TEHERAN/WASHINGTON/ISTANBUL, POSNEWS.CO.ID – Di tengah kepungan armada militer Amerika Serikat yang kian mendekat, Iran mengirimkan sinyal diplomatik baru. Pada hari Jumat (30/1), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran tidak mencari perang dan terbuka untuk negosiasi, namun dengan syarat ketat: harus berbasis “martabat” dan rasa saling menghormati.
Pezeshkian menyampaikan pesan ini dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
“Pendekatan Iran berakar pada diplomasi berbasis martabat (dignity-based diplomacy), penghormatan terhadap hukum internasional, dan penolakan terhadap ancaman atau paksaan,” tegas Pezeshkian.
Namun, ia tetap menyisipkan peringatan: Iran akan menyambut setiap agresi dengan respons segera dan tegas.
Deadline Misterius Trump
Di sisi lain samudra, Presiden AS Donald Trump terus menekan tombol eskalasi. Ia mengonfirmasi telah memberikan tenggat waktu (deadline) kepada Iran untuk mencapai kesepakatan. Uniknya, Trump merahasiakan kapan tenggat waktu itu berakhir.
“Hanya mereka yang tahu pasti,” ujar Trump kepada wartawan, membiarkan ketidakpastian menggantung di udara.
Trump menegaskan kembali bahwa kekuatan angkatan laut AS yang besar, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, sedang bergerak mendekat ke Iran. Washington berharap mencapai kesepakatan, namun siap untuk “hasil lain” jika pembicaraan gagal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jurang Pemisah: Uranium vs Rudal
Celah antara tuntutan kedua pihak masih menganga lebar. Washington menuntut paket lengkap: larangan pengayaan uranium, pemindahan material nuklir ke luar negeri, pembatasan rudal jarak jauh, dan penghentian dukungan untuk sekutu regional.
Teheran menolak mentah-mentah syarat tersebut.
Di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan mitranya dari Turki. Araghchi menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi. Ia menekankan kesiapan untuk pembicaraan yang “adil dan setara”, tetapi tidak di bawah bayang-bayang ancaman.
Tetangga Menutup Pintu untuk Perang
Ketakutan akan konflik yang meluas memicu manuver diplomatik regional. Kekuatan regional seperti Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Oman dilaporkan menekan Gedung Putih untuk mencegah eskalasi yang dapat mengganggu pasar energi global.
Negara-negara tetangga Iran juga mengambil langkah pengamanan diri. Azerbaijan pada hari Kamis menyatakan tidak akan pernah mengizinkan pihak mana pun menggunakan wilayah atau ruang udaranya untuk operasi militer melawan Iran. Sekutu dekat AS, Arab Saudi dan UAE, telah mengucapkan ikrar serupa.
Israel Siaga Satu
Sementara itu, Israel menempatkan aparat keamanannya dalam siaga tinggi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan konsultasi keamanan darurat dengan penasihat senior dan pejabat pertahanan.
Laporan Channel 12 Israel menyebutkan bahwa pejabat Yerusalem meyakini serangan AS—jika terjadi—kemungkinan akan fokus pada aset fisik, terutama program nuklir dan rudal Iran, bukan untuk menggulingkan rezim. Israel bersiap menghadapi kemungkinan pembalasan signifikan dari Iran jika AS melaksanakan serangan itu.
Pejabat AS menyatakan Trump masih meninjau opsinya. Perintah serangan potensial bisa turun dalam beberapa hari mendatang, begitu militer AS menyelesaikan penyebarannya di kawasan sepenuhnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















