Revolusi Prancis: Biarkan Mereka Makan Kue dan Harga Berdarah Demokrasi

Rabu, 3 Desember 2025 - 19:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rakyat kelaparan, Ratu pesta pora. Revolusi Prancis mengubah dunia dengan darah dan air mata. Simak kisah kelam di balik semboyan

Rakyat kelaparan, Ratu pesta pora. Revolusi Prancis mengubah dunia dengan darah dan air mata. Simak kisah kelam di balik semboyan "Liberté, Égalité, Fraternité". Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID “Jika mereka tidak punya roti, biarkan mereka makan kue.” Kalimat legendaris yang sering diatribusikan kepada Ratu Marie Antoinette ini mungkin hanyalah mitos. Namun, kutipan tersebut merangkum sempurna ketimpangan sosial yang mencekik Prancis pada abad ke-18.

Saat itu, masyarakat terbelah menjadi tiga golongan kaku atau Estates. Kaum rohaniwan dan bangsawan hidup bergelimang harta tanpa perlu membayar pajak. Sebaliknya, rakyat jelata yang miskin harus memikul beban pajak negara sendirian.

Parahnya lagi, negara sedang bangkrut total. Raja Louis XVI menghamburkan kas negara untuk membiayai perang di Amerika dan gaya hidup mewah istana Versailles. Akibatnya, harga roti melambung tinggi dan kelaparan massal melanda Paris.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Runtuhnya Bastille, Runtuhnya Raja

Kemarahan rakyat akhirnya meledak pada 14 Juli 1789. Massa yang marah menyerbu penjara Bastille. Bagi mereka, bangunan itu adalah simbol tirani kekuasaan raja yang sewenang-wenang.

Baca Juga :  Badai Salju Hantam AS: 14 Tewas, Ribuan Penerbangan Lumpuh

Peristiwa ini memicu gelombang revolusi yang tak terbendung. Rakyat menuntut konstitusi baru dan penghapusan hak istimewa bangsawan. Lantas, nasib Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette berakhir tragis.

Pisau Guillotine memenggal kepala mereka di hadapan publik yang bersorak. Seketika, sistem monarki absolut yang telah bertahan berabad-abad runtuh menjadi debu.

Masa Kelam “Reign of Terror”

Akan tetapi, impian tentang kebebasan segera berubah menjadi mimpi buruk. Revolusi melahirkan monster baru bernama Maximilien Robespierre. Ia memimpin periode berdarah yang dikenal sebagai Reign of Terror.

Atas nama “penyelamatan revolusi”, Robespierre mengirim ribuan orang ke tiang pancung. Siapa pun yang ia curigai sebagai musuh revolusi, bahkan teman seperjuangannya sendiri, akan kehilangan nyawa.

Jalanan Paris banjir darah. Ketakutan menyelimuti setiap sudut kota. Faktanya, revolusi justru memakan anak-anaknya sendiri dalam paranoia yang mengerikan.

Baca Juga :  Penganiayaan Sadis di Kalideres, Pedagang Diserang Komplotan Bersenjata Stik Golf

Kekacauan Melahirkan Diktator

Kekacauan politik dan ekonomi membuat rakyat lelah. Mereka merindukan ketertiban dan stabilitas. Di tengah kekosongan inilah, seorang jenderal muda yang jenius melihat peluang emas.

Napoleon Bonaparte muncul sebagai pahlawan militer yang menjanjikan kejayaan. Kemudian, ia melakukan kudeta dan menobatkan dirinya sebagai Kaisar.

Ironisnya, revolusi yang bermula untuk menggulingkan seorang raja, justru berakhir dengan melahirkan seorang diktator militer baru yang lebih kuat. Siklus kekuasaan berputar kembali ke titik awal.

Warisan Abadi dan Peringatan

Pada akhirnya, Revolusi Prancis mewariskan dua hal yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia melahirkan Piagam Hak Asasi Manusia dan semboyan abadi: Liberté, Égalité, Fraternité (Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan).

Namun di sisi lain, peristiwa ini menjadi peringatan keras. Perubahan sosial yang radikal tanpa kendali hukum hanya akan berujung pada anarki dan pertumpahan darah. Demokrasi ternyata memiliki harga yang sangat mahal untuk ditebus.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapal Perang AS USS Benfold Mati Listrik Empat Hari
Trump Klaim Selat Hormuz Wilayah Baru AS
Rekor Serangan Pekerja Kemanusiaan Capai Puncak Tertinggi
Petani Jepang Ubah Jadwal Kerja Jadi Malam Hari
Jepang Bakal Uji Coba Rudal Hipersonik di Wilayah Australia
Futures Sawit Malaysia Naik, Ikuti Kinerja Bursa Dalian
Kebakaran Hutan Landa Belgia dan Yunani, Dua Tewas
Trump Perintahkan Pentagon Kurangi Latihan Militer

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:30 WIB

Kapal Perang AS USS Benfold Mati Listrik Empat Hari

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Trump Klaim Selat Hormuz Wilayah Baru AS

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:30 WIB

Rekor Serangan Pekerja Kemanusiaan Capai Puncak Tertinggi

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:27 WIB

Jepang Bakal Uji Coba Rudal Hipersonik di Wilayah Australia

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:35 WIB

Futures Sawit Malaysia Naik, Ikuti Kinerja Bursa Dalian

Berita Terbaru

Kapal perusak Angkatan Laut AS USS Benfold mengalami mati listrik selama empat hari di Samudra Pasifik hingga harus ditarik ke Teluk Subic, Filipina. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kapal Perang AS USS Benfold Mati Listrik Empat Hari

Kamis, 20 Agu 2026 - 08:30 WIB

Presiden Donald Trump membantah adanya negosiasi dengan Iran dan mengunggah peta yang mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Selat Hormuz Wilayah Baru AS

Kamis, 20 Agu 2026 - 07:53 WIB

 PBB mengecam lonjakan serangan terhadap relawan kemanusiaan global yang dipicu oleh eskalasi konflik dan penggunaan drone bersenjata. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rekor Serangan Pekerja Kemanusiaan Capai Puncak Tertinggi

Kamis, 20 Agu 2026 - 07:30 WIB