TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Iran terperosok ke dalam kegelapan informasi total pada Kamis malam. Secara tiba-tiba, rezim memutus akses internet di seluruh negeri di tengah gelombang protes yang kian tak terbendung. Pemantau kebebasan internet NetBlocks mendeteksi langkah drastis ini sebagai sinyal panik pemerintah menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tiga tahun terakhir.
Awalnya, kondisi ekonomi yang memburuk memicu protes ini. Namun, gerakan tersebut kini telah bermetamorfosis menjadi gerakan nasional. Faktanya, demonstrasi telah mencapai seluruh 31 provinsi di Iran pada hari Kamis.
Bahkan, massa tidak lagi hanya berteriak soal harga telur. Di provinsi Fars selatan, demonstran melakukan aksi simbolik yang mengejutkan: mereka merobohkan patung mantan komandan Pasukan Quds, Qassem Soleimani. Bagi pendukung pemerintah, Soleimani adalah pahlawan mitos; sebaliknya bagi demonstran, ia adalah simbol rezim yang mereka lawan. Rekaman terverifikasi menunjukkan massa bersorak gembira saat patung itu mencium tanah.
Mogok Massal dan Korban Jiwa
Situasi di lapangan kian mencekam. Pemilik toko di wilayah Kurdi dan puluhan kota lain mematuhi seruan mogok massal dari kelompok politik oposisi. Akibatnya, jalanan sepi dari aktivitas ekonomi, namun ramai oleh teriakan perlawanan.
Sayangnya, aparat merespons dengan brutal. LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan bahwa pasukan keamanan telah menewaskan setidaknya 45 pengunjuk rasa, termasuk delapan anak-anak, sejak demonstrasi pecah akhir Desember lalu.
“Bukti menunjukkan bahwa ruang lingkup penumpasan menjadi lebih kejam dan lebih luas setiap hari,” ujar Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam. Ia menambahkan bahwa aparat melukai ratusan orang dan menangkap lebih dari 2.000 lainnya.
Di sisi lain, media pemerintah melaporkan penyerang menikam seorang kolonel polisi hingga tewas di luar Teheran. Selain itu, lima orang tewas dalam serangan terhadap kantor polisi di Chenaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Vakum Pemimpin dan Bayang-bayang Putra Shah
Berbeda dengan protes 2022 yang bersatu di bawah nama Mahsa Amini, gerakan kali ini tampak terdesentralisasi. Oleh karena itu, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, mencoba mengisi kekosongan kepemimpinan ini.
Dari pengasingan, Pahlavi menyerukan warga untuk berteriak dari jendela rumah mereka sebagai tanda perlawanan. “Berdasarkan respons Anda, saya akan mengumumkan panggilan aksi berikutnya,” ujarnya dalam video yang viral.
Meskipun tingkat dukungan riilnya belum jelas, video-video protes memperlihatkan massa yang meneriakkan namanya. Sebagai respons, laporan menyebutkan aparat keamanan mulai menggunakan drone untuk mengidentifikasi dan mendatangi rumah warga yang berpartisipasi.
Ancaman Trump dan Ekonomi “Di Tali”
Tekanan bertubi-tubi kini menjepit Pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian. Di dalam negeri, inflasi pangan melonjak 70 persen. Sementara itu, tekanan dari luar negeri terus berdatangan.
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan “memukul sangat keras” jika Teheran terus membunuh demonstran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut ekonomi Iran sudah “berada di tali” (on the ropes), mengisyaratkan keruntuhan yang kian dekat.
Teheran membalas dengan retorika tak kalah sengit. Panglima militer Iran mengancam akan melakukan serangan pendahuluan (pre-emptive strikes) terhadap negara mana pun yang mengancam kedaulatan mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















