MELBOURNE, POSNEWS.CO.ID – Lima puluh ribu tahun lalu, Australia bukanlah benua kering seperti sekarang. Lanskap subur dengan suhu sejuk menyambut kedatangan manusia pertama.
Danau-danau air tawar di barat New South Wales (NSW) penuh dengan ikan. Selain itu, hewan-hewan raksasa atau megafauna seperti singa marsupial dan diprotodon seukuran badak berkeliaran bebas.
Namun, perubahan iklim drastis mulai terjadi sekitar 40.000 tahun lalu. Danau Mungo, yang kini hanya berupa cekungan kering berdebu, menjadi saksi bisu perjuangan manusia purba bertahan hidup dari gurun yang kian meluas.
Penemuan “Mungo Lady” dan “Mungo Man”
Geolog Profesor Jim Bowler dari Universitas Melbourne pertama kali meneliti area ini pada 1969. Ia menemukan kerangka wanita yang terkubur dengan upacara tertentu, yang kemudian dikenal sebagai “Mungo Lady”.
Lima tahun kemudian, pada 1974, Bowler menemukan kerangka kedua sejauh 300 meter dari lokasi pertama. Kerangka ini diberi nama “Mungo Man”.
Studi komprehensif Bowler menyimpulkan bahwa kedua makam tersebut berusia 40.000 tahun. Temuan ini menempatkan mereka sebagai penguburan manusia tertua di Australia dan bukti awal kecanggihan budaya di muka bumi.
Perang Teori: 40.000 vs 62.000 Tahun
Angka 40.000 tahun ini memicu kontroversi panas. Pasalnya, tim lain yang dipimpin Profesor Alan Thorne dari Australian National University sebelumnya mengklaim usia Mungo Man mencapai 62.000 tahun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Thorne adalah penentang utama teori “Out of Africa”, yang menyatakan manusia modern menyebar dari Afrika sekitar 100.000 tahun lalu. Sebaliknya, ia meyakini manusia modern berkembang dari manusia purba di beberapa tempat secara terpisah (multiregional).
Perdebatan ini meruncing pada metode penanggalan. Thorne menggunakan tiga teknik (tulang, enamel gigi, pasir), sementara Bowler mengkritik bahwa penanggalan tulang manusia “sangat tidak bisa diandalkan”.
“Usia pasir tidak sama dengan usia kuburan,” sindir Bowler, merujuk pada sampel pasir Thorne yang diambil jauh dari lokasi makam.
Siapa Pembunuh Megafauna?
Misteri kedatangan manusia ini juga terkait erat dengan kepunahan megafauna. Dr. Tim Flannery, pendukung teori “blitzkrieg”, mengklaim bahwa manusia memusnahkan hewan-hewan raksasa tersebut melalui perburuan ekstrem.
Flannery berpendapat bahwa kedatangan manusia dan kepunahan megafauna terjadi hampir bersamaan, sekitar 46.000 tahun lalu. Baginya, tidak ada bukti perubahan iklim yang cukup dramatis untuk membunuh hewan-hewan tersebut tanpa campur tangan manusia.
Akan tetapi, Bowler skeptis. Ia berargumen bahwa perubahan iklim 40.000 tahun lalu jauh lebih intens daripada yang diperkirakan sebelumnya. Menurutnya, faktor lingkungan memainkan peran penting dalam kepunahan tersebut, bukan hanya tombak pemburu.
Relevansi Hari Ini
Pada akhirnya, terlepas dari perdebatan angka tahun, Danau Mungo tetap menjadi situs warisan dunia yang tak ternilai.
“Di Danau Mungo, kita memiliki rekaman cameo tentang bagaimana manusia bereaksi terhadap perubahan lingkungan. Ini adalah salah satu kisah hebat umat manusia,” pungkas Bowler.
Penemuan ini mengajarkan kita tentang adaptasi dan ketahanan nenek moyang di tengah perubahan iklim ekstrem, sebuah pelajaran yang sangat relevan bagi kita yang hidup di era pemanasan global saat ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















