Pidato Tahun Baru Lai Ching-te: Bersiap untuk yang Terburuk

Kamis, 1 Januari 2026 - 16:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Blokade di udara. Presiden Taiwan Lai Ching-te membatalkan kunjungan bersejarah ke Eswatini setelah Tiongkok menekan sejumlah negara Afrika guna mencabut izin lintas udara bagi pesawat kepresidenan. Dok: Istimewa.

Blokade di udara. Presiden Taiwan Lai Ching-te membatalkan kunjungan bersejarah ke Eswatini setelah Tiongkok menekan sejumlah negara Afrika guna mencabut izin lintas udara bagi pesawat kepresidenan. Dok: Istimewa.

TAIPEI, POSNEWS.CO.ID – Temperatur politik di Asia Timur mendidih di awal tahun ini. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, pada hari Kamis menegaskan tekad bulat wilayahnya untuk mempertahankan kedaulatan. Pernyataan tegas ini meluncur hanya dua hari setelah Beijing menembakkan roket ke arah pulau itu sebagai bagian dari latihan militer masif.

Saat menyampaikan pidato Tahun Baru secara langsung dari kantor kepresidenan di Taipei, Lai menekankan bahwa mata dunia kini menyorot rakyat Taiwan. Menurutnya, komunitas internasional menanti bukti apakah warga Taiwan memiliki nyali untuk mempertahankan diri dari ekspansi China yang kian agresif.

Tahun 2026: Titik Krusial

Lai menyoroti urgensi waktu dalam menghadapi ancaman geopolitik ini. Merujuk pada laporan AS yang memprediksi China akan memiliki kemampuan memenangkan perang perebutan Taiwan pada 2027, Lai memberikan penilaiannya sendiri.

“Tahun mendatang, 2026, akan menjadi tahun yang krusial bagi Taiwan,” ujarnya. Lebih jauh, ia memegang filosofi pertahanan yang realistis: Taiwan harus “menyusun rencana untuk kemungkinan terburuk, namun tetap berharap hasil terbaik.”

Baca Juga :  YouTuber Resbob Ditangkap Polda Jabar di Jatim, Kasus Ujaran Kebencian

Anggaran Pertahanan $40 Miliar Terganjal

Di tengah ancaman nyata, Lai mendesak partai-partai oposisi agar menyingkirkan perbedaan politik sejenak. Ia meminta dukungan penuh untuk proposal peningkatan belanja pertahanan Taiwan sebesar $40 miliar.

Sayangnya, proposal vital ini masih macet di parlemen tempat kubu oposisi memegang kendali, terjebak dalam kebuntuan politik domestik. Padahal, Lai meyakini kesiapan militer merupakan kunci untuk mencegah miskalkulasi dari pihak Beijing.

Teror “Misi Keadilan 2025”

Lai menyampaikan pidatonya di tengah bayang-bayang latihan militer China bersandi “Justice Mission 2025” (Misi Keadilan 2025). Latihan ini mencatatkan rekor terbesar berdasarkan cakupan wilayah dan jarak terdekat dengan Taiwan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

China meluncurkan puluhan roket ke arah Taiwan serta mengerahkan armada kapal perang dan jet tempur dalam jumlah besar. Manuver ini memaksa otoritas Taiwan membatalkan puluhan penerbangan komersial domestik serta mengirim jet tempur dan kapal perang untuk memantau situasi. Taipei pun mengutuk aksi ini sebagai provokasi terang-terangan yang mengancam keamanan regional.

Baca Juga :  Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Faktor Pemicu: Paket Senjata AS

Eskalasi ini tidak muncul di ruang hampa. China memulai manuvernya 11 hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket senjata senilai $11,1 miliar untuk Taiwan—sebuah angka rekor baru. Untuk pertama kalinya, militer China secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menggelar latihan tersebut guna mencegah “intervensi luar”.

Syarat Dialog dan Retorika Penyatuan Xi

Meskipun bersiap menghadapi perang, Lai tetap membuka lebar pintu diplomasi. “Kami bersedia terlibat dalam pertukaran dan kerja sama dengan China atas dasar kesetaraan dan martabat,” tegas Lai. Syaratnya jelas: China harus mengakui keberadaan Republik China (Taiwan) dan menghormati cara hidup demokratis rakyatnya.

Sebaliknya, nada dari seberang selat tetap keras. Dalam pidato Tahun Barunya pada Rabu malam, Presiden China Xi Jinping mengulangi peringatan tajam kepada kelompok yang Beijing sebut sebagai “kekuatan separatis”. Xi kembali menegaskan narasi bahwa “penyatuan kembali” China dengan Taiwan merupakan hal yang mustahil terhentikan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam
BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:29 WIB

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:04 WIB

Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga

INTERNASIONAL

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB