JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kamera menyala, musik latar sedih mengalun, dan lensa menyorot wajah lelah seorang pemulung di pinggir jalan. Sang konten kreator lantas mendekat dan menyerahkan sejumlah uang.
Si pemulung menangis haru, mencium tangan si pemberi, dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Seketika, video tersebut meledak di media sosial. Jutaan orang menontonnya dan memberikan pujian kepada si pembuat konten.
Pemandangan ini mungkin terasa menyentuh hati bagi sebagian orang. Namun, bagi para pengamat sosial, ini adalah bentuk eksploitasi baru bernama “Poverty Porn”. Kemiskinan seseorang dijadikan komoditas hiburan demi mendulang views dan uang iklan (AdSense).
Eksploitasi Berkedok Inspirasi
Batas antara menginspirasi kebaikan dan mengeksploitasi penderitaan kini semakin kabur. Faktanya, banyak kreator melakukan aksi sosial bukan murni karena empati. Sebaliknya, mereka melihat kemiskinan sebagai ladang konten yang menguntungkan.
Mereka tahu bahwa video yang memancing air mata akan menghasilkan interaksi tinggi. Akibatnya, penderitaan orang lain dikemas sedemikian rupa agar terlihat dramatis.
Motif ekonomi sering kali menjadi pendorong utama. Ironisnya, pendapatan iklan dari video tersebut sering kali jauh lebih besar daripada nominal sedekah yang mereka berikan kepada si miskin.
Wajah yang Tak Bisa Menolak
Aspek paling kejam dari fenomena ini adalah pelanggaran privasi. Wajah-wajah penerima bantuan dipampang jelas tanpa sensor di ruang publik digital.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, mereka berada dalam posisi rentan yang tidak memungkinkan untuk menolak. Mereka butuh uang tersebut untuk makan. Oleh karena itu, mereka terpaksa menukar martabat dan privasi mereka demi bertahan hidup.
Nahasnya, jejak digital itu akan abadi. Anak cucu mereka kelak bisa melihat video tersebut. Rasa malu itu mungkin akan menghantui mereka selamanya, hanya karena mereka pernah menjadi objek konten seseorang.
Skeptisisme: Kebaikan atau Pencitraan?
Reaksi publik pun mulai terbelah. Dulu, netizen mudah terharu. Kini, skeptisisme mulai tumbuh subur. Orang mulai bertanya-tanya tentang ketulusan di balik kamera.
“Apakah mereka masih mau berbuat baik jika kameranya dimatikan?”. Pertanyaan sinis ini wajar muncul. Pasalnya, kita sering melihat kasus di mana kreator bersikap kasar atau acuh tak acuh begitu proses syuting selesai.
Kebaikan yang seharusnya tulus berubah menjadi pertunjukan. Lantas, nilai kemanusiaan terdegradasi menjadi sekadar naskah drama reality show.
Mengembalikan Esensi Berbagi
Pada akhirnya, kita perlu merenungkan kembali esensi dari sedekah. Agama dan etika mengajarkan prinsip luhur: “biarlah tangan kanan memberi, tanpa tangan kiri mengetahuinya”.
Membantu sesama adalah kewajiban moral. Akan tetapi, menjaga martabat penerima bantuan juga sama pentingnya. Jangan sampai kita memberi makan perut mereka, tetapi di saat bersamaan kita melukai harga diri mereka.
Maka, berhentilah menjadikan kemiskinan sebagai tontonan. Matikan kamera Anda, lalu berbagilah. Percayalah, kebaikan yang tulus tidak membutuhkan validasi dari tombol “Subscribe”.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















