Pesona Abadi Game Retro: Kenapa Kita Terus Kembali ke Masa Lalu di Era Teknologi Tinggi?

Kamis, 16 Oktober 2025 - 14:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Di era grafis canggih, pesona game retro yang sederhana justru semakin kuat berkat kekuatan nostalgia dan gameplay yang abadi. Dok: Istimewa

Ilustrasi, Di era grafis canggih, pesona game retro yang sederhana justru semakin kuat berkat kekuatan nostalgia dan gameplay yang abadi. Dok: Istimewa

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia game modern menawarkan grafis fotorealistis dan dunia virtual yang sangat luas. Namun, di tengah gempuran itu, sebuah fenomena terus bertahan, bahkan semakin kuat: pesona game retro. Para pemain lama maupun generasi baru kini kembali menggemari judul-judul klasik dari era 8-bit dan 16-bit. Padahal, dulu game ini hanya bisa kita mainkan di konsol tabung.

Dari Super Mario Bros hingga Street Fighter II, game-game ini bukan sekadar piksel usang. Mereka adalah kapsul waktu dan penanda budaya. Lebih dari itu, mereka adalah bukti bahwa gameplay yang solid tidak akan pernah lekang oleh waktu. Mengapa kita masih begitu terpesona dengan kenangan masa lalu di era teknologi tinggi ini?

Nostalgia Sebagai Kekuatan Utama

Alasan utama di balik tren ini adalah nostalgia. Bagi banyak orang, game retro adalah bagian tak terpisahkan dari kenangan masa kecil. Suara koin ikonik dari Mario atau teriakan “Hadouken!” dari Ryu adalah pemicu emosi. Suara itu membawa kita kembali ke masa-masa yang lebih sederhana.

Namun, ini bukan sekadar rindu biasa. Psikolog menjelaskan bahwa nostalgia memberikan rasa nyaman dan keterhubungan. Dunia modern terasa serba cepat dan kompleks. Kesederhanaan gameplay dari game lawas justru menawarkan pelarian yang menenangkan. Tidak ada microtransactions atau kewajiban terkoneksi internet. Hanya ada kamu, controller, dan tantangan yang jelas di depan mata.

Baca Juga :  Politik Bansos: Jaring Pengaman atau Komoditas Elektoral?

Tren Retro Gaming dan Remaster

Kecintaan pada game klasik melahirkan dua tren besar di industri game:

  1. Retro Gaming Community: Komunitas penggemar game lawas tumbuh subur di seluruh dunia. Mereka aktif berburu konsol dan kartrid bekas. Mereka juga menggunakan emulator untuk memainkan game klasik di perangkat modern. Bahkan, mereka menyelenggarakan turnamen untuk game-game kompetitif dari era 90-an.
  2. Remake & Remaster: Para developer besar melihat peluang ini. Mereka mulai menghidupkan kembali franchise legendaris melalui proyek remake atau remaster. Judul seperti Final Fantasy VII Remake dan Resident Evil 2 sukses besar. Keduanya berhasil menggabungkan inti gameplay yang dicintai penggemar dengan teknologi grafis modern.

Strategi ini tidak hanya memuaskan para penggemar lama. Ia juga memperkenalkan game-game ikonik ini kepada audiens yang lebih muda, sehingga warisan mereka terus hidup.

Nilai Budaya yang Tak Tergantikan

Game retro adalah artefak budaya. Mereka mencerminkan keterbatasan sekaligus kreativitas teknologi pada masanya. Para desainer game dulu harus bekerja keras. Mereka menciptakan pengalaman yang menarik dengan sumber daya yang sangat minim. Keterbatasan inilah yang justru melahirkan gameplay inovatif dan ikonik.

Baca Juga :  Curat di Karangbahagia Bekasi, Mobil Box Perusahaan Raib Senilai Rp 137 Juta

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap game klasik membawa cerita tentang zamannya. Cerita itu meliputi musik, seni, dan bahkan kecemasan sosial saat itu. Saat kita memainkan game retro hari ini, rasanya seperti mengunjungi museum interaktif. Kita bisa merasakan langsung denyut nadi budaya pop dari dekade yang telah berlalu.

Abadi Karena Pengalaman

Pada akhirnya, orang tetap mengenang game retro bukan karena grafisnya. Mereka mengenangnya karena pengalaman yang ditawarkan. Tantangan yang adil, kontrol yang responsif, dan momen “aha!” saat berhasil melewati level sulit adalah inti dari sebuah game yang menyenangkan.

Game modern sering kali terasa terlalu rumit. Di sinilah game klasik mengingatkan kita pada esensi sejati dari bermain. Mereka membuktikan bahwa teknologi boleh terus maju. Namun, kenangan dan pengalaman yang tulus akan selalu memiliki tempat istimewa di hati para pemain.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB