendeteksi kemungkinan rudal tersebut terbang dengan lintasan ireguler guna menghindari sistem pencegat udara sekutu. Dalam hal ini, insiden proyektil pada hari Selasa dari dekat Pyongyang yang menunjukkan pola terbang tidak stabil juga terus menjadi objek analisis intelijen AS dan Korea Selatan. Oleh sebab itu, ketidakpastian mengenai jenis teknologi baru yang Pyongyang gunakan meningkatkan risiko miskalkulasi keamanan di kawasan Pasifik pada tahun 2026.

Baca Juga :  Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Kritik Internasional atas Senjata Klaster

Penggunaan bom klaster oleh Korea Utara mendapatkan perhatian khusus karena dampak kemanusiaannya yang jangka panjang. Submunisi yang tidak meledak sering kali tetap menjadi ancaman bagi warga sipil selama bertahun-tahun setelah konflik berakhir.

Meskipun demikian, Korea Utara tetap bergeming dan menganggap penguatan militer sebagai hak kedaulatan yang mutlak. Pada akhirnya, rentetan uji coba senjata klaster dan elektromagnetik ini membuktikan bahwa Pyongyang tidak berniat memperlambat program modernisasi militer mereka. Dunia kini menanti apakah eskalasi teknologi ini akan memicu perlombaan senjata yang lebih agresif dari pihak Amerika Serikat dan sekutunya di Asia Timur.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aliansi Seoul-Washington: Komandan Militer AS Protes Dugaan Kebocoran Data Nuklir Korut
Kepentingan Bisnis di Atas Segalanya: Ceko Tolak Fasilitas Negara untuk Misi ke Taiwan
Gas Bocor Berujung Petaka, Ledakan Dahsyat Lukai Satu Keluarga di Pandeglang
Pulang Malam Berujung Maut, Dua Pelajar Diserang Air Keras di Bogor
Skandal Saham HYBE: Polisi Seoul Incar Penangkapan Bang Si-Hyuk atas Dugaan Penipuan $136 Juta
Pemerintah Incar Saham dan Dana $16 Juta Milik Jimmy Lai
Bareskrim Bongkar Jaringan Sabu Makassar, 5 Kg Disita, Pasutri Jadi Kurir dan Pengedar
Sikat Sabu Setengah Ton, Tim Narkoba Polda Metro Jaya Diguyur Pin Emas Kapolri

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 17:38 WIB

Aliansi Seoul-Washington: Komandan Militer AS Protes Dugaan Kebocoran Data Nuklir Korut

Rabu, 22 April 2026 - 16:27 WIB

Kepentingan Bisnis di Atas Segalanya: Ceko Tolak Fasilitas Negara untuk Misi ke Taiwan

Rabu, 22 April 2026 - 15:52 WIB

Gas Bocor Berujung Petaka, Ledakan Dahsyat Lukai Satu Keluarga di Pandeglang

Rabu, 22 April 2026 - 15:34 WIB

Pulang Malam Berujung Maut, Dua Pelajar Diserang Air Keras di Bogor

Rabu, 22 April 2026 - 15:22 WIB

Skandal Saham HYBE: Polisi Seoul Incar Penangkapan Bang Si-Hyuk atas Dugaan Penipuan $136 Juta

Berita Terbaru