Skandal Berkas Epstein: Misteri Redaksi Nama Besar

Rabu, 11 Februari 2026 - 13:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guncangan baru dari berkas masa lalu. Rilis dokumen terbaru FBI mengungkap komunikasi rahasia Jeffrey Epstein yang menyeret tokoh politik hingga miliarder teknologi global. Dok: Istimewa.

Guncangan baru dari berkas masa lalu. Rilis dokumen terbaru FBI mengungkap komunikasi rahasia Jeffrey Epstein yang menyeret tokoh politik hingga miliarder teknologi global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pelaksanaan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein (EFTA) mulai mengungkap fakta-fakta mengejutkan. Kongres menyetujui undang-undang ini pada November lalu. Aturan tersebut mewajibkan Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis seluruh dokumen terkait Jeffrey Epstein tanpa terkecuali.

Undang-undang tersebut memang mengizinkan penyensoran identitas korban. Namun, aturan ini melarang keras penyembunyian informasi demi menjaga reputasi tokoh publik. Sayangnya, sejumlah anggota parlemen justru menemukan banyak kejanggalan saat memeriksa berkas tersebut pada Senin kemarin.

Misteri Redaksi Nama “Tokoh Menonjol”

Anggota parlemen dari kedua partai menyatakan kekecewaan mereka terhadap kondisi dokumen tersebut. Perwakilan Jamie Raskin (Demokrat) mengaku melihat banyak nama yang hilang tanpa alasan jelas. “Staf menghapus begitu saja banyak nama pendukung dan kolaborator Jeffrey Epstein,” ujar Raskin kepada wartawan.

Senada dengan Raskin, Thomas Massie (Republik) mengeklaim telah menemukan identitas enam pria yang disensor. Salah satu di antaranya adalah pejabat tinggi di pemerintahan asing. Ro Khanna (Demokrat) juga menegaskan bahwa redaksi tersebut melanggar hukum. Pasalnya, EFTA mewajibkan pembukaan identitas kecuali jika informasi tersebut bersifat rahasia negara. Para anggota parlemen menduga FBI atau jaksa penuntut telah menyensor dokumen itu sebelum sampai ke Departemen Kehakiman.

Baca Juga :  Suami di Bangka Jual Istri Demi Judi Online, Polisi Tetapkan Tersangka

Pengakuan Menteri Perdagangan Howard Lutnick

Di tengah perdebatan transparansi, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick memberikan pengakuan mengejutkan. Ia berbicara dalam sidang subkomite Senat pada Selasa (10/2/2026). Lutnick mengakui bahwa ia dan keluarganya pernah makan siang di pulau pribadi Epstein pada 2012.

Pengakuan ini sangat kontras dengan pernyataan Lutnick sebelumnya. Dahulu, ia mengeklaim telah memutus kontak dengan Epstein sejak 2005. Namun, berkas terbaru dari DOJ justru menunjukkan fakta sebaliknya. Keduanya tetap berkomunikasi dan memiliki hubungan bisnis hingga tahun 2014. Akibat inkonsistensi ini, anggota Demokrat dan Republik mendesak Lutnick agar segera mengundurkan diri.

Baca Juga :  Keluarga Korban Bondi Tuntut Royal Commission: Desak Penyelidikan Nasional Antisemitisme

Diplomat Prancis Diserahkan ke Kejaksaan

Skandal ini juga merambat hingga ke jantung diplomasi Eropa. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, mengonfirmasi kemunculan nama Fabrice Aidan dalam dokumen tersebut. Aidan merupakan diplomat karier dengan masa kerja 25 tahun yang kini bertugas di sektor swasta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Barrot segera menyerahkan masalah ini kepada jaksa penuntut sesuai dengan hukum acara pidana Prancis. Selain itu, pemerintah Prancis memulai penyelidikan administratif internal terhadap Aidan. Media lokal mencatat adanya rincian informasi kontak dan pertukaran email yang intensif dalam berkas itu. Meskipun nama dalam berkas bukan bukti mutlak pelanggaran hukum, langkah Paris menunjukkan keseriusan mereka menuntaskan skandal ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

: Donald Trump Ancam Blokir Akses dan Tuntut Kepemilikan
Pesawat Smart Air Ditembaki OTK di Boven Digoel Papua, Pilot dan Kopilot Tewas
Reformasi Birokrasi Berbuah WBK 2025, Setjen DPD RI Perkuat Integritas
Trump Ancam Tindakan Keras dan Intelijen Rudal Israel
IPK Indonesia 2025 Turun ke 34, KPK Dorong Percepatan Reformasi Antikorupsi
Kasus Ayah Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anak, DPR Minta Pertimbangkan KUHP Baru
Kontroversi Intelijen AS: Tulsi Gabbard Bubarkan Satuan Tugas
Tiongkok Sukses Uji Terbang Long March-10

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:59 WIB

: Donald Trump Ancam Blokir Akses dan Tuntut Kepemilikan

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:46 WIB

Pesawat Smart Air Ditembaki OTK di Boven Digoel Papua, Pilot dan Kopilot Tewas

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:25 WIB

Reformasi Birokrasi Berbuah WBK 2025, Setjen DPD RI Perkuat Integritas

Rabu, 11 Februari 2026 - 14:55 WIB

Trump Ancam Tindakan Keras dan Intelijen Rudal Israel

Rabu, 11 Februari 2026 - 14:32 WIB

Kasus Ayah Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anak, DPR Minta Pertimbangkan KUHP Baru

Berita Terbaru

Trump nampak mengantuk saat menghadiri rapat kabinet di Gedung Putih. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

: Donald Trump Ancam Blokir Akses dan Tuntut Kepemilikan

Rabu, 11 Feb 2026 - 15:59 WIB

Era baru kebijakan Jepang. Perdana Menteri Sanae Takaichi meraih kemenangan bersejarah dalam pemilu Majelis Rendah, memberikan mandat penuh untuk reformasi fiskal agresif dan revisi konstitusi. Dok: Istimewa.

Blog

Mandat Mutlak Takaichi: LDP Raih Kemenangan Telak

Rabu, 11 Feb 2026 - 15:16 WIB

Antara meja perundingan dan pangkalan militer. Donald Trump membuka pintu diplomasi bagi Iran, sementara Teheran memperingatkan bencana bagi semua pihak jika serangan terjadi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Ancam Tindakan Keras dan Intelijen Rudal Israel

Rabu, 11 Feb 2026 - 14:55 WIB