Puluhan Negara Dukung Latihan Militer China di Taiwan

Kamis, 1 Januari 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah berani Beijing di Shanghai. Presiden Xi Jinping menawarkan teknologi AI terbuka untuk menantang pengaruh Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

Langkah berani Beijing di Shanghai. Presiden Xi Jinping menawarkan teknologi AI terbuka untuk menantang pengaruh Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Gelombang dukungan diplomatik mengalir ke Beijing. Kementerian Luar Negeri China mengungkapkan bahwa beberapa lusin negara telah menyatakan dukungan dalam berbagai bentuk terhadap tindakan China di kawasan Taiwan, Rabu (24/12/2025).

Dukungan ini muncul tepat setelah Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar pulau Taiwan. Lantas, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, memberikan apresiasi tinggi atas solidaritas tersebut dalam konferensi pers rutin.

Negara-negara yang secara terbuka menyuarakan dukungan antara lain Rusia, Kuba, Serbia, Venezuela, Zimbabwe, dan Pakistan. Intinya, mereka menegaskan kembali komitmen terhadap prinsip satu-China.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mereka menentang campur tangan eksternal dalam urusan dalam negeri China dan mendukung upaya China untuk membela kedaulatan nasional serta integritas wilayahnya,” jelas Lin.

Penolakan Mutlak “Kemerdekaan Taiwan”

Pesan dari negara-negara sahabat China tersebut sangat spesifik. Mereka mencatat bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Oleh karena itu, masalah Taiwan adalah urusan internal China semata.

Baca Juga :  Amerika Serikat dan Iran Rilis Dokumen Damai Sementara

“Kemerdekaan Taiwan dalam bentuk apa pun harus ditolak,” tegas Lin mengutip posisi negara-negara tersebut.

Merespons hal ini, Beijing kembali menegaskan tekad bajanya. Lin menyatakan China tidak akan pernah goyah dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

“China tidak akan pernah goyah dalam tekadnya untuk mencegah kekuatan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’ berkolusi dengan kekuatan eksternal dan mendestabilisasi Selat Taiwan,” peringatnya.

Bahkan, Lin memberikan ultimatum kepada pihak mana pun yang mencoba melewati batas atau melakukan provokasi. China siap memberikan respons tegas, dan segala upaya menahan reunifikasi China dipastikan akan gagal.

Implikasi: Polarisasi Tajam di Asia Pasifik

Dukungan blok negara ini terhadap manuver militer China membawa implikasi serius bagi stabilitas keamanan di Asia Pasifik. Berikut adalah analisis dampaknya:

  1. Pembentukan Blok Kekuatan Rival: Dukungan terbuka dari Rusia, Pakistan, dan sekutu lainnya mempertegas garis demarkasi geopolitik. Kini, Asia Pasifik semakin terpolarisasi menjadi dua kubu: blok pimpinan AS-Jepang yang mendukung status quo Taiwan, dan blok pimpinan China-Rusia yang mendukung reunifikasi. Polarisasi ini meningkatkan risiko konflik proksi di masa depan.
  2. Normalisasi Latihan Militer: Dukungan internasional ini memberikan legitimasi politik bagi Beijing. Akibatnya, latihan militer skala besar di sekitar Taiwan berpotensi menjadi “normal baru”. Hal ini akan terus menekan ruang gerak Taiwan dan menguji kesabaran militer AS serta sekutunya di kawasan.
  3. Dilema Keamanan ASEAN: Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) akan menghadapi tekanan yang semakin berat untuk memilih pihak. Meskipun ASEAN berusaha netral, eskalasi militer di utara akan mengganggu jalur perdagangan laut vital yang menopang ekonomi kawasan.
  4. Risiko Salah Perhitungan (Miscalculation): Dengan semakin banyaknya aktor militer yang terlibat dan retorika yang kian tajam, risiko insiden tak sengaja di laut atau udara meningkat drastis. Sebuah kesalahan kecil dalam manuver militer bisa memicu eskalasi konflik yang tidak terkendali, menyeret kekuatan nuklir ke dalam konfrontasi langsung.
Baca Juga :  Trump Tolak Proposal Damai Iran Saat Krisis Energi Global Memburuk

Pada akhirnya, solidaritas yang ditunjukkan kepada China menegaskan bahwa isu Taiwan bukan lagi sekadar sengketa lokal, melainkan titik api utama dalam persaingan tatanan dunia baru.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama
AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa
Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang
Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan
Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak
AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa
DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia
Bank of Japan Bersiap Naikkan Suku Bunga Utama

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 14:59 WIB

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama

Jumat, 18 September 2026 - 13:30 WIB

AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa

Jumat, 18 September 2026 - 12:23 WIB

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang

Jumat, 18 September 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan

Jumat, 18 September 2026 - 10:12 WIB

Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak

Berita Terbaru

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Produksi Kelapa Sawit Kalimantan Diproyeksi Anjlok 15 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:20 WIB