BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk mengakhiri siklus kekerasan di perbatasan Lebanon-Israel kembali membentur tembok tebal. Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon sekaligus tokoh politik Syiah paling berpengaruh, menegaskan bahwa tidak akan ada jalur politik yang berjalan selama dentuman meriam masih terdengar di selatan.
Pernyataan Berri ini menjadi sinyal peringatan bagi upaya perdamaian yang sedang dimediasi oleh Amerika Serikat. Ia bersikeras bahwa penghentian perang adalah prioritas utama yang harus mendahului setiap pembicaraan diplomatik.
Gencatan Senjata yang Rapuh dan Evakuasi Paksa
Komentar keras Berri muncul bersamaan dengan langkah militer Israel yang memerintahkan penduduk di empat desa tambahan di Lebanon Selatan untuk segera mengungsi. Israel menuduh Hezbollah melanggar gencatan senjata dan menyatakan niatnya untuk mengambil tindakan militer lebih lanjut di luar zona keamanan yang mereka tetapkan sendiri.
Meskipun kesepakatan penghentian permusuhan telah diperpanjang hingga Mei, intensitas pertempuran hanya berkurang namun tidak pernah benar-benar berhenti. Israel tetap mempertahankan pendudukan di wilayah selatan dan terus melakukan pembongkaran desa-desa yang dianggap sebagai sarang operasional kelompok bersenjata. Sebaliknya, Hezbollah mengeklaim telah melakukan 11 operasi militer terhadap posisi pasukan Israel pada hari Minggu lalu.
Optimisme Trump vs Realitas di Lapangan
Di Washington, Presiden Donald Trump menunjukkan sikap yang jauh lebih optimis. Trump, yang menjamu delegasi kedua negara dalam pembicaraan bulan lalu, menyatakan yakin bahwa kesepakatan damai dapat tercapai tahun ini. Ia bahkan berencana untuk segera mempertemukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun secara langsung.
Namun, visi Trump ini menghadapi resistensi besar dari dalam negeri Lebanon. Nabih Berri dan kelompok Hezbollah secara terbuka keberatan dengan rencana pertemuan tatap muka tingkat tinggi tersebut. Di sisi lain, Presiden Joseph Aoun lebih memilih jalur pembicaraan tingkat duta besar yang berfokus pada penarikan penuh pasukan Israel, pemulangan pengungsi, dan pembebasan tawanan sebelum melangkah ke isu-isu yang lebih luas.
Perpecahan Domestik Terkait Senjata Hezbollah
Perang yang meletus sejak Maret 2022 ini tidak hanya menghancurkan fisik bangunan, tetapi juga memperdalam keretakan politik di Beirut. Muncul perdebatan sengit mengenai status Hezbollah sebagai kelompok bersenjata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Lebanon telah berupaya melakukan pelucutan senjata Hezbollah secara damai sejak tahun lalu guna mengakhiri invasi berulang dari Israel. Namun, bagi faksi pendukung Iran, eksistensi militer mereka dianggap sebagai satu-satunya perisai terhadap agresi Israel. Perbedaan mendasar ini membuat posisi tawar Lebanon dalam negosiasi internasional menjadi sangat kompleks.
Menanti Kepastian di Meja Perundingan
Dengan korban tewas di Lebanon yang telah melampaui 2.600 jiwa, kebutuhan akan perdamaian permanen menjadi sangat mendesak. Masyarakat internasional kini memantau apakah diplomasi agresif Trump mampu melunakkan sikap para pemimpin di Beirut dan Yerusalem.
Singkatnya, selama tuntutan pelucutan senjata Hezbollah dan penarikan pasukan Israel belum menemukan titik temu, gencatan senjata di tahun 2026 ini akan tetap menjadi masa jeda yang sangat rapuh. Nasib ribuan warga di perbatasan kini bergantung pada apakah dialog politik dapat berjalan tanpa bayang-bayang moncong senjata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















