EXETER, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, orang tua di seluruh dunia mencoba menebak atau bahkan mengatur jenis kelamin bayi mereka. Di China dan India, preferensi budaya sering kali mengarah pada bayi laki-laki. Di Barat, alasannya lebih beragam, mulai dari keinginan menyeimbangkan keluarga hingga menghindari penyakit genetik yang hanya menyerang satu jenis kelamin.
Kebijaksanaan konvensional mengajarkan bahwa sperma ayah adalah penentu tunggal. Namun, penelitian terbaru mulai menggoyahkan anggapan tersebut. Ternyata, menu makan pagi sang ibu memegang kunci rahasia.
Dua peneliti wanita, Elissa Cameron dari Universitas Pretoria dan Fiona Matthews dari Universitas Exeter, telah menemukan bukti menarik yang menghubungkan diet dengan rasio seks saat lahir.
Eksperimen Gula Darah
Pada 2007, Dr. Elissa Cameron melakukan eksperimen pada tikus yang mengubah cara kita memandang pembuahan. Ia memanipulasi kadar gula darah tikus betina sebelum konsepsi.
Hasilnya mencolok. Kelompok tikus yang kadar gula darahnya turun (dari 6,47 menjadi 5,24 milimol/liter) melahirkan lebih banyak betina (47% vs 41% pada kelompok kontrol). Cameron menyimpulkan bahwa kadar gula darah ibu yang lebih rendah menguntungkan kelahiran bayi perempuan.
Menariknya, temuan sains ini sejalan dengan mitos lama. Nenek moyang kita sering menyarankan ibu yang ingin anak perempuan untuk makan cokelat dan permen (yang menaikkan gula darah sesaat lalu turun cepat), sementara daging merah dan makanan asin (yang menjaga gula darah tinggi lebih lama) disarankan untuk mendapatkan anak laki-laki.
Efek “Sereal Sarapan”
Di Inggris, Fiona Matthews memperkuat teori ini dengan studi pada manusia. Ia memantau diet 740 wanita hamil secara rinci.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Temuannya spesifik: ibu yang mengonsumsi makanan berenergi tinggi sebelum pembuahan sedikit lebih mungkin memiliki anak laki-laki. Makanan dengan efek terbesar? Sereal sarapan.
“Di antara wanita yang makan sereal setiap hari, 59% memiliki anak laki-laki,” ungkap data studi tersebut. Sebaliknya, hanya 43% wanita yang jarang sarapan sereal (kurang dari semangkuk per minggu) yang melahirkan bayi laki-laki.
Pola ini ternyata meniru apa yang terjadi di dunia hewan. Kuda dan sapi, misalnya, secara statistik melahirkan lebih banyak jantan saat mereka mendapat pakan yang baik dan berlimpah.
Logika Evolusi: Bertahan di Masa Sulit
Fenomena ini juga menjelaskan tren demografi di negara-negara Barat. Di Inggris, kelahiran bayi laki-laki turun sebanyak 1 per 1.000 kelahiran per tahun.
Penurunan ini kemungkinan besar berkaitan dengan gaya hidup modern: makin banyak wanita dewasa dan remaja putri yang melewatkan sarapan atau menjalani diet rendah kalori.
Secara evolusioner, hal ini masuk akal. Sejarah mencatat bahwa lebih banyak laki-laki lahir di masa kelimpahan pangan, sementara perempuan lahir di masa kelangkaan.
Logikanya sederhana namun brilian: saat makanan langka, spesies lebih aman melahirkan betina karena satu jantan bisa membuahi banyak betina untuk menjaga kelangsungan populasi. Diet rendah kalori pada wanita modern secara biologis mengirim sinyal “kelangkaan” ke tubuh, sehingga memicu kelahiran lebih banyak bayi perempuan.
Jadi, kesimpulannya? Jika Anda mendambakan seorang putra, sarapan sereal rutin mungkin ide yang bagus. Sebaliknya, jika Anda menginginkan seorang putri, mungkin saatnya mengurangi porsi sarapan—setidaknya sampai pembuahan terjadi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
















