Flu Spanyol 1918 dan Pembentukan Dunia Modern

Selasa, 2 Desember 2025 - 06:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih mematikan dari Perang Dunia I, Flu Spanyol 1918 membunuh 50 juta orang. Mengapa disebut

Lebih mematikan dari Perang Dunia I, Flu Spanyol 1918 membunuh 50 juta orang. Mengapa disebut "Spanyol" padahal bukan asalnya? Simak sejarah kelam ini. Dok: The Conversation.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918 dengan meninggalkan jutaan mayat di medan tempur Eropa. Namun, musuh yang jauh lebih mematikan sedang mengintai dalam diam. Musuh itu tidak membawa senapan, melainkan virus mikroskopis.

Pandemi ini kita kenal sebagai Flu Spanyol. Faktanya, wabah ini membunuh lebih banyak orang daripada peluru dan bom selama perang itu sendiri. Estimasi sejarawan menyebut angka kematian mencapai 50 hingga 100 juta jiwa di seluruh dunia.

Dunia seolah lupa pada tragedi ini. Padahal, pandemi inilah yang sebenarnya membentuk wajah sistem kesehatan modern yang kita nikmati hari ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Korban Sensor Perang

Mengapa dunia menyebutnya “Flu Spanyol”? Ternyata, nama ini adalah sebuah kesalahpahaman sejarah yang fatal. Virus ini bukan berasal dari Spanyol.

Saat itu, negara-negara yang terlibat perang seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman memberlakukan sensor media yang ketat. Mereka melarang berita buruk yang bisa menjatuhkan moral pasukan. Oleh karena itu, koran-koran mereka bungkam soal wabah flu yang sedang menyerang tentara.

Baca Juga :  Revolusi Attentive Computing: Saat Gadget Akhirnya Belajar

Sebaliknya, Spanyol adalah negara netral yang tidak ikut berperang. Pers Spanyol bebas memberitakan penyakit misterius yang bahkan menjangkiti Raja mereka. Akibatnya, dunia mengira wabah itu hanya terjadi di Spanyol. Spanyol pun menanggung stigma nama penyakit itu sendirian.

Pembunuh Orang Muda yang Sehat

Penyebaran virus ini sangat unik dan mengerikan. Kapal-kapal tentara yang sesak menjadi inkubator sempurna. Lantas, pasukan yang pulang ke negara masing-masing membawa serta “oleh-oleh” maut ini ke setiap sudut bumi.

Anehnya, virus ini tidak mematuhi pola flu biasa. Flu musiman umumnya menyerang lansia atau anak kecil. Namun, Flu Spanyol justru membunuh kelompok usia muda yang sehat dan kuat (usia 20-40 tahun).

Sistem kekebalan tubuh mereka bereaksi terlalu agresif terhadap virus. Kondisi ini memicu badai sitokin yang justru merusak paru-paru mereka sendiri. Orang-orang muda itu tewas tenggelam oleh cairan di dalam paru-paru mereka sendiri.

Lahirnya Kesehatan Masyarakat Modern

Tragedi ini akhirnya memaksa pemerintah dunia untuk berbenah. Sebelumnya, kesehatan dianggap urusan pribadi masing-masing individu. Negara jarang campur tangan.

Baca Juga :  Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Pandemi 1918 mengubah pola pikir tersebut secara drastis. Seketika, para pemimpin sadar bahwa penyakit menular adalah ancaman keamanan nasional. Maka, mereka mulai membangun departemen kesehatan masyarakat yang terpusat.

Sistem pengumpulan data epidemiologi mulai mereka terapkan. Selain itu, konsep kedokteran sosial mulai berkembang. Negara-negara mulai merancang sistem jaminan kesehatan universal agar rakyat miskin bisa berobat.

Refleksi: 1918 vs COVID-19

Pada akhirnya, sejarah sering kali berulang. Saat COVID-19 melanda seabad kemudian, kita melihat pola yang sangat mirip. Masker, karantina wilayah, dan perdebatan tentang penutupan sekolah kembali terjadi.

Akan tetapi, ada satu perbedaan besar. Ilmu pengetahuan kita kini jauh lebih maju. Pada 1918, dokter bahkan belum tahu bahwa penyebabnya adalah virus, bukan bakteri. Mereka bekerja dalam gelap.

Kita berutang banyak pada generasi 1918. Penderitaan mereka telah meletakkan dasar bagi respons pandemi global saat ini. Ingatlah, melupakan sejarah sama saja dengan bersiap untuk mengulanginya kembali di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB