JAKARTA, POSNEWS.CO.ID β Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia belum berakhir.
Di tengah upaya pemadaman, ribuan hektare lahan masih terbakar dan menyisakan bara api yang berisiko kembali menyala, terutama di kawasan gambut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 25.409 hektare lahan terbakar hingga Sabtu (24/10/2026) pukul 15.00 WIB. Dari total tersebut, sekitar 17.942 hektare atau lebih dari 70 persen masih belum padam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemantauan melalui sistem informasi geografis juga mendeteksi 13.910 titik panas di berbagai wilayah. Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti pembaruan pemantauan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan petugas terus memperkuat penanganan, terutama di daerah yang masih memiliki area kebakaran luas.
βData ini bersifat sementara dan dapat berubah sesuai pembaruan pemantauan,β kata Berton, Minggu (25/10/2026).
Kalimantan Tengah Jadi Prioritas, Ribuan Hektare Masih Membara
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan beban penanganan karhutla terbesar dalam data tersebut.
BNPB mencatat 8.049 titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 13.944 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 11.786 hektare masih belum padam.
Meski demikian, terdapat perkembangan positif. Dibandingkan hari sebelumnya, jumlah titik panas di Kalimantan Tengah turun sekitar 52 persen, sedangkan luas lahan yang belum padam berkurang sekitar 43 persen.
Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk menghentikan operasi pemadaman.
Petugas masih harus memastikan bara api benar-benar padam, khususnya di kawasan gambut yang berpotensi menyimpan panas di bawah permukaan tanah.
βMeski menunjukkan penurunan, pemadaman dan pendinginan harus terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa, khususnya di lahan gambut,β ujar Berton.
Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat Masih Terancam
Selain Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat juga membutuhkan penanganan intensif.
Di Sumatera Selatan, BNPB mencatat 1.335 titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 3.429 hektare. Sekitar 2.472 hektare di antaranya masih belum padam.
Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat 1.137 titik panas dengan luas kebakaran sekitar 2.500 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.547 hektare masih belum padam.
Kebakaran juga masih terpantau di Kalimantan Selatan dan Papua Selatan. Kalimantan Selatan mencatat 362 titik panas dengan luas terbakar 526 hektare, termasuk 317 hektare yang belum padam.
Adapun Papua Selatan mencatat 487 titik panas dengan luas lahan terbakar 310 hektare. Sekitar 117 hektare di antaranya masih belum padam.
BNPB juga melaporkan titik panas dan kebakaran lahan di Sulawesi Tenggara, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, serta Maluku Utara.
Titik Panas Turun Belum Berarti Api Padam
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat penurunan jumlah titik panas sebagai ukuran keberhasilan penanganan karhutla. Petugas juga perlu menghitung luas lahan yang terbakar dan area yang masih menyisakan api.
Sebab, titik panas yang berkurang belum tentu diikuti penyusutan luas kebakaran. Karena itu, petugas harus memastikan setiap area yang terbakar mendapat penanganan hingga tuntas.
Untuk mempercepat pemadaman, BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait mengerahkan personel gabungan, melakukan pemadaman darat, serta memanfaatkan helikopter water bombing dan pesawat patroli.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi atmosfer.
Khusus di lahan gambut, petugas harus melakukan pemadaman dan pembasahan berulang. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya terlihat sudah padam.
Jika bara masih tersisa, kebakaran berpotensi kembali muncul dan memperluas dampak kerusakan.
BNPB juga menyesuaikan penempatan armada udara antardaerah berdasarkan kebutuhan di lapangan. Langkah tersebut tetap memperhitungkan kecukupan dukungan di wilayah asal serta keselamatan penerbangan.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Di tengah upaya petugas memadamkan kebakaran, BNPB mengimbau masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Warga juga diminta segera melaporkan jika menemukan api dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Karhutla bukan hanya merusak vegetasi dan ekosistem, tetapi juga dapat menimbulkan asap yang mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat.
Karena itu, pencegahan dan pelaporan dini menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran meluas.
BNPB menegaskan, keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari menurunnya jumlah titik panas. Petugas harus memastikan luas lahan yang belum padam terus berkurang dan api tidak kembali muncul.
Dengan kondisi tersebut, pemadaman dan pendinginan masih menjadi pekerjaan penting, terutama di Kalimantan Tengah serta wilayah lain yang menyisakan kebakaran luas. **
Editor : Hadwan













