WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump naik ke mimbar Kongres pada Selasa malam untuk menyampaikan pidato kenegaraan tradisional, State of the Union. Momen ini datang saat kepemimpinannya berada dalam fase paling rentan sejak kembali ke Gedung Putih.
Trump menghadapi berbagai tekanan politik berat, baik di dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, pidato primetime ini menjadi kesempatan terakhirnya untuk meyakinkan pemilih menjelang pemilu paruh waktu (midterm) November mendatang.
Krisis Domestik: Inflasi dan Kekalahan Hukum
Administrasi Trump baru saja melewati pekan yang sangat bergejolak. Mahkamah Agung secara resmi membatalkan rezim tarif globalnya. Selain itu, data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan yang melambat drastis saat inflasi justru meningkat tajam.
Guna mengatasi keresahan warga soal biaya hidup, Trump berencana mengumumkan kebijakan baru yang menargetkan industri teknologi. Pemerintah akan mewajibkan perusahaan teknologi membayar kenaikan biaya listrik di komunitas tempat perusahaan membangun pusat data AI baru. Selanjutnya, Trump mengeklaim kemenangan ekonomi dengan menyalahkan pendahulunya, Joe Biden, atas tingginya harga-harga barang saat ini.
Agenda Perang: Membangun Opini Melawan Iran
Salah satu bagian paling krusial dari pidato ini adalah upaya Trump membangun dukungan publik untuk intervensi militer di Iran. Pejabat Washington melaporkan bahwa Amerika Serikat kini semakin dekat dengan konflik bersenjata terkait program nuklir Teheran.
Trump telah memerintahkan pergerakan kapal perang ke Timur Tengah. Bahkan, sumber internal menyebutkan bahwa rencana militer tersebut mencakup opsi “perubahan pemerintahan” di Iran. Ironisnya, pidato ini bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi Rusia ke Ukraina—perang yang dahulu Trump klaim bisa ia selesaikan dalam waktu 24 jam saja.
Boikot Demokrat dan Skandal yang Menghantui
Pengamat memprediksi ledakan ketegangan politik di Capitol Hill selama pidato berlangsung. Lebih dari 20 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat dari Partai Demokrat memboikot acara tersebut. Mereka lebih memilih menghadiri unjuk rasa di National Mall guna memberikan “deskripsi jujur” atas kinerja Trump.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa enam dari sepuluh warga Amerika menganggap Trump semakin tidak menentu seiring bertambahnya usia. Skandal perilisan berkas Jeffrey Epstein memperburuk masalah ini dan terus membayangi Gedung Putih. Gubernur Virginia, Abby Spanberger, memberikan tanggapan resmi dari oposisi, sementara Senator Alex Padilla memberikan sanggahan dalam bahasa Spanyol.
Pada akhirnya, dunia menanti apakah Trump akan tetap mengikuti skenario atau kembali melakukan improvisasi panjang. Mengingat pidato sebelumnya mencatatkan rekor durasi 100 menit, publik memprediksi sesi kali ini akan menguji stamina fisik dan politik sang presiden di hadapan seluruh rakyat Amerika.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















