Pembicaraan Abu Dhabi Berakhir: Lampaui Ekspektasi

Minggu, 25 Januari 2026 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi dua hari hasilkan kesepakatan mekanisme pemantauan senjata tanpa NATO. Namun, jurang perbedaan soal wilayah masih menganga lebar di tengah gempuran rudal yang terus berlanjut. Dok: Istimewa.

Negosiasi dua hari hasilkan kesepakatan mekanisme pemantauan senjata tanpa NATO. Namun, jurang perbedaan soal wilayah masih menganga lebar di tengah gempuran rudal yang terus berlanjut. Dok: Istimewa.

ABU DHABI/KIEV, POSNEWS.CO.ID – Pembicaraan damai tiga pihak (trilateral) pertama antara Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina sejak eskalasi konflik 2022 akhirnya rampung pada hari Sabtu (24/1). Setelah dua hari negosiasi intensif di Abu Dhabi, para delegasi pulang dengan membawa hasil yang campur aduk: optimisme teknis yang berbenturan dengan realitas politik yang keras.

Pertemuan yang tertutup rapat dari media ini menghadirkan tokoh-tokoh kunci. Di kubu AS, utusan presiden Steve Witkoff dan menantu Donald Trump, Jared Kushner, memimpin pembicaraan. Rusia diwakili oleh kepala intelijen militer Igor Kostyukov. Sementara Ukraina mengirimkan Kepala Staf Presiden Kyrylo Budanov dan Kepala Dewan Keamanan Nasional Rustem Umerov.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menjadi pemimpin pertama yang memecah keheningan. Melalui platform X, ia menyebut percakapan tersebut “konstruktif”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Banyak yang dibahas… Para peserta mengakui perlunya pengawasan AS, baik dalam proses perdamaian maupun implementasi pengaturan keamanan di masa depan,” tulis Zelenskyy.

Baca Juga :  Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran

AS: “Melampaui Ekspektasi”

Pejabat Amerika Serikat menyuarakan nada yang jauh lebih positif. Mengutip sumber media, mereka menggambarkan suasana di ruang sidang sebagai “sangat optimis dan positif”. Bahkan, mereka mengklaim hasil diskusi telah “melampaui ekspektasi”.

Sebagai tindak lanjut, pertemuan lanjutan tentatif telah dijadwalkan pada 1 Februari mendatang, kembali bertempat di Abu Dhabi.

Kemajuan Militer vs Kebuntuan Politik

Sumber yang mengetahui jalannya negosiasi mengungkapkan kepada China Media Group (CMG) bahwa pembicaraan terbagi menjadi dua jalur: kelompok kerja politik dan militer.

Di kelompok militer, kemajuan nyata tercapai. Kedua pihak membahas pelepasan pasukan (troop disengagement) dan mekanisme pemantauan gencatan senjata.

Awalnya, delegasi Rusia menolak keras keterlibatan NATO, OSCE, atau negara Eropa pendukung Ukraina dalam mekanisme pemantauan apa pun. Namun, kompromi akhirnya tercapai. Moskow setuju pada kerangka kerja yang hanya melibatkan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat.

Sebaliknya, di kelompok politik, jurang perbedaan masih menganga lebar. Isu teritorial tetap menjadi hambatan tersulit.

Baca Juga :  Proyek East Wing White House Senilai $400 Juta

Rusia bersikeras pada tuntutan kuncinya: penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas. Di sisi lain, Ukraina mempertahankan posisi bahwa diskusi teritorial harus berdasarkan garis kontak saat ini (current line of contact).

Perang Berjalan Terus

Ironisnya, saat para diplomat berbicara damai di ruangan ber-AC di Abu Dhabi, perang di lapangan justru memanas.

Pada hari Sabtu, hari kedua pembicaraan, Zelenskyy menuduh Rusia meluncurkan serangan udara skala besar semalam suntuk. Rudal menghantam Kiev, Sumy, Kharkiv, dan Chernihiv, merusak fasilitas energi dan menewaskan setidaknya satu orang.

Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi serangan tersebut. Mereka mengklaim telah menargetkan fasilitas industri militer, infrastruktur energi, serta depot amunisi Ukraina.

Analis menilai perjanjian damai komprehensif masih jauh dari jangkauan dalam waktu dekat. Namun, kesepakatan terbatas mengenai gencatan senjata lokal atau pertukaran tawanan bisa menjadi langkah awal penting untuk membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertikai.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB