Nabih Berri Tolak Negosiasi dengan Israel Selama Perang Masih Berkecamuk

Selasa, 5 Mei 2026 - 09:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Syarat mutlak perdamaian. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menegaskan tidak akan ada proses politik dengan Israel tanpa penghentian total serangan militer di wilayah selatan. Dok:  REUTERS/Mohamed Abd El Ghany/File Photo.

Syarat mutlak perdamaian. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menegaskan tidak akan ada proses politik dengan Israel tanpa penghentian total serangan militer di wilayah selatan. Dok: REUTERS/Mohamed Abd El Ghany/File Photo.

BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk mengakhiri siklus kekerasan di perbatasan Lebanon-Israel kembali membentur tembok tebal. Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon sekaligus tokoh politik Syiah paling berpengaruh, menegaskan bahwa tidak akan ada jalur politik yang berjalan selama dentuman meriam masih terdengar di selatan.

Pernyataan Berri ini menjadi sinyal peringatan bagi upaya perdamaian yang sedang dimediasi oleh Amerika Serikat. Ia bersikeras bahwa penghentian perang adalah prioritas utama yang harus mendahului setiap pembicaraan diplomatik.

Gencatan Senjata yang Rapuh dan Evakuasi Paksa

Komentar keras Berri muncul bersamaan dengan langkah militer Israel yang memerintahkan penduduk di empat desa tambahan di Lebanon Selatan untuk segera mengungsi. Israel menuduh Hezbollah melanggar gencatan senjata dan menyatakan niatnya untuk mengambil tindakan militer lebih lanjut di luar zona keamanan yang mereka tetapkan sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun kesepakatan penghentian permusuhan telah diperpanjang hingga Mei, intensitas pertempuran hanya berkurang namun tidak pernah benar-benar berhenti. Israel tetap mempertahankan pendudukan di wilayah selatan dan terus melakukan pembongkaran desa-desa yang dianggap sebagai sarang operasional kelompok bersenjata. Sebaliknya, Hezbollah mengeklaim telah melakukan 11 operasi militer terhadap posisi pasukan Israel pada hari Minggu lalu.

Baca Juga :  Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Optimisme Trump vs Realitas di Lapangan

Di Washington, Presiden Donald Trump menunjukkan sikap yang jauh lebih optimis. Trump, yang menjamu delegasi kedua negara dalam pembicaraan bulan lalu, menyatakan yakin bahwa kesepakatan damai dapat tercapai tahun ini. Ia bahkan berencana untuk segera mempertemukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun secara langsung.

Namun, visi Trump ini menghadapi resistensi besar dari dalam negeri Lebanon. Nabih Berri dan kelompok Hezbollah secara terbuka keberatan dengan rencana pertemuan tatap muka tingkat tinggi tersebut. Di sisi lain, Presiden Joseph Aoun lebih memilih jalur pembicaraan tingkat duta besar yang berfokus pada penarikan penuh pasukan Israel, pemulangan pengungsi, dan pembebasan tawanan sebelum melangkah ke isu-isu yang lebih luas.

Perpecahan Domestik Terkait Senjata Hezbollah

Perang yang meletus sejak Maret 2022 ini tidak hanya menghancurkan fisik bangunan, tetapi juga memperdalam keretakan politik di Beirut. Muncul perdebatan sengit mengenai status Hezbollah sebagai kelompok bersenjata.

Baca Juga :  OTT KPK di Banten–Jakarta: 9 Orang Dicokok, Rp900 Juta Uang Tunai Disita

Pemerintah Lebanon telah berupaya melakukan pelucutan senjata Hezbollah secara damai sejak tahun lalu guna mengakhiri invasi berulang dari Israel. Namun, bagi faksi pendukung Iran, eksistensi militer mereka dianggap sebagai satu-satunya perisai terhadap agresi Israel. Perbedaan mendasar ini membuat posisi tawar Lebanon dalam negosiasi internasional menjadi sangat kompleks.

Menanti Kepastian di Meja Perundingan

Dengan korban tewas di Lebanon yang telah melampaui 2.600 jiwa, kebutuhan akan perdamaian permanen menjadi sangat mendesak. Masyarakat internasional kini memantau apakah diplomasi agresif Trump mampu melunakkan sikap para pemimpin di Beirut dan Yerusalem.

Singkatnya, selama tuntutan pelucutan senjata Hezbollah dan penarikan pasukan Israel belum menemukan titik temu, gencatan senjata di tahun 2026 ini akan tetap menjadi masa jeda yang sangat rapuh. Nasib ribuan warga di perbatasan kini bergantung pada apakah dialog politik dapat berjalan tanpa bayang-bayang moncong senjata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan
Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah
Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo
90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga
Bocoran Spesifikasi Xiaomi 18 Mulai Beredar Luas
Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom
Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:19 WIB

Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:15 WIB

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:13 WIB

Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:56 WIB

Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:06 WIB

90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga

Berita Terbaru

Menjaga kedaulatan demokrasi. Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan hak pertahanan negara dan mendesak persetujuan pembelian senjata baru dari AS. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan

Jumat, 19 Jun 2026 - 17:19 WIB