JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Mata Anda sebenarnya sudah terasa berat dan perih. Tubuh pun telah memberikan sinyal lelah yang kuat.
Namun, tangan Anda tetap menggenggam ponsel erat-erat. Jempol Anda terus menggulir lini masa TikTok atau Instagram tanpa henti. Anda menolak untuk memejamkan mata.
Skenario ini terjadi di jutaan kamar tidur setiap malamnya. Fenomena ini memiliki nama ilmiah: “Revenge Bedtime Procrastination” (RBP). Singkatnya, ini adalah kebiasaan menunda tidur demi melakukan aktivitas hiburan yang tidak sempat kita lakukan di siang hari.
Merebut Kembali Kendali Hidup
Istilah “balas dendam” di sini terdengar agresif, namun sangat tepat. Psikolog menjelaskan bahwa perilaku ini muncul sebagai respons terhadap hilangnya kendali atas waktu di siang hari.
Sepanjang hari, waktu kita habis tersita untuk pekerjaan, kemacetan, atau mengurus orang lain. Kita seolah menjadi robot yang tidak punya otonomi. Oleh karena itu, malam hari menjadi satu-satunya momen “suci” di mana kita merasa bebas.
Kita begadang bukan karena tidak butuh tidur. Sebaliknya, kita begadang karena butuh merasa hidup. Nonton film seri atau bermain game hingga subuh adalah cara otak kita memberontak. Kita ingin menegaskan bahwa waktu ini adalah milik kita sepenuhnya.
Lingkaran Setan Kelelahan
Sayangnya, kemenangan kecil ini harus kita bayar dengan harga yang sangat mahal. Aksi balas dendam ini menciptakan lingkaran setan yang merusak tubuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kurang tidur kronis (sleep deprivation) mengintai para pelaku RBP. Akibatnya, sistem imun tubuh menurun drastis. Fokus dan suasana hati di pagi hari pun menjadi kacau balau.
Kita bangun dengan kondisi lelah dan uring-uringan. Lantas, produktivitas kerja menurun. Imbasnya, kita harus bekerja lebih keras atau lembur lagi. Akhirnya, siklus balas dendam di malam hari terulang kembali.
Cermin Buruk Budaya Kerja
Fenomena ini juga menjadi cermin retak bagi budaya kerja modern kita. Faktanya, keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) semakin sulit tercapai.
Banyak perusahaan menuntut ketersediaan karyawan hampir 24 jam. Batas antara kantor dan rumah menjadi kabur. Maka, wajar jika karyawan mencari pelarian ekstrem di malam hari. Mereka mencoba memadati kebutuhan hiburan dalam waktu tidur yang sempit.
Berdamai dengan Bantal
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa ini adalah strategi koping yang keliru. Membalas dendam pada waktu tidur sama saja dengan menyakiti diri sendiri.
Kita perlu mencari cara untuk mengambil alih kendali hidup tanpa mengorbankan istirahat biologis. Cobalah untuk menyisipkan waktu istirahat kecil (“micro-break”) di siang hari agar tidak merasa “dirampok” waktunya.
Prioritaskan tidur sebagai bentuk cinta pada diri sendiri. Ingatlah, tubuh yang bugar adalah modal utama untuk menghadapi “penjajahan” rutinitas esok hari.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















