Revenge Bedtime Procrastination: Balas Dendam Begadang Demi Kewarasan

Selasa, 25 November 2025 - 21:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mata sudah lelah tapi jempol masih asyik scrolling medsos jam 2 pagi? Itu bukan insomnia, tapi

Mata sudah lelah tapi jempol masih asyik scrolling medsos jam 2 pagi? Itu bukan insomnia, tapi "Revenge Bedtime Procrastination". Simak alasan psikologis di balik aksi balas dendam ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Mata Anda sebenarnya sudah terasa berat dan perih. Tubuh pun telah memberikan sinyal lelah yang kuat.

Namun, tangan Anda tetap menggenggam ponsel erat-erat. Jempol Anda terus menggulir lini masa TikTok atau Instagram tanpa henti. Anda menolak untuk memejamkan mata.

Skenario ini terjadi di jutaan kamar tidur setiap malamnya. Fenomena ini memiliki nama ilmiah: “Revenge Bedtime Procrastination” (RBP). Singkatnya, ini adalah kebiasaan menunda tidur demi melakukan aktivitas hiburan yang tidak sempat kita lakukan di siang hari.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Merebut Kembali Kendali Hidup

Istilah “balas dendam” di sini terdengar agresif, namun sangat tepat. Psikolog menjelaskan bahwa perilaku ini muncul sebagai respons terhadap hilangnya kendali atas waktu di siang hari.

Sepanjang hari, waktu kita habis tersita untuk pekerjaan, kemacetan, atau mengurus orang lain. Kita seolah menjadi robot yang tidak punya otonomi. Oleh karena itu, malam hari menjadi satu-satunya momen “suci” di mana kita merasa bebas.

Baca Juga :  Bebas Denda Pajak Kendaraan, Pemprov DKI Hapus Sanksi PKB dan BBNKB Sampai Akhir Tahun

Kita begadang bukan karena tidak butuh tidur. Sebaliknya, kita begadang karena butuh merasa hidup. Nonton film seri atau bermain game hingga subuh adalah cara otak kita memberontak. Kita ingin menegaskan bahwa waktu ini adalah milik kita sepenuhnya.

Lingkaran Setan Kelelahan

Sayangnya, kemenangan kecil ini harus kita bayar dengan harga yang sangat mahal. Aksi balas dendam ini menciptakan lingkaran setan yang merusak tubuh.

Kurang tidur kronis (sleep deprivation) mengintai para pelaku RBP. Akibatnya, sistem imun tubuh menurun drastis. Fokus dan suasana hati di pagi hari pun menjadi kacau balau.

Kita bangun dengan kondisi lelah dan uring-uringan. Lantas, produktivitas kerja menurun. Imbasnya, kita harus bekerja lebih keras atau lembur lagi. Akhirnya, siklus balas dendam di malam hari terulang kembali.

Baca Juga :  Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Cermin Buruk Budaya Kerja

Fenomena ini juga menjadi cermin retak bagi budaya kerja modern kita. Faktanya, keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) semakin sulit tercapai.

Banyak perusahaan menuntut ketersediaan karyawan hampir 24 jam. Batas antara kantor dan rumah menjadi kabur. Maka, wajar jika karyawan mencari pelarian ekstrem di malam hari. Mereka mencoba memadati kebutuhan hiburan dalam waktu tidur yang sempit.

Berdamai dengan Bantal

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa ini adalah strategi koping yang keliru. Membalas dendam pada waktu tidur sama saja dengan menyakiti diri sendiri.

Kita perlu mencari cara untuk mengambil alih kendali hidup tanpa mengorbankan istirahat biologis. Cobalah untuk menyisipkan waktu istirahat kecil (“micro-break”) di siang hari agar tidak merasa “dirampok” waktunya.

Prioritaskan tidur sebagai bentuk cinta pada diri sendiri. Ingatlah, tubuh yang bugar adalah modal utama untuk menghadapi “penjajahan” rutinitas esok hari.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB