Impor 7.500 Sapi Australia Jelang Ramadan, Pemprov DKI Dinilai Abai Kemandirian Pangan

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Stok Menipis, DKI Pilih Impor 7.500 Sapi Australia Meski Kandang Terbatas. (Posnews/Dharma Jaya)

Stok Menipis, DKI Pilih Impor 7.500 Sapi Australia Meski Kandang Terbatas. (Posnews/Dharma Jaya)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jelang Ramadan kebutuhan masyarakat semakin melonjak. Rencananya Perumda Dharma Jaya akan mengimpor 7.500 ekor sapi hidup dari Australia sepanjang 2026 kembali menuai sorotan publik.

Meski diklaim untuk menjaga pasokan dan menstabilkan harga daging sapi di Jakarta, kebijakan ini dinilai belum menyentuh akar persoalan, terutama penguatan peternak lokal dan kesiapan infrastruktur kandang.

Pemprov DKI Jakarta melalui BUMD pangan tersebut menyebut impor sapi dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan daging menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun demikian, keterbatasan kapasitas kandang justru memunculkan tanda tanya besar terkait efektivitas kebijakan impor berskala besar ini.

Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengakui, kapasitas kandang di Serang saat ini hanya mampu menampung sekitar 1.300 ekor sapi.

Dengan kondisi itu, dari total rencana impor 7.500 ekor, tahap awal hanya 750 ekor sapi hidup yang bisa didatangkan.

“Untuk tahap awal, diperkirakan 750 ekor sapi hidup yang akan datang,” ujar Raditya dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).

Infrastruktur Terbatas, Impor Tetap Digenjot

Keterbatasan daya tampung ini memicu kritik, sebab Pemprov DKI justru memilih mendorong impor dalam jumlah besar, sementara infrastruktur dasar belum sepenuhnya siap.

Baca Juga :  Kunjungan Edukasi ke Perumda Dharma Jaya, Puluhan Siswa SMPN 51 Jakarta Belajar Pentingnya Ketahanan Pangan

Meski skema impor bertahap dirancang, publik menilai langkah ini berpotensi hanya menjadi solusi jangka pendek untuk menutup kekosongan pasokan.

Di sisi lain, hingga kini izin impor sapi dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) belum juga terbit. Raditya menyebut proses administrasi masih berjalan dan ditargetkan rampung akhir Januari 2026.

Setelah izin keluar, proses pembelian baru bisa dimulai pada Februari.

“Kami masih menunggu persetujuan impor dari Kemendag. Setelah itu, baru bisa mulai proses pembelian,” jelasnya.

Jika izin terbit sesuai rencana, sapi impor diperkirakan tiba di Jakarta dua hingga tiga minggu setelah transaksi. Namun, waktu yang berdekatan dengan Ramadan dinilai cukup berisiko jika terjadi hambatan perizinan atau distribusi.

Stok Sapi Menipis, Ketergantungan Impor Menguat

Lebih lanjut, Raditya mengungkapkan stok sapi Dharma Jaya hampir habis. Saat ini, perseroan hanya menyisakan sekitar 400 ekor sapi, yang sebagian besar sudah dipesan untuk kebutuhan bulan puasa.

Baca Juga :  Ramadan 2026 Aman, Polres Metro Jaksel Gelar Lari Tengah Malam Jelang Sahur

Kondisi ini memperlihatkan tingginya ketergantungan pada sapi impor, alih-alih memperkuat rantai pasok dari peternak lokal.

Padahal, upaya penguatan produksi dalam negeri dinilai lebih berkelanjutan untuk menjaga stabilitas harga.

Peternak Lokal Kembali Terpinggirkan

Dharma Jaya berdalih permintaan sapi impor datang dari pedagang yang mempertimbangkan faktor genetik dan kualitas sapi impor.

Namun, alasan tersebut kembali memantik kritik karena peternak lokal dinilai belum mendapat dukungan maksimal, baik dari sisi pembiayaan, teknologi, hingga kepastian serapan pasar.

Sejumlah pengamat pangan menegaskan, impor sapi seharusnya menjadi opsi terakhir, bukan kebijakan rutin setiap tahun.

Tanpa peta jalan yang jelas untuk memperkuat produksi lokal, kebijakan impor justru berpotensi melemahkan kemandirian pangan dan membuat Jakarta terus bergantung pada pasokan luar negeri.

Dengan rencana impor 7.500 ekor sapi yang masih menunggu izin dan keterbatasan kandang yang nyata, publik kini menanti langkah konkret Pemprov DKI Jakarta—apakah hanya fokus menjaga harga dalam jangka pendek, atau benar-benar serius membangun ketahanan pangan berkelanjutan yang berpihak pada peternak lokal dan konsumen.

Penulis : Hadwan

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Minggu Cerah di Jabodetabek, BMKG Ingatkan Warga Hadapi Panas
Empat Perusahaan Diselidiki, Pemerintah Ancam Cabut Izin Pelaku Karhutla
Duka Gempa NTT, 87 Orang Meninggal dan 150 Ribu Warga Mengungsi
Karhutla Kalimantan Membara, Prabowo Perintahkan Penindakan Tegas
Pelanggan Kecewa, Polemik Terios Turun Mesin Belum Berujung Penyelesaian
Kampus Bukan Pasar: KPK Bongkar Dugaan Transaksi Rp650 Juta di Unsoed
Jabodetabek Cerah Sabtu Ini, Warga Perlu Waspadai Terik Matahari
Terios Diduga Rusak Usai Servis, Pemilik Minta Bengkel Resmi Daihatsu Bertanggung Jawab

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:12 WIB

Minggu Cerah di Jabodetabek, BMKG Ingatkan Warga Hadapi Panas

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Empat Perusahaan Diselidiki, Pemerintah Ancam Cabut Izin Pelaku Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 14:12 WIB

Karhutla Kalimantan Membara, Prabowo Perintahkan Penindakan Tegas

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Pelanggan Kecewa, Polemik Terios Turun Mesin Belum Berujung Penyelesaian

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:18 WIB

Kampus Bukan Pasar: KPK Bongkar Dugaan Transaksi Rp650 Juta di Unsoed

Berita Terbaru

Kebakaran melanda rumah tradisional di Kampung Adat Sade Lombok Tengah. (Posnews/Ist)

DAERAH

Kobaran Api Hantam Sade, Warisan Budaya Sasak dalam Ancaman

Minggu, 23 Agu 2026 - 07:32 WIB

Ilustrasi, panas terik. (Posnews/Net)

JABODETABEK

Minggu Cerah di Jabodetabek, BMKG Ingatkan Warga Hadapi Panas

Minggu, 23 Agu 2026 - 07:12 WIB