JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Sylvana Maria, menyoroti polemik final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tingkat Kalimantan Barat yang viral di media sosial.
Sylvana menilai panitia tidak perlu mengulang lomba. Menurutnya, langkah paling adil adalah mengoreksi keputusan juri yang dinilai keliru berdasarkan fakta yang sudah beredar.
“Tidak perlu diulang. Cukup koreksi keputusan juri yang salah karena rekamannya sudah beredar luas,” kata Sylvana, Jumat (15/5/2026).
Sylvana menegaskan juri dan penyelenggara harus meminta maaf kepada dua tim peserta yang dirugikan akibat keputusan kontroversial tersebut.
Ia menilai langkah itu lebih adil dibanding mengulang seluruh kompetisi dari awal.
Selain independen, Sylvana menekankan juri juga harus kompeten dan memahami hak anak, termasuk prinsip child safeguarding saat berinteraksi dengan peserta.
Apresiasi Keberanian Ocha
Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga mengapresiasi Josepha Alexandra atau Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak yang berani menyampaikan protes secara santun saat lomba berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Sylvana, tindakan Ocha mencerminkan peran anak sebagai Pelopor dan Pelapor (2P).
KPAI mengingatkan hak anak untuk berpendapat dilindungi undang-undang nasional maupun konvensi internasional.
Sylvana menilai pelanggaran hak partisipasi anak masih sering terjadi, mulai dari pembungkaman, intimidasi, hingga perundungan oleh orang dewasa.
Ia meminta semua pihak menghormati suara anak dalam setiap ruang publik.
MPR Putuskan Final Diulang
Sebelumnya, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Ahmad Muzani memastikan final LCC 4 Pilar di Kalimantan Barat akan digelar ulang.
MPR juga menyiapkan juri independen baru yang tidak terlibat dalam kompetisi sebelumnya.
Muzani mengaku telah memanggil dan menegur dua juri yang menjadi sorotan publik akibat keputusan kontroversial tersebut.
Kasus ini ramai dibahas publik setelah video protes peserta saat final lomba viral di media sosial dan memicu kritik terhadap sistem penilaian juri. **
Editor : Hadwan












