WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengambil langkah drastis dengan merombak jajaran pimpinan keamanan nasionalnya. Trump secara resmi memecat Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, menyusul gejolak internal dan kecaman publik atas metode penegakan hukum imigrasi di kota-kota besar Amerika.
Pemecatan ini merupakan respon atas kontroversi berbulan-bulan yang menyelimuti departemen tersebut. Oleh karena itu, penunjukan penggantinya petugas nilai sebagai upaya Trump untuk memperkuat eksekusi agenda “America First” tanpa kehilangan dukungan menjelang pemilu paruh waktu (midterms) November mendatang.
Tragedi Minneapolis dan Kejatuhan Kristi Noem
Kejatuhan Noem tidak terlepas dari operasi besar-besaran DHS di berbagai kota yang dipimpin oleh Demokrat. Agen federal dikerahkan untuk menyisir lingkungan perumahan dan area publik guna memburu imigran ilegal.
Namun demikian, situasi menjadi tidak terkendali saat agen federal menembak mati dua warga negara AS, Renee Good dan Alex Pretti, di Minneapolis. Noem memicu kemarahan lintas partai karena secara terburu-buru melabeli kedua korban sebagai pelaku “terorisme domestik” sebelum investigasi selesai. Pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa firing atau pemecatan ini bukan merupakan evaluasi atas agenda Trump, melainkan kegagalan Noem dalam mengeksekusi kebijakan tersebut secara rapi.
Markwayne Mullin: Profil Menteri Baru yang Agresif
Sebagai pengganti Noem, Trump menominasikan Senator Markwayne Mullin dari Oklahoma. Mullin merupakan sosok yang sangat identik dengan citra tangguh; ia adalah seorang peternak sapi sekaligus mantan petarung bela diri campuran (MMA).
Selanjutnya, rekam jejak politiknya menunjukkan keselarasan penuh dengan visi Trump. Mullin pernah memberikan suara untuk paket pendanaan imigrasi bersejarah senilai $170 miliar tahun lalu. Ia juga dikenal vokal dalam mendukung deportasi massal. Bahkan, dalam kasus penembakan Minneapolis, Mullin tetap membela tindakan aparat dengan menyebut korban sebagai individu yang berbahaya, meskipun bukti video menunjukkan hal sebaliknya.
Stephen Miller: Sang Arsitek yang Tak Tergoyahkan
Meskipun pimpinan kementerian berganti, arah kebijakan imigrasi Amerika Serikat tetap berada di bawah kendali satu orang: Stephen Miller. Sebagai Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Miller tetap menjadi otak di balik seluruh strategi deportasi dan operasi anti-kartel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, sumber internal menyebut Miller sebagai “penyintas” dalam dinamika politik Gedung Putih. Tugas utamanya adalah memastikan bahwa perombakan di DHS tidak akan mengganggu kelanjutan agenda utama presiden. Alhasil, meskipun administrasi berjanji untuk menggunakan pendekatan yang lebih “tertarget” pasca-tragedi Minneapolis, intensitas pengamanan perbatasan petugas prediksi tidak akan mengendur.
Kebuntuan Anggaran di Capitol Hill
Nominasi Mullin kini menunggu konfirmasi dari Senat. Meskipun Partai Republik memegang mayoritas tipis, tantangan terbesar datang dari blokade pendanaan yang dilakukan oleh kubu Demokrat.
Senator Chris Murphy dari Demokrat menegaskan bahwa pemecatan Noem tidak akan mengubah sikap oposisi. Demokrat telah memblokir anggaran DHS sejak Februari guna memaksa Trump memoderasi taktik militernya di dalam negeri. Dunia internasional kini memantau dengan cermat apakah kepemimpinan Mullin mampu menembus kebuntuan politik di Washington atau justru semakin memperparah polarisasi sosial di Amerika Serikat sepanjang tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















