WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Militer Amerika Serikat memperkuat kehadirannya di perbatasan Iran secara masif selama beberapa hari terakhir. Langkah ini meningkatkan risiko serangan militer nyata tepat saat kedua negara bersiap menghadapi pembicaraan kritis di Jenewa.
Kapal perang terbesar milik Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, resmi tiba di pangkalan angkatan laut NATO di Teluk Souda, Yunani, pada hari Senin. Setelah menyelesaikan pengisian ulang selama empat hari, kapal induk ini akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln. Ini menandai pengerahan dua kapal induk sekaligus untuk pertama kalinya sejak pengeboman fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.
Mobilisasi Militer dan Evakuasi Diplomatik
Situasi di lapangan menunjukkan kesiapan tempur yang sangat tinggi. Pesawat tanker pengisian bahan bakar udara dan pesawat angkut C-17 Globemaster milik AS telah tiba di Bandara Ben Gurion, Israel.
Selain itu, Departemen Luar Negeri AS mulai mengevakuasi personel non-esensial beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut. Langkah pengamanan ini petugas nilai sebagai antisipasi atas potensi pecahnya konflik regional secara mendadak. Meskipun pergerakan militer terus berjalan, suara sumbang muncul dari internal pimpinan militer Washington.
Friksi Internal Gedung Putih: Caine vs Trump
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, kabarnya memberikan peringatan keras kepada Gedung Putih. Caine mengkhawatirkan kekurangan amunisi dan minimnya dukungan dari sekutu. Ia menilai serangan terhadap Iran dapat membahayakan pasukan AS dan memicu konflik yang sangat panjang.
Namun demikian, Presiden Donald Trump segera membantah laporan tersebut melalui platform Truth Social. Trump menegaskan bahwa informasi mengenai keberatan Jenderal Caine adalah “100 persen salah”. “Saya lebih memilih sebuah kesepakatan. Namun, jika kesepakatan tidak tercapai, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara tersebut (Iran),” tegas Trump.
Respon Teheran: Ancaman Balasan dan Jendela Peluang
Di sisi lain, Iran bersumpah akan membalas setiap serangan AS dengan cara yang sengit. Pejabat militer Iran memperingatkan bahwa serangan terbatas sekalipun akan mereka anggap sebagai aksi agresi terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mendeskripsikan pertemuan Jenewa besok sebagai “jendela peluang baru”. Meskipun begitu, ia mengingatkan risiko besar konflik regional jika kedaulatan Iran terganggu. Berdasarkan laporan Reuters, Iran telah menawarkan konsesi baru dan siap menyerahkan draf proposal perjanjian nuklir kepada mediator dalam beberapa hari mendatang.
Analisis Pakar: Peran Israel dan Faktor Domestik
Para pengamat internasional masih meragukan tercapainya kesepakatan permanen. Qin Tian dari China Institutes of Contemporary International Relations menilai konsesi Iran belum bersifat komprehensif. Oleh karena itu, Washington kemungkinan besar belum akan mencabut sanksi ekonomi secara signifikan.
Qin juga menyoroti peran Israel yang tidak dapat diprediksi. Israel cenderung tidak menginginkan pencairan hubungan AS-Iran. Bahkan, Israel mungkin mengambil tindakan militer sepihak yang dapat menyeret AS ke dalam perang. Sementara itu, Profesor Niu Xinchun berpendapat bahwa Trump lebih condong pada jalur negosiasi karena tekanan politik domestik menjelang pemilu paruh waktu. Keberhasilan meja runding di Jenewa kini menjadi penentu tunggal apakah mesin perang AS akan benar-benar bergerak atau berhenti di depan gerbang Iran.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















