Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menghidupkan wilayah gersang. Berawal dari fenomena kondensasi di kaca bus, Charlie Paton menciptakan

Menghidupkan wilayah gersang. Berawal dari fenomena kondensasi di kaca bus, Charlie Paton menciptakan "mesin pembuat embun" raksasa yang menghasilkan air tawar dan sayuran segar hanya dengan memanfaatkan sinar matahari dan air laut. Dok: Istimewa.

ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Ide cemerlang terkadang muncul dari momen yang tidak terduga. Bagi Charlie Paton, inspirasi itu datang dari tetesan air di jendela bus saat ia melintasi gurun Maroko di tengah hujan.

Kejadian tersebut memicu rasa ingin tahu Paton. Ia mengamati bagaimana handuk yang ia sandarkan ke kaca jendela menjadi basah kuyup karena uap air. Jawabannya adalah kondensasi. Sekembalinya ke London, Paton mulai merancang peralatan yang mampu meniru proses alam tersebut guna memproduksi air tawar di wilayah pesisir yang gersang.

Cara Kerja “Mesin Embun” Raksasa

Satu dekade kemudian, mimpi Paton terwujud dalam bentuk rumah kaca raksasa di Teluk Persia. Para ilmuwan lokal bekerja sama dengan Paton untuk menanam sayuran di tempat yang pada dasarnya merupakan mesin pembuat embun raksasa.

Sistem ini memiliki tiga bagian utama yang berfungsi mendinginkan suhu sekaligus menyediakan air irigasi:

  1. Dinding Depan Lembap: Udara gurun yang panas masuk melalui dinding karton berlubang. Pompa terus mengalirkan air laut untuk menjaga kelembapan dinding tersebut. Proses ini mendinginkan dan melembapkan udara masuk, sehingga tanaman tumbuh lebih cepat dengan penguapan minimal.
  2. Atap Dua Lapis: Atap polietilen khusus membiarkan cahaya tampak masuk untuk fotosintesis. Namun, lapisan dalamnya memantulkan radiasi inframerah yang panas. Teknologi ini menjaga suhu di sekitar tanaman tetap sejuk meski di bawah terik matahari gurun.
  3. Unit Kondensasi: Di bagian belakang, udara yang sangat lembap menyentuh permukaan logam dingin hasil aliran air laut. Hal ini menciptakan tetesan air murni yang kemudian mengalir menuju tangki penyimpanan untuk menyiram tanaman.
Baca Juga :  Rusia-Ukraina Geser Fokus ke Isu Politik di Tengah Tekanan Trump

Efisiensi Tinggi dan Kemandirian Energi

Rumah kaca di Abu Dhabi ini hampir sepenuhnya berjalan secara otomatis. Sensor canggih mengatur aliran udara dan air laut berdasarkan perubahan suhu serta sinar matahari sepanjang hari. Menariknya, seluruh operasi ini hanya memerlukan daya setara dengan satu colokan listrik 13 ampere.

“Di masa depan, kami bisa membuatnya sepenuhnya independen dari jaringan listrik dengan menggunakan tenaga dari beberapa panel surya,” ujar Paton dengan optimis. Meskipun biaya konstruksi awalnya tergolong tinggi, efisiensi operasionalnya sangat mengesankan. Sistem ini mampu mendinginkan ruangan seefektif AC 500 kilowatt dengan penggunaan listrik kurang dari 3 kilowatt.

Solusi Ekonomi dan Lingkungan

Beberapa kritikus sempat menyoroti biaya pembangunan sebesar $4 per kaki persegi. Namun, Paton membuktikan bahwa biaya efektif air hasil proses ini hanya seperempat dari biaya desalinasi standar. Selain itu, tanaman di rumah kaca ini hanya membutuhkan seperdelapan dari volume air yang digunakan pada pertanian konvensional.

Baca Juga :  Mengapa Gen Z Terobsesi dengan Estetika Jadul?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, inovasi ini menawarkan cara ramah lingkungan untuk menyediakan ketahanan pangan di daerah pesisir yang kekurangan air. Marco Goldschmied, Presiden Royal Institute of British Architects, menyebutnya sebagai ide orisinal yang berpotensi mengubah hidup jutaan orang di seluruh dunia.

Menatap Masa Depan Pertanian Pesisir

Keberhasilan proyek di Abu Dhabi ini menjadi tonggak sejarah bagi teknologi hijau di tahun 2026. Di tengah ancaman krisis iklim dan kelangkaan air global, “Rumah Kaca Air Laut” memberikan bukti nyata bahwa manusia bisa bekerja sama dengan alam untuk menciptakan kemakmuran.

Singkatnya, inovasi Paton mengubah air laut yang melimpah menjadi oksigen dan makanan bagi penduduk gurun. Masyarakat internasional kini menanti adopsi skala besar dari teknologi ini untuk menghijaukan kembali wilayah-wilayah gersang di berbagai belahan dunia lainnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bagaimana Gajah Namibia Mendengar Dunia Melalui Kaki dan Belalai?
Danau Bosumtwi dan Upaya Peneliti Membaca Jejak Iklim Purba
Penembak Bripka Arya Supena di Lampung Tewas Ditembak Polisi Usai Baku Tembak
Pria Perekam Wanita Mandi di Muara Baru Ditangkap, Aksi Cabul di Toilet Umum Bikin Geger
Pencuri MacBook di Kalideres Ditangkap, Aksi Terekam CCTV Viral di Medsos
Jack Horner dan Runtuhnya Mitos T-Rex sebagai Pemburu Ulung
Evolusi Sastra Anak: Dari Doktrin Moral Menuju Kebebasan Imajinasi
Karaoke di Jakbar Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Lima Tersangka Ditahan Polisi

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:53 WIB

Bagaimana Gajah Namibia Mendengar Dunia Melalui Kaki dan Belalai?

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:46 WIB

Danau Bosumtwi dan Upaya Peneliti Membaca Jejak Iklim Purba

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:36 WIB

Penembak Bripka Arya Supena di Lampung Tewas Ditembak Polisi Usai Baku Tembak

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:17 WIB

Pria Perekam Wanita Mandi di Muara Baru Ditangkap, Aksi Cabul di Toilet Umum Bikin Geger

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:04 WIB

Pencuri MacBook di Kalideres Ditangkap, Aksi Terekam CCTV Viral di Medsos

Berita Terbaru

Melampaui pendengaran manusia. Caitlin O'Connell-Rodwell mengungkap rahasia komunikasi seismik gajah di Namibia, membuktikan bahwa raksasa darat ini mampu mendeteksi peringatan bahaya melalui getaran tanah dari jarak berkilo-kilometer. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bagaimana Gajah Namibia Mendengar Dunia Melalui Kaki dan Belalai?

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:53 WIB

Sumber: Flickr/Stig Nygaard

INTERNASIONAL

Danau Bosumtwi dan Upaya Peneliti Membaca Jejak Iklim Purba

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:46 WIB