SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Langit semenanjung Korea kembali memanas pada Minggu pagi. Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran beberapa rudal balistik oleh Korea Utara di lepas pantai timurnya. Ini adalah uji coba senjata pertama Pyongyang tahun ini, yang terjadi pada momen yang sangat krusial dan penuh simbolisme geopolitik.
Peluncuran ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro. Bagi kepemimpinan Korea Utara, skenario “pergantian rezim” paksa seperti itu adalah mimpi buruk yang telah lama mereka takutkan. Selama beberapa dekade, Pyongyang menuduh Washington berupaya menggulingkan mereka dari kekuasaan.
Sinyal “Jangan Sentuh Kami”
Kementerian Pertahanan Seoul menyatakan telah mendeteksi “beberapa proyektil, yang diduga rudal balistik” ditembakkan dari dekat ibu kota Pyongyang sekitar pukul 07.50 pagi. Kementerian Pertahanan Jepang juga mengonfirmasi deteksi tersebut, menyebut rudal mendarat di lokasi yang belum ditentukan sekitar pukul 08.08 pagi.
Analis segera mengaitkan aksi ini dengan peristiwa di Amerika Latin. Hong Min, analis dari Korea Institute for National Unification, menilai operasi militer Presiden Trump terhadap Venezuela pada hari Sabtu kemungkinan besar memicu keputusan peluncuran ini.
“Mereka mungkin takut bahwa jika Amerika Serikat mau, mereka bisa melancarkan serangan presisi kapan saja, mengancam kelangsungan rezim,” kata Hong. “Pesan yang mendasarinya kemungkinan besar adalah bahwa menyerang Korea Utara tidak akan semudah serangan terhadap Venezuela.”
Pyongyang selama ini berargumen bahwa mereka membutuhkan program nuklir dan rudal sebagai penangkal (deterrent) terhadap upaya pergantian rezim oleh Washington, meskipun AS berulang kali menyangkal memiliki rencana tersebut.
Bayang-bayang Kunjungan ke China
Waktu peluncuran ini juga strategis karena mendahului keberangkatan Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, ke Beijing. Lee dijadwalkan bertemu dengan Presiden Xi Jinping, yang negaranya merupakan penyokong ekonomi utama Korea Utara. Lee berharap dapat memanfaatkan pengaruh China untuk mendukung upayanya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, alih-alih meredakan ketegangan, Kim Jong-un justru meningkatkan suhu. Media pemerintah, KCNA, melaporkan pada hari Minggu bahwa Kim baru saja mengunjungi fasilitas pembuatan senjata taktis. Di sana, ia memerintahkan ekspansi kapasitas produksi hingga 250 persen untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh.
Modernisasi Jelang Kongres Partai
Langkah agresif ini sejalan dengan persiapan Pyongyang menggelar kongres partai berkuasa yang bersejarah dalam beberapa minggu mendatang—yang pertama dalam lima tahun. Kebijakan ekonomi serta perencanaan pertahanan dan militer kemungkinan besar akan menjadi agenda utama.
Para analis melihat peningkatan uji coba rudal belakangan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang AS dan Korea Selatan, serta menguji senjata sebelum potensi ekspor ke Rusia.
“Militer mempertahankan postur kesiapan penuh, setelah memperkuat pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan,” tegas pihak militer Seoul dalam pernyataannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: AP News
















