JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Suku Dinas Bina Marga Jakarta Utara mengklaim telah menambal 6.306 titik jalan berlubang sepanjang Januari hingga April 2026.
Namun di lapangan, banyak pengendara justru mengeluhkan kualitas perbaikan yang dinilai asal-asalan karena permukaan jalan menjadi bergelombang dan membahayakan, terutama bagi pengguna sepeda motor.
Berdasarkan data Sudin Bina Marga Jakarta Utara, total luasan jalan yang diperbaiki mencapai 54.579,43 meter persegi di enam kecamatan.
Kepala Seksi Jalan dan Jembatan Sudin Bina Marga Jakarta Utara, Budi Cahyo Wardoyo, mengatakan perbaikan dilakukan secara rutin menindaklanjuti laporan warga melalui aplikasi JAKI, media sosial, hingga patroli petugas lapangan.
“Petugas menangani jalan rusak dengan metode tambal cepat menggunakan coldmix dan patching hotmix,” kata Budi, Kamis (7/5/2026).
Tambalan Jalan Dinilai Tidak Rata
Meski jumlah perbaikan cukup besar, sejumlah warga menilai hasil pekerjaan di lapangan masih jauh dari harapan.
Banyak titik jalan yang sebelumnya berlubang memang tertutup, tetapi permukaannya justru bergelombang, tidak rata, bahkan membentuk tonjolan baru yang berisiko menyebabkan kecelakaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi itu paling dirasakan pengendara motor yang melintas pada malam hari atau saat hujan karena tambalan sulit terlihat.
“Lubangnya memang tertutup, tapi jalannya jadi bergelombang. Kalau pengendara motor tidak fokus bisa jatuh,” keluh seorang pengendara di kawasan Cilincing.
Warga juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap kualitas pengerjaan di lapangan. Mereka meminta Sudin Bina Marga tidak hanya mengejar target jumlah titik perbaikan, tetapi juga memastikan hasil tambalan benar-benar rata, kuat, dan aman dilalui kendaraan.
Ribuan Titik Diperbaiki
Sudin Bina Marga mencatat perbaikan jalan tersebar di:
- Tanjung Priok: 939 titik
- Kelapa Gading: 1.240 titik
- Cilincing: 641 titik
- Koja: 730 titik
- Pademangan: 597 titik
- Penjaringan: 981 titik
Selain itu, petugas juga melakukan perbaikan tambahan di 1.178 titik lainnya.
Menurut Budi, kerusakan jalan dipicu usia jalan, curah hujan tinggi, genangan air, hingga kendaraan bertonase berat yang melintas setiap hari.
Warga Minta Evaluasi
Warga berharap Pemprov DKI Jakarta mengevaluasi kualitas tambal jalan agar proyek perbaikan tidak sekadar formalitas.
Sebab, jalan yang terlihat mulus di atas kertas belum tentu aman di lapangan jika hasil tambalan justru membahayakan pengguna jalan.
Perbaikan infrastruktur, menurut warga, seharusnya menghadirkan rasa aman—bukan menambah risiko kecelakaan. (red)
Editor : Hadwan












