JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Matahari adalah bintang terdekat kita yang mendominasi langit dari jarak “hanya” 150 juta kilometer. Meskipun terlihat berukuran sama dengan bulan purnama, Matahari sebenarnya 400.000 kali lebih terang.
Bintang raksasa ini mengatur siklus siang dan malam di Bumi. Selain itu, Matahari menyumbang 99,9 persen massa total seluruh sistem tata surya. Oleh karena itu, gravitasi Matahari yang sangat kuat mampu menarik semua planet, bulan, hingga komet untuk tetap berada pada orbitnya.
Mesin Fusi Nuklir Einstein dan Eddington
Sumber energi Matahari sempat menjadi misteri besar bagi para ilmuwan selama berabad-abad. Namun, teori relativitas khusus Einstein pada tahun 1905 mulai membuka tabir mengenai potensi fusi nuklir.
Selanjutnya, astronom Inggris Sir Arthur Eddington menyadari bahwa kondisi di inti Matahari sangat ekstrem. Tekanan hebat dan panas yang luar biasa memungkinkan inti atom saling bertabrakan. Untuk mempertahankan output energinya, Matahari mengubah 600 miliar kilogram hidrogen menjadi helium setiap detik. Proses ini menciptakan suhu inti yang mencapai 15 juta derajat Celsius.
Struktur Berlapis Sang Bintang
Energi dari inti Matahari melakukan perjalanan panjang melalui berbagai lapisan sebelum mencapai Bumi. Pertama, energi tersebut melewati zona radiasi melalui transfer molekuler. Setelah itu, gas panas memindahkan energi ke zona konveksi di mana gas mulai mendingin dan tenggelam kembali.
Di lapisan terluar zona konveksi terdapat fotosfer, yang merupakan permukaan Matahari setebal 500 kilometer. Di luar fotosfer, terdapat lapisan gas tipis yang ilmuwan sebut sebagai kromosfer. Terakhir, korona membentang jauh ke luar sebagai lapisan gas terluar Matahari yang sangat panas.
Ancaman Badai Matahari bagi Bumi
Matahari terkadang melepaskan erupsi massa yang sangat besar. Energi magnetik yang kuat dapat memanaskan awan partikel bermuatan dan membentuk Coronal Mass Ejection (CME).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awan partikel ini dapat meluncur menuju Bumi dan memicu badai geomagnetik yang hebat. Fenomena ini biasanya tiba di Bumi antara 15 jam hingga dua hari setelah erupsi terjadi. Meskipun atmosfer melindungi kita, badai ini tetap menjadi ancaman serius bagi satelit dan infrastruktur komunikasi. Bahkan, ledakan Matahari yang sangat kuat berisiko menyebabkan pemadaman listrik massal di berbagai belahan dunia.
Akhir Perjalanan: Dari Raksasa Merah ke Katai Putih
Para astronom memahami nasib akhir Matahari melalui observasi objek lain yang lebih berevolusi di galaksi kita. Matahari masih memiliki cukup bahan bakar hidrogen untuk tetap bersinar selama enam miliar tahun ke depan.
Namun, pasokan bahan bakar tersebut pada akhirnya akan habis. Saat fase itu tiba, Matahari akan berubah menjadi raksasa merah. Ukurannya akan membengkak hingga menelan planet Merkurius dan Venus, serta membuat kondisi Bumi menjadi sangat ekstrem. Akhirnya, selubung luarnya akan meluas menjadi nebula planet. Matahari kemudian akan menyisakan inti panas berupa bintang katai putih yang perlahan mendingin dan memudar menjadi bola materi gelap yang padat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















