118 Ribu Warga Mengungsi di Tengah Gempuran Udara Pakistan-Afghanistan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 22:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecahnya garis perbatasan. Pakistan meluncurkan serangan udara ke jantung kekuatan Taliban di Kandahar, memicu aksi balasan masif dan eksodus ratusan ribu pengungsi di tengah bulan suci Ramadan. Dok: Istimewa.

Pecahnya garis perbatasan. Pakistan meluncurkan serangan udara ke jantung kekuatan Taliban di Kandahar, memicu aksi balasan masif dan eksodus ratusan ribu pengungsi di tengah bulan suci Ramadan. Dok: Istimewa.

ISLAMABAD, POSNEWS.CO.ID – Pasukan Pakistan dan Afghanistan terlibat dalam baku tembak sengit di puluhan titik sepanjang garis perbatasan pada Jumat. Pertempuran ini memperburuk stabilitas di kawasan Asia Selatan yang kini juga sedang terdampak oleh eskalasi militer di wilayah Iran.

Kedua negara menunjukkan sikap yang tidak kenal kompromi. Akibatnya, pertempuran kali ini petugas nilai sebagai salah satu konfrontasi fisik terberat dalam sejarah hubungan kedua negara selama satu dekade terakhir. Militer Pakistan mengonfirmasi penggunaan jet tempur guna menghantam instalasi pemerintah Taliban, termasuk pangkalan udara Bagram yang terletak di utara Kabul.

Gempuran di Kandahar dan Balasan Taliban

Sumber keamanan Pakistan melaporkan bahwa operasi darat dan udara mereka secara spesifik menyasar kota Kandahar. Wilayah ini merupakan pusat spiritual sekaligus tempat tinggal bagi para pimpinan inti kelompok Taliban.

Merespons serangan tersebut, Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan bahwa pasukan mereka berhasil menghantam balik berbagai instalasi militer Pakistan di sepanjang perbatasan sepanjang 2.600 kilometer. Bahkan, milisi Taliban mengeklaim telah menghancurkan sejumlah pos perbatasan dan menembak jatuh satu pesawat nirawak (drone) milik Pakistan. Di Provinsi Balochistan, Taliban juga melaporkan serangan terhadap pangkalan militer Pakistan, meskipun pihak Islamabad belum mengonfirmasi adanya kerusakan fisik di wilayah tersebut.

Baca Juga :  Xi Jinping Surati Veteran Perang Zimbabwe

Tragedi Pengungsian di Bulan Ramadan

Krisis kemanusiaan meledak dengan sangat cepat akibat intensitas peperangan yang tinggi. Badan pengungsi PBB (UNHCR) mengonfirmasi bahwa sekitar 115.000 orang di Afghanistan dan 3.000 orang di Pakistan telah melarikan diri dari rumah mereka dalam satu pekan terakhir.

Situasi terasa sangat memilukan bagi warga di kota-kota perbatasan. Warga melaporkan bahwa hujan artileri biasanya dimulai tepat setelah matahari terbenam. Pasalnya, hal ini memaksa ribuan keluarga untuk meninggalkan rumah mereka tepat saat mereka hendak menyantap hidangan buka puasa di bulan suci Ramadan. “Rumah-rumah hancur tepat saat kami duduk bersama untuk membatalkan puasa,” ujar salah seorang pengungsi kepada Reuters.

Kebuntuan Diplomasi: Pakistan Tolak Negosiasi

Meskipun beberapa negara seperti Turki telah menawarkan diri sebagai mediator, peluang gencatan senjata tampak sangat tipis. Juru bicara pemerintah Pakistan, Mosharraf Zaidi, menegaskan bahwa tidak akan ada dialog untuk mengakhiri konflik ini dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Sakral vs Viral: Dilema Pelestarian Upacara Adat di Era Konten Digital

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tidak ada yang perlu didiskusikan. Tidak akan ada dialog dan tidak akan ada negosiasi,” tegas Zaidi melalui stasiun televisi resmi negara. Oleh karena itu, Pakistan menaruh seluruh beban tanggung jawab pada Kabul guna menghentikan perlindungan bagi kelompok militan yang beroperasi dari tanah Afghanistan. Pakistan bersikeras bahwa agresi militernya merupakan bentuk perlindungan diri yang sah terhadap ancaman terorisme lintas batas.

Hingga saat ini, data korban jiwa masih simpang siur. Misi PBB di Afghanistan mencatat sedikitnya 56 warga sipil tewas, sementara pemerintahan Taliban mengeklaim angka yang lebih tinggi yakni 110 kematian. Pakistan menolak seluruh angka tersebut dengan dalih bahwa operasi mereka hanya menargetkan infrastruktur militer dan teroris secara presisi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pria Tewas Bersimbah Darah di Bintaro, Polisi Temukan Pistol di Tangan Korban
Kapolri Ajak Masyarakat Dukung Langkah Prabowo Jaga Perdamaian Dunia
Viral Tawuran Kembang Api 2 Kelompok Pemuda di Cilincing, Ini Penjelasan Polisi
Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka
Jusuf Kalla Minta Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis dan Belanja Negara
Milisi Kurdi Siapkan Serangan Darat ke Iran dengan Restu AS dan Israel
Perang Iran Lumpuhkan Penerbangan Global dan Picu Rekor Harga Avtur
Industri Musik Berduka, Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:48 WIB

Pria Tewas Bersimbah Darah di Bintaro, Polisi Temukan Pistol di Tangan Korban

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:32 WIB

Kapolri Ajak Masyarakat Dukung Langkah Prabowo Jaga Perdamaian Dunia

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:19 WIB

Viral Tawuran Kembang Api 2 Kelompok Pemuda di Cilincing, Ini Penjelasan Polisi

Sabtu, 7 Maret 2026 - 22:16 WIB

118 Ribu Warga Mengungsi di Tengah Gempuran Udara Pakistan-Afghanistan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 21:11 WIB

Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Berita Terbaru

Konflik melintasi samudra. Kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan frigat terbaru Iran, IRIS Dena, di lepas pantai Sri Lanka. Peristiwa ini menandai eskalasi militer pertama yang melibatkan torpedo sejak Perang Dunia II. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Sabtu, 7 Mar 2026 - 21:11 WIB