GAZA, POSNEWS.CO.ID – Harapan warga Gaza untuk hidup tenang di bawah payung gencatan senjata kembali hancur. Serangkaian serangan udara Israel menghantam wilayah selatan dan tengah Jalur Gaza, merenggut nyawa warga sipil serta petugas kemanusiaan pada hari Kamis.
Dalam konteks ini, insiden tersebut mempertegas kegagalan implementasi perdamaian yang Washington upayakan sejak tahun lalu. Oleh karena itu, ketidakpastian keamanan kini kembali menyelimuti seluruh kantong wilayah pengungsian pada tahun 2026.
Gempuran di Khan Younis dan Maghazi
Tim medis lokal melaporkan hantaman rudal di wilayah Khan Younis yang menewaskan satu orang. Militer Israel berdalih bahwa serangan tersebut menargetkan militan yang sedang mengangkut amunisi berbahaya. Namun, ledakan tersebut juga melukai beberapa warga sipil di sekitar lokasi kejadian.
Selain itu, tragedi lebih besar melanda kamp pengungsi Maghazi di Deir al-Balah. Tiga orang, termasuk seorang petugas penyelamat, tewas seketika dalam serangan udara terpisah. Pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait penargetan fasilitas pengungsian di wilayah tengah Gaza tersebut.
Kegagalan Mekanisme Gencatan Senjata
Dunia internasional kini menyoroti efektivitas kesepakatan damai yang berlaku sejak Oktober 2025. Meskipun gencatan senjata secara formal masih ada, realitas di lapangan menunjukkan pola permusuhan yang tetap aktif. Sebab, tidak ada badan independen yang memiliki mandat guna menegakkan aturan jeda pertempuran tersebut.
Data Kementerian Kesehatan mencatat angka kematian yang memilukan. Lebih dari 780 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata pihak terkait diumumkannya. Di sisi lain, empat tentara Israel juga dilaporkan gugur dalam periode yang sama. Kondisi ini membuat warga merasa tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman bagi mereka.
Eskalasi di Tepi Barat: Kematian Remaja dan Teror Pemukim
Ketegangan tidak hanya terbatas di Gaza. Otoritas kesehatan di Nablus mengonfirmasi bahwa pasukan Israel menembak mati seorang remaja berusia 15 tahun. Insiden tersebut terjadi saat militer melakukan operasi penggeledahan yang masih berlangsung hingga saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, kekerasan sistemik oleh kelompok pemukim Israel kian tidak terkendali. Seorang pria Palestina berusia 25 tahun tewas ditembak di kota Deir Dibwan, dekat Ramallah. Akibatnya, sedikitnya 15 orang tercatat tewas akibat serangan pemukim sepanjang tahun 2026 ini. Organisasi hak asasi manusia mendesak pemerintah Israel guna segera menghentikan lonjakan aksi main hakim sendiri di wilayah pendudukan tersebut.
Suara dari Rumah Sakit Al Shifa
Suasana duka yang mendalam mewarnai Rumah Sakit Al Shifa di Kota Gaza. Para pelayat berkumpul guna memakamkan lima korban tewas, termasuk tiga anak, dari serangan sebelumnya. “Tidak ada gencatan senjata, tidak ada perdamaian, tidak ada apa pun sama sekali,” ujar Mohammed Baalousha, kerabat salah satu korban.
Pada akhirnya, kedaulatan keamanan warga sipil Palestina kini berada pada titik terendah. Dengan demikian, masyarakat internasional menanti langkah nyata dari mediator Amerika Serikat guna merumuskan mekanisme pengawasan perbatasan yang lebih kuat. Tanpa adanya sanksi tegas bagi pelanggar, tahun 2026 berisiko mencatatkan rekor kematian sipil yang lebih tinggi di sisa dekade ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















