PRAGUE, POSNEWS.CO.ID – Arah kebijakan luar negeri Republik Ceko mengalami perombakan drastis di bawah kepemimpinan baru. Perdana Menteri Andrej Babis secara resmi melarang penggunaan pesawat pemerintah bagi rencana kunjungan Ketua Senat ke Taiwan.
Dalam konteks ini, keputusan tersebut bertujuan murni guna melindungi hubungan bisnis dengan Tiongkok. Oleh karena itu, Praha kini mulai meninggalkan diplomasi berbasis nilai yang diusung oleh kabinet sebelumnya demi mengejar kedaulatan ekonomi yang lebih stabil di tahun 2026.
Pergeseran Haluan: Dari Nilai ke Pragmatisme Ekonomi
Partai populis ANO pimpinan Babis, yang berkuasa melalui koalisi sayap kanan sejak Desember lalu, secara konsisten menarik balik beberapa tujuan politik lama. Secara khusus, pemerintah telah menghentikan penggunaan anggaran negara guna menyokong militer Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.
“Kami akan mengejar kebijakan luar negeri yang pragmatis,” tegas Babis melalui media sosial pada hari Minggu. Ia menekankan bahwa diplomasi seharusnya berfungsi guna memfasilitasi perusahaan domestik dalam berbisnis, bukan sekadar mempromosikan nilai-nilai yang menurutnya justru merugikan ekonomi nasional. Akibatnya, Ceko juga menolak berpartisipasi dalam skema pinjaman Uni Eropa untuk membantu pendanaan Kyiv.
Sengketa Fasilitas: Kunjungan Taiwan via Maskapai Komersial
Ketua Senat Milos Vystrcil, yang merupakan anggota partai oposisi Demokrat Sipil, dijadwalkan memimpin delegasi bisnis ke Taipei pada Mei mendatang. Namun, berbeda dengan protokol sebelumnya, Vystrcil terpaksa harus menggunakan maskapai penerbangan komersial.
Babis melontarkan kritik tajam terhadap kunjungan-kunjungan pejabat Ceko ke Taiwan di masa lalu. Menurutnya, langkah-langkah tersebut telah “menghancurkan bisnis” dengan Tiongkok. Meskipun demikian, Republik Ceko tetap mengakui posisi Taiwan sebagai kekuatan besar dalam industri semikonduktor global. Investasi Taiwan di Ceko sebenarnya terus tumbuh, namun Babis menilai akses ke pasar daratan Tiongkok memiliki nilai strategis yang jauh lebih masif bagi stabilitas kawasan.
Ekspansi ke Asia Tengah dan Respon Tiongkok
Sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar, PM Babis mengumumkan rencana kunjungan kenegaraan ke Azerbaijan, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Terlebih lagi, Tiongkok secara konsisten mengkritik hubungan diplomatik antara Praha dan Taipei karena menganggap hal tersebut melanggar integritas wilayahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, pemerintah Taiwan di Taipei secara tegas menolak klaim kedaulatan Beijing tersebut. Sebagai hasilnya, Ceko kini berada di tengah tarikan kepentingan antara dua kekuatan ekonomi Asia. Melalui kebijakan barunya, Babis berupaya menjadikan Ceko sebagai mitra yang lebih “patuh” bagi Beijing guna menarik arus modal baru ke wilayah Eropa Tengah.
Menanti Dampak terhadap Investasi Teknologi
Masa depan stabilitas ekonomi Ceko di tahun 2026 kini bergantung pada keberhasilan narasi pragmatisme ini. Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Babis adalah membuktikan bahwa perbaikan hubungan dengan Tiongkok tidak akan membuat investor teknologi asal Taiwan menarik diri.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau seberapa jauh Praha akan menggeser posisinya dalam arsitektur keamanan Eropa. Di tengah ketidakpastian dunia, kedaulatan ekonomi melalui jalur dagang non-tradisional menjadi taruhan politik utama bagi administrasi Andrej Babis di sisa masa jabatannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















