Raja Charles III Serukan Persatuan di Tengah Keretakan Aliansi AS-Inggris

Rabu, 29 April 2026 - 19:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan tingkat tinggi di Washington. Raja Charles III memulai kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan diplomatik yang merenggang akibat perbedaan pandangan politik dan isu keamanan global. Dok: Istimewa.

Pertemuan tingkat tinggi di Washington. Raja Charles III memulai kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan diplomatik yang merenggang akibat perbedaan pandangan politik dan isu keamanan global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Raja Charles III mencatatkan sejarah sebagai monarki Inggris kedua yang berpidato di hadapan Kongres Amerika Serikat. Para anggota dewan menyambut kedatangan sang Raja dengan tepuk tangan meriah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pesan persatuan yang kuat saat hubungan diplomatik Washington dan London sedang mengalami ujian berat.

“Apa pun perbedaan kita, apa pun ketidaksepakatan yang mungkin muncul, kita berdiri bersatu dalam komitmen untuk menegakkan demokrasi,” ujar Raja Charles III. Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap rakyat. Penghormatan kepada mereka yang bertugas demi negara tetap menjadi prioritas utama kedua bangsa.

Komitmen Terhadap Demokrasi dan Aliansi

Raja Charles III menggambarkan Kongres AS sebagai “benteng demokrasi”. Lembaga ini mewakili suara seluruh rakyat Amerika untuk memajukan hak dan kebebasan suci. Ia menyampaikan pidato tersebut atas saran pemerintah Inggris. Namun, sumber Istana Buckingham menyebutkan bahwa nada dan bahasa pidato banyak berasal dari pemikiran pribadi sang Raja sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kunjungan empat hari ini bertujuan menggarisbawahi ikatan sejarah selama 250 tahun sejak kemerdekaan Amerika. Namun, perbedaan pandangan mengenai konflik militer di Iran kini membayangi agenda tersebut. Trump mengejek Perdana Menteri Keir Starmer sebagai sosok yang “bukan Winston Churchill”. Hal ini karena Starmer enggan bergabung dalam ofensif militer di Iran.

Baca Juga :  Sepak Bola Putri Indonesia Bangkit, Agnes Maria: World Cup Bukan Lagi Mimpi

Ketegangan Diplomatik Terkait Perang Iran

Keretakan antara kedua sekutu ini semakin terlihat nyata di balik kemegahan seremonial. Trump secara terbuka mengkritik sekutu-sekutu NATO, termasuk Inggris. Ia menilai mereka kurang memberikan bantuan dalam operasi militer melawan Iran. Ketegangan ini bahkan merembet ke isu sensitif lainnya. Muncul laporan bahwa Washington sedang meninjau kembali dukungannya terhadap klaim Inggris atas Kepulauan Falkland.

Situasi semakin memanas setelah media melaporkan komentar informal Duta Besar Inggris, Christian Turner. Ia menyebut bahwa satu-satunya “hubungan spesial” AS saat ini kemungkinan hanyalah dengan Israel. Kantor luar negeri Inggris membantah hal tersebut sebagai sikap resmi pemerintah. Namun, isu ini telah menimbulkan kegaduhan di kalangan diplomat kedua negara.

Simbolisme Sejarah di Tengah Friksi Politik

Raja Charles dan Ratu Camilla menghadiri resepsi luar ruangan di Gedung Putih sebelum berpidato di Capitol Hill. Dalam momen tersebut, Presiden Trump menekankan evolusi persahabatan kedua bangsa. Mereka berubah dari lawan dalam perang kemerdekaan menjadi saudara seperjuangan yang menyelamatkan dunia pada Perang Dunia II.

“Para prajurit yang dulunya saling memanggil Redcoats dan Yankees menjadi Tommies dan GI,” ujar Trump di South Lawn. Mereka bersama-sama menyelamatkan dunia bebas sebagai saudara. Setelah pertemuan tertutup di Oval Office, Trump memuji Raja Charles sebagai “pribadi yang fantastis”. Ia menyebut pertemuan tersebut berjalan sangat baik.

Baca Juga :  Amerika Serikat Gempur Iran dan Donald Trump Ancam Bom

Kontroversi “Hubungan Spesial” dan Keamanan

Kunjungan ini berlangsung di bawah pengawasan keamanan yang sangat ketat. Hal ini menyusul percobaan pembunuhan terhadap presiden pada akhir pekan lalu. Ibu Negara Melania Trump menyatakan dirinya dalam kondisi baik saat menyambut pasangan kerajaan. Saat ini, sebagian area Gedung Putih masih dalam tahap konstruksi besar-besaran untuk pembangunan ruang dansa baru.

Kedua pemimpin bertukar hadiah yang sangat simbolis sebagai bentuk penghormatan sejarah. Raja Charles memberikan faksimile rencana desain meja Resolute tahun 1879. Meja ikonik di Oval Office ini terbuat dari kayu kapal Inggris. Sebagai balasan, Trump memberikan faksimile surat tahun 1785 dari John Adams kepada Raja George III. Surat tersebut berisi janji persahabatan abadi setelah perang kemerdekaan Amerika berakhir.

Diplomasi di Titik Kritis

Pemerintah akan menutup rangkaian acara ini dengan jamuan kenegaraan pertama di Gedung Putih sejak renovasi besar-besaran. Mereka telah melakukan pertukaran simbolis dan pidato megah. Namun, tantangan nyata tetap ada pada penyelarasan kebijakan luar negeri antara pemerintahan Trump dan kabinet Starmer.

Dunia kini menanti apakah pesona personal Raja Charles III mampu meredakan ketegangan politik. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, persimpangan antara tradisi monarki dan realitas politik praktis menjadi ujian terbesar. Hal ini menguji kelangsungan “hubungan spesial” antara dua raksasa transatlantik ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal
BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:52 WIB

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Berita Terbaru