Perang Mata Uang Digital: CBDC vs Kripto dalam Sistem Keuangan Global

Minggu, 30 November 2025 - 18:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masa depan uang sedang dipertaruhkan. Negara luncurkan CBDC untuk lawan dominasi Bitcoin. Siapa yang akan menang: kontrol negara atau kebebasan desentralisasi? Dok: Istimewa.

Masa depan uang sedang dipertaruhkan. Negara luncurkan CBDC untuk lawan dominasi Bitcoin. Siapa yang akan menang: kontrol negara atau kebebasan desentralisasi? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Uang tunai perlahan mulai kehilangan takhtanya. Dompet fisik kita semakin tipis, tergantikan oleh aplikasi di ponsel pintar. Namun, revolusi ini bukan sekadar tentang kemudahan membayar kopi dengan scan QR.

Di balik layar, sedang terjadi perang besar memperebutkan kendali sistem keuangan masa depan. Bank Sentral di seluruh dunia mulai gerah melihat popularitas mata uang kripto seperti Bitcoin.

Lantas, mereka meluncurkan senjata tandingan bernama Central Bank Digital Currency (CBDC). China memimpin barisan ini dengan agresif melalui Yuan Digital. Negara tidak lagi hanya mencetak uang kertas, mereka kini mengodekan uang negara ke dalam blockchain versi mereka sendiri.

Efisiensi atau Alat Mata-Mata?

Tujuan negara menerbitkan CBDC terdengar sangat mulia. Pertama, mereka menjanjikan efisiensi pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan murah. Kedua, mereka ingin meningkatkan inklusi keuangan bagi rakyat yang belum tersentuh bank.

Akan tetapi, ada agenda tersembunyi yang membuat pegiat privasi merinding. CBDC memberikan kemampuan pengawasan total kepada pemerintah. Berbeda dengan uang tunai yang anonim, CBDC meninggalkan jejak digital yang permanen.

Baca Juga :  Lapas Narkotika Jakarta Bongkar Modus Baru Penyelundupan Sabu Lewat Pembalut

Negara bisa melacak setiap sen uang yang warga belanjakan. Bahkan, mereka secara teknis bisa memblokir transaksi atau membekukan dompet digital warga yang “bermasalah” hanya dengan satu klik.

Mematikan Pesaing Desentralisasi

Munculnya CBDC juga merupakan respons defensif negara. Pasalnya, popularitas aset kripto desentralisasi seperti Bitcoin dan Ethereum terus meroket.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah memandang kripto sebagai ancaman serius. Bitcoin menawarkan sistem keuangan yang bebas dari campur tangan negara dan bank sentral. Tentu saja, hal ini membuat regulator ketar-ketir karena mereka kehilangan kendali atas kebijakan moneter.

Oleh sebab itu, banyak negara berharap CBDC bisa “mematikan” pesona kripto swasta. Mereka menawarkan keamanan dan stabilitas yang dijamin negara, sesuatu yang tidak dimiliki oleh Bitcoin yang fluktuatif.

Jalan Tikus Menghindari Sanksi

Implikasi internasional dari CBDC jauh lebih kompleks. Teknologi ini membuka peluang bagi negara-negara tertentu untuk melepaskan diri dari jeratan sanksi Barat.

Baca Juga :  Mantan Senator Divonis Penjara Karena Bius Rekan Parlemen

Rusia dan Iran, misalnya, sangat tertarik mengembangkan mata uang digital ini. Tujuannya jelas, mereka ingin menciptakan jalur pembayaran yang tidak melewati sistem perbankan global yang dikuasai Amerika Serikat (SWIFT).

Jika CBDC lintas batas terwujud, dominasi Dolar AS bisa tergerus. Negara bisa berdagang secara langsung (peer-to-peer) tanpa perantara bank koresponden di New York.

Siapa yang Mengontrol Masa Depan?

Pada akhirnya, masa depan uang sudah pasti berbentuk digital. Pertanyaan besarnya bukan lagi “kapan”, melainkan “siapa”.

Siapa yang akan memegang kendali atas uang digital tersebut? Apakah komunitas global yang terdesentralisasi seperti dalam visi Bitcoin? Atau, justru negara dengan kekuasaan absolut melalui CBDC?

Kita sedang berdiri di persimpangan jalan sejarah. Maka, pilihan masyarakat dalam mengadopsi teknologi ini akan menentukan apakah masa depan keuangan kita akan lebih bebas atau justru lebih terkekang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara
Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi
Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung
Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik
Inggris Pertimbangkan UU untuk Hapus Andrew Mountbatten-Windsor dari Garis Suksesi

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:57 WIB

ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:37 WIB

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:52 WIB

Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:39 WIB

Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi

Berita Terbaru

Zelensky sedang memberikan pidato pada konferensi beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:37 WIB