JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Generasi muda kini menghadapi tembok tebal dalam mewujudkan mimpi klasik orang tua mereka. Memiliki rumah pribadi rasanya semakin jauh dari jangkauan. Statistik terbaru menunjukkan tren penurunan angka kepemilikan hunian di kalangan usia produktif.
Kecemasan ini bukan tanpa alasan. Milenial dan Gen Z harus bertarung di arena ekonomi yang jauh lebih ganas ketimbang era sebelumnya. Pertanyaan besar pun muncul. Apakah rumah hanya sekadar utopia bagi generasi ini?
Jurang Menganga: Gaji vs Harga Properti
Masalah utamanya terletak pada matematika sederhana yang kejam. Kita sering mendengar istilah housing affordability crisis atau krisis keterjangkauan hunian. Fenomena ini nyata adanya.
Kenaikan harga properti melesat bak roket setiap tahunnya. Sebaliknya, kenaikan upah minimum (UMR) merangkak naik bak siput. Gap atau kesenjangan ini kian melebar seiring berjalannya waktu.
Dulu, seseorang bisa menabung gaji selama lima tahun untuk membayar uang muka. Kini, mereka mungkin butuh satu dekade hanya untuk mengejar Down Payment (DP). Inflasi properti berlari jauh lebih cepat daripada kemampuan menabung rata-rata pekerja muda. Akibatnya, daya beli mereka tergerus habis sebelum sempat memulai cicilan.
Mitos “Latte Factor” dan Beban Struktural
Banyak penasihat keuangan dari generasi tua sering menyalahkan gaya hidup. Mereka menuding kebiasaan minum kopi mahal atau latte factor sebagai biang kerok. Narasi ini menyebut anak muda boros sehingga tidak bisa beli rumah.
Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Biaya hidup struktural sebenarnya menjadi beban terbesar. Biaya sewa tempat tinggal, transportasi, dan kuota internet menyedot porsi terbesar pendapatan bulanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menghemat uang kopi sebesar Rp50.000 sehari tidak akan serta merta menutup harga rumah miliaran rupiah. Kita perlu berhenti menyalahkan gaya hidup receh. Kita harus mulai melihat masalah sistemik yang sebenarnya. Beban biaya pendidikan dan kesehatan yang meroket juga turut memperparah situasi ini.
Pilihan Sulit: Sewa Selamanya atau Tua di Jalan?
Kondisi ini memaksa anak muda mengambil pilihan-pilihan sulit. Sebagian besar akhirnya memilih tren renting forever atau menyewa selamanya. Mereka memprioritaskan fleksibilitas dan akses lokasi kerja strategis.
Kelompok ini enggan terikat utang KPR puluhan tahun. Namun, pilihan ini berarti mereka tidak memiliki aset properti di hari tua.
Sebagian lainnya memilih jalan kompromi. Mereka membeli rumah di pinggiran kota atau kawasan suburban. Harga di sana memang lebih masuk akal.
Akan tetapi, mereka harus membayar harga lain yang tak kalah mahal. Waktu mereka habis di jalan. Kemacetan dan biaya transportasi (commute) menjadi makanan sehari-hari. Kualitas hidup mereka menurun karena kelelahan fisik dan mental akibat perjalanan jauh.
Mendefinisikan Ulang Kesuksesan
Pada akhirnya, kita mungkin perlu merenungkan kembali standar kesuksesan. Masyarakat lama menganggap kepemilikan sertifikat tanah sebagai puncak pencapaian. Namun, zaman telah berubah drastis.
Generasi muda kini mulai mencari bentuk keamanan finansial lain. Mereka berinvestasi pada saham, obligasi, atau aset digital. Rumah mungkin bukan lagi satu-satunya tujuan akhir.
Memiliki tempat berteduh memang kebutuhan dasar. Namun, memaksakan diri membeli properti di tengah kondisi pasar yang tidak rasional justru bisa menjadi bumerang finansial. Kita berhak menentukan definisi sukses kita sendiri, dengan atau tanpa kepemilikan rumah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















