Serangan Udara di Gaza dan Penembakan Remaja di Tepi Barat Picu Duka Mendalam

Sabtu, 25 April 2026 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tragedi di tengah jeda. Serangan udara Israel menewaskan empat warga Palestina di Gaza, sementara operasi militer di Tepi Barat merenggut nyawa seorang remaja berusia 15 tahun. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tragedi di tengah jeda. Serangan udara Israel menewaskan empat warga Palestina di Gaza, sementara operasi militer di Tepi Barat merenggut nyawa seorang remaja berusia 15 tahun. Dok: Istimewa.

GAZA, POSNEWS.CO.ID – Harapan warga Gaza untuk hidup tenang di bawah payung gencatan senjata kembali hancur. Serangkaian serangan udara Israel menghantam wilayah selatan dan tengah Jalur Gaza, merenggut nyawa warga sipil serta petugas kemanusiaan pada hari Kamis.

Dalam konteks ini, insiden tersebut mempertegas kegagalan implementasi perdamaian yang Washington upayakan sejak tahun lalu. Oleh karena itu, ketidakpastian keamanan kini kembali menyelimuti seluruh kantong wilayah pengungsian pada tahun 2026.

Gempuran di Khan Younis dan Maghazi

Tim medis lokal melaporkan hantaman rudal di wilayah Khan Younis yang menewaskan satu orang. Militer Israel berdalih bahwa serangan tersebut menargetkan militan yang sedang mengangkut amunisi berbahaya. Namun, ledakan tersebut juga melukai beberapa warga sipil di sekitar lokasi kejadian.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, tragedi lebih besar melanda kamp pengungsi Maghazi di Deir al-Balah. Tiga orang, termasuk seorang petugas penyelamat, tewas seketika dalam serangan udara terpisah. Pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait penargetan fasilitas pengungsian di wilayah tengah Gaza tersebut.

Baca Juga :  Prabowo: 10 Ribu Puskesmas Tak Pernah Diperbaiki 30 Tahun, Dana Sitaan Koruptor Dipakai Renovasi

Kegagalan Mekanisme Gencatan Senjata

Dunia internasional kini menyoroti efektivitas kesepakatan damai yang berlaku sejak Oktober 2025. Meskipun gencatan senjata secara formal masih ada, realitas di lapangan menunjukkan pola permusuhan yang tetap aktif. Sebab, tidak ada badan independen yang memiliki mandat guna menegakkan aturan jeda pertempuran tersebut.

Data Kementerian Kesehatan mencatat angka kematian yang memilukan. Lebih dari 780 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata pihak terkait diumumkannya. Di sisi lain, empat tentara Israel juga dilaporkan gugur dalam periode yang sama. Kondisi ini membuat warga merasa tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman bagi mereka.

Eskalasi di Tepi Barat: Kematian Remaja dan Teror Pemukim

Ketegangan tidak hanya terbatas di Gaza. Otoritas kesehatan di Nablus mengonfirmasi bahwa pasukan Israel menembak mati seorang remaja berusia 15 tahun. Insiden tersebut terjadi saat militer melakukan operasi penggeledahan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Baca Juga :  Jakarta Running Festival 2025, Dishub Tutup 10 Ruas Jalan, Ini Rute Alternatifnya

Terlebih lagi, kekerasan sistemik oleh kelompok pemukim Israel kian tidak terkendali. Seorang pria Palestina berusia 25 tahun tewas ditembak di kota Deir Dibwan, dekat Ramallah. Akibatnya, sedikitnya 15 orang tercatat tewas akibat serangan pemukim sepanjang tahun 2026 ini. Organisasi hak asasi manusia mendesak pemerintah Israel guna segera menghentikan lonjakan aksi main hakim sendiri di wilayah pendudukan tersebut.

Suara dari Rumah Sakit Al Shifa

Suasana duka yang mendalam mewarnai Rumah Sakit Al Shifa di Kota Gaza. Para pelayat berkumpul guna memakamkan lima korban tewas, termasuk tiga anak, dari serangan sebelumnya. “Tidak ada gencatan senjata, tidak ada perdamaian, tidak ada apa pun sama sekali,” ujar Mohammed Baalousha, kerabat salah satu korban.

Pada akhirnya, kedaulatan keamanan warga sipil Palestina kini berada pada titik terendah. Dengan demikian, masyarakat internasional menanti langkah nyata dari mediator Amerika Serikat guna merumuskan mekanisme pengawasan perbatasan yang lebih kuat. Tanpa adanya sanksi tegas bagi pelanggar, tahun 2026 berisiko mencatatkan rekor kematian sipil yang lebih tinggi di sisa dekade ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru

Langkah baru pasar monitor OLED. Philips merilis Evnia 32M2N6901A yang memadukan panel 4K QD-OLED 165Hz dengan harga kompetitif. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Philips Resmi Meluncurkan Monitor Evnia 32M2N6901A

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:30 WIB