Ritual Kopi Global: Dari Espresso Cepat Hingga Fika Santai

Jumat, 31 Oktober 2025 - 15:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Satu biji kopi, ribuan ritual. Dari espresso Italia yang terburu-buru hingga fika Swedia yang santai, kopi adalah cerminan budaya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Satu biji kopi, ribuan ritual. Dari espresso Italia yang terburu-buru hingga fika Swedia yang santai, kopi adalah cerminan budaya. Dok: Istimewa.

ROMA, POSNEWS.CO.ID —Bagi miliaran orang, hari dimulai dengan cairan hitam yang sama: kopi. Namun, cara kita mengonsumsinya adalah sebuah ritual yang sangat berbeda, sebuah cermin yang jujur dari ritme hidup dan nilai-nilai yang melekat dalam sebuah budaya.

Minuman ini lebih dari sekadar kafein. Di beberapa negara, kopi adalah “bahan bakar” untuk efisiensi. Di tempat lain, ia adalah alasan untuk berhenti sejenak dan bersosialisasi. Mari kita lihat bagaimana orang-orang di seluruh dunia menafsirkan satu biji kopi yang sama secara berbeda.

Kopi sebagai “Bahan Bakar”

Di Italia, terutama di kota-kota sibuk seperti Roma atau Milan, kopi adalah urusan yang cepat dan fungsional. Ritualnya berpusat di bar. Orang Italia akan masuk, memesan un caffè (yang otomatis berarti espresso), meminumnya dalam dua atau tiga tegukan cepat sambil berdiri, membayar, dan pergi. Semuanya seringkali selesai dalam lima menit.

Di sini, kopi adalah “bahan bakar” murni. Ini adalah hentakan kafein yang presisi untuk melanjutkan hari. Duduk berlama-lama, apalagi memesan cappuccino setelah jam 11 pagi, adalah hal yang aneh bagi mereka. Kopi adalah kecepatan.

Konsep Fika yang Santai

Bergeser ke utara, kita menemukan filosofi yang berlawanan di Skandinavia, terutama Swedia, dengan konsep Fika. Fika bukanlah sekadar “rehat kopi”; ini adalah ritual sosial yang sakral. Ini adalah mandat untuk berhenti sejenak dari pekerjaan dan bersantai.

Fika adalah kata kerja sekaligus kata benda. Ini adalah momen yang orang jadwalkan secara sadar, seringkali dua kali sehari, di mana rekan kerja atau teman berkumpul. Mereka meninggalkan meja kerja, menikmati kopi (biasanya kopi saring yang ringan), dan wajib menikmatinya bersama kue atau roti kayu manis (kanelbulle). Fika adalah tentang koneksi sosial dan perlambatan tempo, sebuah bagian integral dari budaya kerja yang sehat.

Seni Menikmati Kopi Tetes

Di Vietnam, kopi adalah tentang kesabaran. Metode penyajian paling ikonik adalah menggunakan phin, sebuah filter tetes logam kecil yang orang letakkan di atas gelas. Gelas itu seringkali sudah berisi lapisan kental susu kental manis di dasarnya.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Jakarta 9 Agustus 2025: Hujan Ringan Hingga Malam Hari

Ritualnya adalah menonton tetesan kopi gelap pekat itu jatuh perlahan dan memenuhi gelas, sebuah proses yang bisa memakan waktu 10 hingga 15 menit. Orang menikmati kopi ini perlahan, mengaduknya agar rasa pahit pekatnya berpadu dengan manisnya susu. Ini adalah antitesis dari espresso Italia; ini adalah kopi yang memaksa Anda untuk duduk diam dan menunggu.

Kesimpulan

Dari espresso yang orang minum terburu-buru di Roma, fika yang komunal di Stockholm, hingga kopi phin yang meditatif di Hanoi, kita melihat pelajaran yang jelas. Kopi lebih dari sekadar biji. Ia adalah cerminan budaya.

Satu minuman yang sama bisa mewakili efisiensi, koneksi sosial, atau kesabaran. Cara kita minum kopi, pada akhirnya, menunjukkan cara kita menjalani hidup.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Capcom matikan server Street Fighter V dan hentikan penjualan di PS Store dan Steam akibat masalah keamanan PHP. Simak ulasan perbaikan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Capcom Matikan Server dan Hentikan Penjualan Street Fighter V

Sabtu, 31 Okt 2026 - 13:41 WIB

Raffi Ahmad dan Willie Salim menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

JABODETABEK

Mahasiswa Bayaran di Deklarasi Sumpah Pemuda? Ini Faktanya

Sabtu, 31 Okt 2026 - 13:10 WIB

Epic Games berencana ubah EULA Unreal Engine agar karya game dapat melatih AI. Simak penjelasan Tim Sweeney. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Epic Games Siapkan Perubahan EULA Unreal Engine

Sabtu, 31 Okt 2026 - 12:35 WIB