Republik Blokade Resolusi Anti-Perang Saat Wacana Pemakzulan Trump Menguat

Sabtu, 11 April 2026 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Eskalasi politik di ibu kota Amerika Serikat mencapai titik didih baru pada Kamis pagi. Partai Republik secara resmi memblokade upaya Partai Demokrat untuk mencabut wewenang perang Presiden Donald Trump terhadap Iran.

Dalam konteks ini, Perwakilan Chris Smith memimpin sesi singkat di DPR yang menghentikan langkah Demokrat sebelum pemungutan suara berlangsung. Oleh karena itu, ketegangan antara cabang eksekutif dan legislatif mengenai kontrol militer kini memasuki babak krisis konstitusional yang serius di tahun 2026.

Ancaman “Kematian Peradaban” dan Konvensi Jenewa

Kekhawatiran Demokrat memuncak setelah Presiden Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial awal pekan ini. Trump mengancam bahwa “seluruh peradaban akan mati” jika Teheran tidak segera menyerah. Dalam hal ini, para kritikus menyoroti bahwa ancaman semacam itu melanggar Konvensi Jenewa 1949.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mengancam genosida bukanlah sebuah taktik negosiasi,” tegas Perwakilan Sara Jacobs dari California. Bahkan, puluhan anggota parlemen kini menuntut pencopotan Trump dari jabatannya. Mereka menilai penargetan infrastruktur sipil yang esensial secara sengaja merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat Washington toleransi.

Baca Juga :  Guru PPPK di Sumsel Dibunuh di Kontrakan OKU, Tangan-Kaki Terikat

Kembalinya Wacana Pemakzulan dan Amendemen ke-25

Untuk pertama kalinya dalam periode kedua kepemimpinannya, istilah “impeachment” kembali bergema di lorong-lorong Kongres. Meskipun demikian, Demokrat sebelumnya sangat berhati-hati dalam menyuarakan isu ini guna menghindari serangan balik dari pemilih.

Namun, situasi berubah drastis setelah Trump mengancam akan mengebom Iran kembali ke “Zaman Batu”. Selain itu, muncul desakan penggunaan Amendemen ke-25 guna menonaktifkan presiden secara sementara. Perwakilan Madeleine Dean menyebut pemakzulan sebagai instrumen sah untuk mengendalikan presiden yang ia nilai tidak bermoral. “Ada daftar panjang kejahatan berat dan pelanggaran ringan yang telah ia lakukan,” tegas Dean.

Barter Anggaran: Rudal Patriot vs Asuransi Kesehatan

Strategi baru Demokrat kini adalah menghubungkan kebijakan luar negeri yang agresif dengan kesulitan ekonomi rumah tangga. Sebagai hasilnya, mereka menyoroti ketimpangan biaya antara operasi militer di Timur Tengah dengan kesejahteraan domestik.

Baca Juga :  Rekor Dunia K-pop: Ekspor Album Tembus US$120 Juta di Kuartal I 2026

Secara spesifik, Perwakilan James Walkinshaw membandingkan biaya penggunaan rudal Patriot. Satu rudal Patriot berharga jutaan dolar hanya untuk mencegat drone Iran yang bernilai $10.000. Akibatnya, anggaran tersebut justru menyedot subsidi federal untuk premi asuransi kesehatan rakyat. Walkinshaw mencatat bahwa 33.000 warga Virginia baru saja kehilangan akses jaminan kesehatan akibat blokade anggaran oleh pihak Republik di tengah pemborosan biaya perang.

Menanti Pemilihan Sela November

Masa depan kedaulatan legislatif Amerika Serikat kini bergantung pada hasil pemilihan sela bulan November mendatang. Pada akhirnya, Demokrat berharap dapat merebut kendali DPR guna meluncurkan penyelidikan formal terhadap kebijakan Trump.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah sistem checks and balances AS mampu meredam ambisi militer kepresidenan. Perang di Iran bukan lagi sekadar urusan geopolitik, melainkan telah bertransformasi menjadi sengketa hukum dan ekonomi domestik yang akan menentukan nasib administrasi Trump di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bareskrim Bongkar Sindikat Sabu 11 Kg dari Malaysia, Satu DPO Ditangkap
Pria 39 Tahun Ditangkap Polisi Usai Siarkan Konten Asusila demi Followers
PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme
Bareskrim Segel THM New Zone Medan, Dugaan TPPU Narkoba, Ini Kronologinya
Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah
Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan
KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga
Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 20:50 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Sabu 11 Kg dari Malaysia, Satu DPO Ditangkap

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:58 WIB

Pria 39 Tahun Ditangkap Polisi Usai Siarkan Konten Asusila demi Followers

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:44 WIB

PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:34 WIB

Bareskrim Segel THM New Zone Medan, Dugaan TPPU Narkoba, Ini Kronologinya

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:33 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah

Berita Terbaru

Peringatan dari Ottawa. Perdana Menteri Mark Carney menyamakan rencana pemisahan diri provinsi Alberta dengan Brexit. Ia menyebut janji

INTERNASIONAL

PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:44 WIB

Ilustrasi, Cuaca ekstrem menghantam Eropa. Suhu panas yang memecahkan rekor menyebabkan kematian di ajang olahraga amatir, memicu peringatan dini dari pemerintah, dan memaksa warga mencari perlindungan di tengah bulan Mei yang tak lazim. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:33 WIB