Prabowo Gelar Pertemuan 4 Jam di Istana, Bedah Eskalasi Konflik Iran dan Dampaknya

Rabu, 4 Maret 2026 - 07:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan dengan SBY, Jokowi dan tokoh nasional di Istana Merdeka membahas dampak perang Iran terhadap Indonesia. (Posnews/Ist)

Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan dengan SBY, Jokowi dan tokoh nasional di Istana Merdeka membahas dampak perang Iran terhadap Indonesia. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para mantan presiden, wakil presiden, hingga ketua umum partai politik dalam silaturahmi dan diskusi tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam (3/3/2026).

Pertemuan selama hampir empat jam itu langsung membahas isu panas: eskalasi konflik Timur Tengah dan dampaknya bagi Indonesia.

Dalam forum strategis tersebut, Prabowo Subianto memaparkan perkembangan geopolitik global terkini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fokus utama diskusi mengerucut pada serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta potensi meluasnya perang di kawasan tersebut.

Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengungkapkan, Presiden memberikan briefing komprehensif kepada seluruh peserta.

“Presiden menyampaikan update berbagai perkembangan dunia, khususnya perang atau serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Kami membahas implikasinya terhadap Indonesia dan dunia,” kata Hassan, Rabu (4/3/2026).

Dampak Perang Iran Dibedah: Minyak hingga Stabilitas Global

Tak hanya membicarakan aspek keamanan dan perdamaian dunia, Prabowo juga mengajak peserta menghitung dampak ekonomi global.

Terutama, potensi gangguan suplai minyak dan gas yang bisa memicu gejolak harga energi internasional.

Baca Juga :  Saiful Mujani Tantang Balas Opini, Bukan Lapor Polisi - Polemik Seruan ‘Jatuhkan Prabowo’

Menurut Hassan, forum tersebut menganalisis secara detail efek perang terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Kami memperhitungkan semua kemungkinan, termasuk berapa lama perang ini akan berlangsung dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian kita,” ujarnya.

Selain itu, Presiden juga menyoroti melemahnya efektivitas tatanan global di tengah konflik yang kian kompleks.

Karena itu, ia membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi para tokoh nasional untuk menyampaikan pandangan dan masukan.

“Presiden sangat terbuka terhadap usulan dan pemikiran peserta. Beliau ingin semua persoalan strategis dikomunikasikan secara transparan,” tegas Hassan.

Sikap Indonesia Tegas, Hitung Ulang Mandat Perdamaian

Dalam diskusi itu, peserta juga menyinggung posisi Indonesia terhadap konflik Iran. Hassan menilai serangan yang terjadi bersifat sepihak dan tidak memiliki mandat internasional yang jelas.

Forum juga membahas keberlanjutan inisiatif Board of Peace (BoP) di tengah situasi yang memanas. Pemerintah, kata Hassan, akan menghitung ulang efektivitas mandat tersebut sesuai perkembangan terbaru di lapangan.

Baca Juga :  Hari Ibu 2025, Puan Maharani Ajak Perempuan Jaga Lingkungan Demi Masa Depan Bangsa

“Kami melihat apakah perang di Iran ini berpotensi melemahkan posisi dan mandat BoP. Semua opsi kami pertimbangkan,” jelasnya.

Sejumlah tokoh penting tampak hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, serta Wakil Presiden ke-9 RI Boediono.

Hadir pula Ketua Umum KADIN Anindya Bakrie, Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchari, para ketua umum partai koalisi, mantan menteri luar negeri, serta jajaran menteri Kabinet Merah Putih.

Di tengah dunia yang makin terpolarisasi, Prabowo memilih memperkuat konsolidasi nasional. Ia menegaskan Indonesia harus tetap solid di dalam negeri dan konstruktif di panggung internasional.

Melalui forum ini, pemerintah menunjukkan keseriusan membaca arah konflik global sekaligus menyiapkan langkah antisipatif.

Indonesia pun menegaskan posisinya sebagai negara yang tenang, terukur, dan aktif mendorong perdamaian dunia (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat
Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok
Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?
Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang
E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:26 WIB

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Juni 2026 - 16:21 WIB

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Juni 2026 - 15:02 WIB

Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?

Senin, 8 Juni 2026 - 14:51 WIB

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Juni 2026 - 12:39 WIB

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Berita Terbaru

Ujian kedaulatan di Kaukasus. Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilu parlemen untuk menentukan arah masa depan geopolitik negara mereka antara Barat dan Rusia. Dok: AP Photo/Anthony Pizzoferrato)

INTERNASIONAL

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Jun 2026 - 17:26 WIB

Ketegangan baru di Selat Taiwan. Penjaga pantai Taiwan mengusir empat kapal pemerintah Tiongkok yang menerobos wilayah perairan selatan mereka setelah aksi saling lempar peringatan keras. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Jun 2026 - 16:21 WIB

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Jun 2026 - 14:51 WIB