Korea Utara Tembakkan Rudal Pasca Penangkapan Maduro

Minggu, 4 Januari 2026 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Pelanggaran HAM sistemik. Sebuah laporan terbaru mengungkap skala eksekusi sewenang-wenang di Korea Utara, di mana warga menghadapi hukuman mati hanya karena mengonsumsi konten budaya Korea Selatan atau materi keagamaan. Dok: Istimewa.

Foto, Pelanggaran HAM sistemik. Sebuah laporan terbaru mengungkap skala eksekusi sewenang-wenang di Korea Utara, di mana warga menghadapi hukuman mati hanya karena mengonsumsi konten budaya Korea Selatan atau materi keagamaan. Dok: Istimewa.

SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Langit semenanjung Korea kembali memanas pada Minggu pagi. Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran beberapa rudal balistik oleh Korea Utara di lepas pantai timurnya. Ini adalah uji coba senjata pertama Pyongyang tahun ini, yang terjadi pada momen yang sangat krusial dan penuh simbolisme geopolitik.

Peluncuran ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro. Bagi kepemimpinan Korea Utara, skenario “pergantian rezim” paksa seperti itu adalah mimpi buruk yang telah lama mereka takutkan. Selama beberapa dekade, Pyongyang menuduh Washington berupaya menggulingkan mereka dari kekuasaan.

Sinyal “Jangan Sentuh Kami”

Kementerian Pertahanan Seoul menyatakan telah mendeteksi “beberapa proyektil, yang diduga rudal balistik” ditembakkan dari dekat ibu kota Pyongyang sekitar pukul 07.50 pagi. Kementerian Pertahanan Jepang juga mengonfirmasi deteksi tersebut, menyebut rudal mendarat di lokasi yang belum ditentukan sekitar pukul 08.08 pagi.

Baca Juga :  Polsek Kelapa Gading Bongkar Penculikan Anak di Apartemen Sherwood, Mantan Suami Ditangkap

Analis segera mengaitkan aksi ini dengan peristiwa di Amerika Latin. Hong Min, analis dari Korea Institute for National Unification, menilai operasi militer Presiden Trump terhadap Venezuela pada hari Sabtu kemungkinan besar memicu keputusan peluncuran ini.

“Mereka mungkin takut bahwa jika Amerika Serikat mau, mereka bisa melancarkan serangan presisi kapan saja, mengancam kelangsungan rezim,” kata Hong. “Pesan yang mendasarinya kemungkinan besar adalah bahwa menyerang Korea Utara tidak akan semudah serangan terhadap Venezuela.”

Pyongyang selama ini berargumen bahwa mereka membutuhkan program nuklir dan rudal sebagai penangkal (deterrent) terhadap upaya pergantian rezim oleh Washington, meskipun AS berulang kali menyangkal memiliki rencana tersebut.

Bayang-bayang Kunjungan ke China

Waktu peluncuran ini juga strategis karena mendahului keberangkatan Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, ke Beijing. Lee dijadwalkan bertemu dengan Presiden Xi Jinping, yang negaranya merupakan penyokong ekonomi utama Korea Utara. Lee berharap dapat memanfaatkan pengaruh China untuk mendukung upayanya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang.

Baca Juga :  Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, alih-alih meredakan ketegangan, Kim Jong-un justru meningkatkan suhu. Media pemerintah, KCNA, melaporkan pada hari Minggu bahwa Kim baru saja mengunjungi fasilitas pembuatan senjata taktis. Di sana, ia memerintahkan ekspansi kapasitas produksi hingga 250 persen untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh.

Modernisasi Jelang Kongres Partai

Langkah agresif ini sejalan dengan persiapan Pyongyang menggelar kongres partai berkuasa yang bersejarah dalam beberapa minggu mendatang—yang pertama dalam lima tahun. Kebijakan ekonomi serta perencanaan pertahanan dan militer kemungkinan besar akan menjadi agenda utama.

Para analis melihat peningkatan uji coba rudal belakangan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang AS dan Korea Selatan, serta menguji senjata sebelum potensi ekspor ke Rusia.

“Militer mempertahankan postur kesiapan penuh, setelah memperkuat pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan,” tegas pihak militer Seoul dalam pernyataannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: AP News

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terbaru

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB