JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Deru mesin ekskavator sering kali menjadi lonceng kematian bagi saksi bisu sejarah. Satu per satu, gedung tua yang menyimpan memori kolektif kota runtuh rata dengan tanah.
Tak lama kemudian, bangunan kaca modern seperti pusat perbelanjaan atau apartemen mewah berdiri menggantikannya. Fenomena ini terjadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia.
Kita seolah terobsesi dengan kebaruan dan membenci masa lalu. Padahal, setiap bata yang hancur membawa serta cerita yang tak tergantikan. Pertarungan antara beton dan kenangan ini terus berlangsung, dan sayangnya, kenangan sering kali kalah telak.
Amnesia Sejarah dan Identitas Kota
Penghancuran bangunan bersejarah bukan sekadar hilangnya benda fisik. Lebih dari itu, hal ini memicu risiko “amnesia sejarah”.
Kota tanpa bangunan tua ibarat manusia tanpa ingatan. Ia kehilangan jiwanya. Warga kota menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri karena jejak masa lalu telah terhapus bersih.
Akibatnya, identitas kota menjadi seragam dan membosankan. Jakarta, Surabaya, atau Medan perlahan terlihat sama saja: hutan beton yang dingin tanpa karakter unik yang membedakannya.
Dilema: Mahal Dirawat, Menggoda Dijual
Mengapa kita begitu tega? Tentu saja, faktor ekonomi menjadi biang kerok utamanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merawat gedung tua membutuhkan biaya yang sangat mahal dan keahlian khusus. Sementara itu, lahan di pusat kota memiliki nilai komersial yang fantastis.
Pemilik properti dan pengembang sering kali berpikir pragmatis. Bagi mereka, meruntuhkan gedung tua dan membangun ruko baru jauh lebih menguntungkan secara finansial daripada melestarikan tumpukan batu bata kuno yang “tidak produktif”.
Solusi Cerdas: “Adaptive Reuse”
Meskipun demikian, secercah harapan mulai muncul. Generasi baru mulai menyadari bahwa masa lalu bisa menjadi modal masa depan. Solusi tersebut bernama Adaptive Reuse atau penggunaan kembali secara adaptif.
Konsep ini tidak memuseumkan gedung tua menjadi tempat sunyi. Sebaliknya, konsep ini menghidupkan kembali bangunan tersebut dengan fungsi baru yang relevan dengan zaman.
Lihat saja kesuksesan M Bloc Space atau Pos Bloc di Jakarta. Bekas rumah dinas dan gedung pos yang dulu terbengkalai, kini berubah menjadi tempat nongkrong kekinian yang hits.
Pengembang mempertahankan arsitektur aslinya, tetapi mengubah isinya menjadi kafe, ruang konser, dan toko kreatif. Hasilnya, nilai ekonomi tercapai tanpa harus mengubur nilai sejarah.
Membangun di Atas Fondasi, Bukan Kuburan
Pada akhirnya, pembangunan kota tidak harus identik dengan penghancuran. Modernitas dan sejarah bisa berjalan beriringan.
Kita bisa membangun masa depan di atas fondasi masa lalu yang kokoh, bukan di atas kuburannya. Maka, hargailah setiap gedung tua yang tersisa. Jangan biarkan mereka kalah melawan beton. Ingatlah, kota yang maju adalah kota yang mampu merawat kenangannya, bukan yang melupakannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















