JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menjamin ketersediaan bahan baku minyak sawit mentah nasional. Pihak asosiasi memastikan pasokan minyak sawit (CPO) siap menyokong program mandatori biodiesel 50 persen atau B50.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono memberikan penjelasan mengenai kesiapan industri hulu menjelang peluncuran program ini. Menurutnya, skema penyerapan untuk program ramah lingkungan ini tidak akan mengganggu stabilitas pasar domestik.
Volume Bahan Baku Berada pada Batas Aman
Eddy meyakini bahwa kebutuhan bahan baku CPO untuk kebijakan baru ini masih berada dalam batas aman. Sebab, kemampuan produksi kelapa sawit nasional saat ini sangat mumpuni untuk memenuhi target itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah bersiap menggulirkan program mandatori B50 ini secara resmi mulai awal bulan Juli 2026 depan.
“Kebutuhan CPO selama enam bulan pertama hanya mencapai sekitar 1,74 juta ton,” ungkap Eddy.
Oleh karena itu, Eddy sangat optimis kebijakan baru ini tidak akan mengganggu stabilitas pasar dalam negeri.
Pengaruh Damai Amerika Serikat dan Iran
Di sisi lain, harga minyak sawit mentah dunia mengalami penurunan tipis baru-baru ini. Eddy menjelaskan bahwa redanya ketegangan geopolitik global memicu penurunan harga komoditas ekspor itu.
“Harga CPO sedikit turun semenjak kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran bergulir,” terangkan Eddy.
Meskipun begitu, penurunan harga ini masih berada dalam batas wajar dan tidak mengganggu kinerja industri.
Prioritas Utama Ekspor dan Devisa Negara
Meskipun pasokan jangka pendek aman, Gapki meminta pemerintah tetap mengawasi kinerja ekspor nasional. Eddy berharap pemerintah terus mendorong produktivitas petani sawit di sektor hulu secara berkelanjutan.
Peningkatan produksi sawit sangat penting agar mandatori biodiesel tidak memotong jatah ekspor luar negeri. Dengan demikian, Indonesia dapat menjaga penerimaan devisa negara tetap stabil di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












