Pemerintah dan Oposisi Jepang Mulai Tarik Janji Potong Pajak Konsumsi

Jumat, 24 April 2026 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah dan oposisi Jepang mulai melunakkan rencana pengurangan pajak konsumsi. Dok: Istimewa.

Pemerintah dan oposisi Jepang mulai melunakkan rencana pengurangan pajak konsumsi. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Harapan warga Jepang akan penurunan beban pajak konsumsi kini mulai memudar. Koalisi pemerintah dan blok oposisi secara mengejutkan mulai melunakkan janji-janji politik mereka terkait penghapusan pajak makanan.

Dalam konteks ini, langkah mundur ini terjadi saat ekonomi Jepang menghadapi tantangan ganda: defisit anggaran kronis dan guncangan harga energi global. Oleh karena itu, para pemimpin politik di Tokyo kini berupaya merumuskan rencana yang lebih masuk akal guna menjaga stabilitas fiskal pada tahun 2026.

Ambisi Takaichi dan Bottleneck Sistem Kasir

Perdana Menteri Sanae Takaichi sebelumnya menyebut pembekuan pajak konsumsi pangan sebagai “ambisi pribadi yang sudah lama ia dambakan”. Namun, sejak memenangkan mandat besar pada pemilu 8 Februari lalu, Takaichi justru cenderung bungkam mengenai isu sensitif tersebut.

Secara khusus, hambatan teknis menjadi salah satu alasan utama kegagalan implementasi pajak 0%. Industri ritel melaporkan bahwa sistem mesin kasir saat ini tidak dirancang guna menangani penghapusan pajak secara total secara instan. Sebagai hasilnya, muncul usulan kompromi untuk memangkas tarif pajak pangan menjadi 1% dari nol persen, guna mempermudah penyesuaian sistem teknologi ritel nasional.

Baca Juga :  Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82

Krisis Energi Timur Tengah dan Tekanan Inflasi

Dinamika internasional memberikan tekanan tambahan bagi kebijakan domestik Jepang. Perang antara blok AS-Israel melawan Iran telah mengganggu navigasi di Selat Hormuz secara masif. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam dan memicu inflasi tinggi di Jepang.

Lebih lanjut, Jepang sangat rentan karena mengimpor lebih dari 90% minyak mentahnya dari Timur Tengah. Ketua Partai Demokrat untuk Rakyat (DPP), Yuichiro Tamaki, menekankan bahwa lingkungan ekonomi telah “berubah drastis”. Oleh sebab itu, pemerintah harus memprioritaskan kebijakan yang mampu meredam disrupsi pasokan energi daripada sekadar merangsang ekonomi melalui pemotongan pajak yang berisiko memperparah inflasi.

Konsensus Lintas Partai dan Kekhawatiran Keidanren

Guna mencari jalan keluar, sebuah “Dewan Nasional” lintas partai telah resmi dibentuk oleh pemerintah untuk membahas revisi pajak pangan. Laporan awal dari dewan ini dijadwalkan terbit pada musim panas mendatang. Meskipun demikian, kelompok bisnis berpengaruh, Keidanren, memberikan catatan peringatan yang sangat keras.

Baca Juga :  Satpam Rumah Sakit di Serang Jadi Kurir, Polisi Sita 423 Gram Sabu dan 50 Ekstasi

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, Keidanren mendesak pemerintah guna mempertimbangkan kondisi fiskal negara yang kian rapuh. Sekretaris Jenderal Aliansi Reformasi Sentris, Takeshi Shina, meragukan ketersediaan sumber pendanaan yang permanen. “Tanpa sumber pendapatan yang jelas, kita tidak bisa mempertahankan tarif nol persen selamanya,” ujar Shina. Akibatnya, kebijakan yang hanya berjalan setengah jalan justru dikhawatirkan memicu kemarahan publik di masa depan.

Kesimpulan: Realisme di Atas Populisme

Masa depan beban hidup rumah tangga di Jepang kini bergantung pada hasil perundingan dewan nasional tersebut. Pada akhirnya, pemerintah Takaichi tampaknya lebih memilih jalur realisme ekonomi daripada memenuhi janji populis yang sulit dibiayai pemerintah.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau seberapa efektif Jepang mampu menavigasi krisis energi tahun 2026 ini. Kedaulatan fiskal menjadi taruhan utama saat otoritas berupaya menjaga daya beli masyarakat tanpa menghancurkan struktur anggaran negara di tengah anarki politik global saat ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Armada Kapal Perang Tiongkok Terobos Jalur Strategis Okinawa
AS Jajaki Pemindahan 1.100 Pengungsi Afghanistan ke DR Kongo
Pendakwah SAM Jadi Tersangka Pencabulan, Korban Diduga Santri Dijanjikan ke Mesir
Rekening Narkoba Rp10 Miliar Digulung Bareskrim, Eks Napi Jadi ‘Bank Berjalan’
Empat Tewas di Lebanon Saat Israel-Beirut Memulai Negosiasi Washington
Uni Eropa Matangkan Rencana Pertahanan Mandiri Tanpa AS
Rekening ‘Boneka’ Jaringan Koko Erwin Putar Rp211 Miliar, Bareskrim Ciduk Warga Deli Serdang
Paus Leo Tutup Tur Afrika dengan Kecaman Ketimpangan Ekonomi

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 14:07 WIB

Pemerintah dan Oposisi Jepang Mulai Tarik Janji Potong Pajak Konsumsi

Jumat, 24 April 2026 - 13:00 WIB

Armada Kapal Perang Tiongkok Terobos Jalur Strategis Okinawa

Jumat, 24 April 2026 - 11:56 WIB

AS Jajaki Pemindahan 1.100 Pengungsi Afghanistan ke DR Kongo

Jumat, 24 April 2026 - 11:25 WIB

Pendakwah SAM Jadi Tersangka Pencabulan, Korban Diduga Santri Dijanjikan ke Mesir

Jumat, 24 April 2026 - 11:00 WIB

Rekening Narkoba Rp10 Miliar Digulung Bareskrim, Eks Napi Jadi ‘Bank Berjalan’

Berita Terbaru

Ilustrasi, Tiongkok mengerahkan armada tempur melalui Selat Yonaguni-Iriomote sebagai balasan atas transit kapal perusak Jepang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Armada Kapal Perang Tiongkok Terobos Jalur Strategis Okinawa

Jumat, 24 Apr 2026 - 13:00 WIB

Pilihan di tengah keputusasaan. Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan pengiriman 1.100 pengungsi sekutu Afghanistan dari Qatar ke Republik Demokratik Kongo. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

AS Jajaki Pemindahan 1.100 Pengungsi Afghanistan ke DR Kongo

Jumat, 24 Apr 2026 - 11:56 WIB