Teori Sekuritisasi: Mantra Ajaib yang Mengubah Isu Biasa Jadi Keadaan Darurat

Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Langkah besar menuju pangkalan bulan. NASA memesan kendaraan darat dan drone otonom dari Blue Origin serta Firefly untuk mempersiapkan pangkalan permanen sebelum pendaratan astronot Artemis. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Langkah besar menuju pangkalan bulan. NASA memesan kendaraan darat dan drone otonom dari Blue Origin serta Firefly untuk mempersiapkan pangkalan permanen sebelum pendaratan astronot Artemis. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kata “keamanan” memiliki kekuatan magis dalam dunia politik. Seketika seorang pemimpin negara mengucapkan kata tersebut, aturan main berubah total. Anggaran cair tanpa perdebatan panjang, dan hak sipil warga bisa hilang dalam sekejap.

Banyak orang mengira keamanan adalah kondisi objektif. Padahal, para pemikir dari Mazhab Kopenhagen (Copenhagen School), seperti Barry Buzan dan Ole Wæver, memiliki pandangan berbeda.

Mereka memperkenalkan konsep revolusioner bernama “Teori Sekuritisasi”. Menurut teori ini, keamanan bukanlah fakta fisik, melainkan hasil dari konstruksi sosial melalui “Tindakan Bicara” (Speech Act).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mantra “Ancaman Eksistensial”

Bagaimana proses ini bekerja? Mekanismenya sangat sederhana namun mematikan. Elit politik atau aktor keamanan menunjuk sebuah isu—misalnya imigran atau virus—dan melabelinya sebagai “ancaman eksistensial”.

Mereka meyakinkan publik bahwa jika kita tidak bertindak sekarang, maka negara akan hancur. Jika audiens (rakyat) menerima klaim tersebut, maka isu itu telah berhasil “disekuritisasi”.

Baca Juga :  Kejatuhan El Mencho: Mengapa Kematian Gembong Meksiko Belum Melumpuhkan Jaringan Kartel di AS?

Akibatnya, isu tersebut keluar dari ranah politik normal. Pemerintah mendapatkan legitimasi untuk mengambil tindakan darurat. Mereka bisa melangkahi hukum, mengabaikan prosedur demokrasi, atau menggunakan kekerasan atas nama keselamatan negara.

Dari Narkoba hingga Pandemi

Kita bisa melihat contoh nyata di depan mata. Perhatikan istilah “Perang Melawan Narkoba”. Penyalahgunaan narkoba sejatinya adalah masalah kesehatan dan sosial.

Namun, pemerintah melabelinya sebagai ancaman bagi kelangsungan bangsa. Lantas, polisi dan militer turun tangan dengan senjata lengkap. Penembakan di tempat atau hukuman mati menjadi sah, sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika isu ini kita tangani sebagai masalah medis biasa.

Begitu pula dengan penanganan pandemi COVID-19. Virus corona berubah dari isu kesehatan menjadi isu keamanan nasional. Seketika, pemerintah di seluruh dunia membatasi kebebasan bergerak warganya.

Karantina wilayah (lockdown) dan pengawasan digital ketat diberlakukan. Rakyat menerimanya tanpa protes karena mereka percaya bahwa kelangsungan hidup mereka sedang terancam.

Baca Juga :  arget Berikutnya Setelah Iran: Trump Prediksi Rezim Kuba Akan Segera Runtuh

Bahaya Matinya Debat Publik

Meskipun terkadang perlu, sekuritisasi menyimpan bahaya besar bagi demokrasi. Pasalnya, proses ini mematikan debat publik yang sehat.

Saat sebuah isu sudah masuk kotak “keamanan”, kritik dianggap sebagai pengkhianatan. Misalnya, mempertanyakan anggaran militer saat perang dianggap tidak patriotik. Oposisi menjadi bungkam karena takut cap buruk.

Selain itu, terjadi militerisasi masalah sosial. Masalah yang seharusnya selesai lewat dialog atau kebijakan ekonomi, justru dihadapi dengan pendekatan keamanan yang represif.

Menolak atau Menerima?

Pada akhirnya, kita sebagai warga negara harus waspada. Tidak semua isu layak mendapatkan label “darurat”.

Kita harus kritis membedakan mana ancaman nyata yang membutuhkan respons cepat, dan mana manuver elit politik yang hanya ingin memperluas kekuasaan mereka tanpa pengawasan.

Ingatlah, sekuritisasi adalah pedang bermata dua. Ia bisa menyelamatkan negara dari kehancuran, tetapi ia juga bisa membunuh kebebasan yang susah payah kita bangun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Pemerintah Thailand berjanji memperketat kontrol senjata api usai dua penembakan mematikan dekat Bangkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Thailand Janji Perketat Kontrol Senjata Api

Kamis, 13 Agu 2026 - 07:00 WIB

Ilustrasi, langit cerah di kawasan Jakarta dan Jabodetabek saat cuaca panas pada 13 Agustus 2026.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Cuaca Jabodetabek 13 Agustus 2026 Cerah, Suhu Capai 35 Derajat

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:29 WIB

Aeon Co mengakui bahwa staf lapangan sempat mengizinkan karyawan masuk kembali ke mal yang terdampak gempa di Kumamoto. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:00 WIB