DUBAI, POSNEWS.CO.ID β Industri penerbangan global sedang menavigasi salah satu krisis operasional paling kompleks dalam satu dekade terakhir. Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah mengubah langit Timur Tengah menjadi “zona larangan terbang” yang melumpuhkan ribuan rencana perjalanan warga sipil.
Meskipun maskapai asal Emirat seperti Emirates dan Etihad mulai mengoperasikan kembali beberapa jadwal penerbangan pada Jumat, situasi tetap jauh dari normal. Bandara Internasional Dubai (DXB), yang biasanya menjadi hub paling sibuk di dunia, mencatatkan arus lalu lintas yang hanya mencapai 25 persen dari level normalnya.
Pengalihan Rute dan Ancaman Rudal
Risiko keamanan bagi penerbangan sipil terbukti masih sangat nyata. Sebuah jet milik Lufthansa yang sedang menuju Riyadh terpaksa mengalihkan rute (divert) ke Kairo pada Jumat pagi karena kekhawatiran faktor keamanan.
Bahkan, insiden lebih serius menimpa Air France. Sebuah penerbangan repatriasi yang pemerintah Prancis sewa terpaksa memutar balik karena deteksi tembakan misil di jalur lintasannya. Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, menyebut insiden ini sebagai cerminan dari ketidakstabilan ekstrem yang menyulitkan operasi penyelamatan warga negara asing dari kawasan konflik.
Repatriasi Massal dan Jasa Jet Pribadi
Di tengah terbatasnya layanan komersial, gelombang repatriasi sedang berlangsung di seluruh kawasan Teluk. Pesawat repatriasi pertama Inggris dari Oman berhasil mendarat di Bandara Stansted London pada Jumat dini hari setelah mengalami serangkaian penundaan.
Selain itu, krisis ini menciptakan kesenjangan akses mobilitas yang tajam. Warga kaya dilaporkan mulai beralih menggunakan jet pribadi guna menghindari kekacauan di terminal keberangkatan komersial. Sebaliknya, puluhan ribu pelancong lainnya harus menempuh perjalanan darat yang berbahaya menuju hub-hub yang lebih aman di luar zona perang guna mencari tiket pulang.
Rekor Harga Avtur $225 per Barel
Dampak finansial dari perang ini mulai mencekik neraca keuangan maskapai di seluruh dunia. Harga bahan bakar jet (avtur) di Singapura melonjak ke rekor tertinggi sebesar $225 per barel pada pekan ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, para pedagang minyak sangat mengkhawatirkan terjadinya kekurangan pasokan akibat kerusakan infrastruktur kilang di Timur Tengah. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperingatkan bahwa selain kehilangan pendapatan akibat pembatalan rute, maskapai akan terpukul oleh biaya operasional yang membengkak. Meskipun sebagian besar maskapai memiliki lindung nilai (hedging) bahan bakar sekitar 50 hingga 80 persen untuk tiga bulan ke depan, lonjakan harga yang persisten tetap akan memicu kenaikan harga tiket pesawat secara signifikan bagi konsumen global.
Gangguan Rute Eropa-Asia Pasifik
Krisis di hub Timur Tengah memukul rute dari Eropa menuju Asia-Pasifik secara telak. Data dari Cirium menunjukkan bahwa maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad biasanya mengangkut sepertiga penumpang dari Eropa ke Asia dan lebih dari separuh penumpang menuju Australia serta Selandia Baru.
Alhasil, saham-saham maskapai penerbangan dari Selandia Baru hingga Jepang mengalami kemerosotan tajam pada penutupan perdagangan Jumat. EASA telah memperpanjang peringatan risiko tinggi hingga 11 Maret 2026. CEO Lufthansa, Carsten Spohr, menegaskan bahwa perang ini sekali lagi membuktikan betapa rentannya lalu lintas udara global terhadap gejolak geopolitik. Dunia kini memantau dengan cermat apakah pemulihan operasional Emirates ke target 100 persen jaringan dapat terwujud di tengah hujan rudal yang masih membayangi langit Teluk.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















