Militer AS Diduga Lakukan Kejahatan Perang, Serang Penyintas Kapal Narkoba

Selasa, 2 Desember 2025 - 17:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jurang komunikasi di Gedung Putih. Di saat para jenderal militer menekankan profesionalisme, administrasi Trump justru menggunakan narasi agresif yang memicu kontroversi global. Dok: Istimewa.

Jurang komunikasi di Gedung Putih. Di saat para jenderal militer menekankan profesionalisme, administrasi Trump justru menggunakan narasi agresif yang memicu kontroversi global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih akhirnya membuka suara terkait operasi militer kontroversial di perairan internasional. Mereka mengonfirmasi bahwa seorang laksamana Amerika Serikat (AS) memerintahkan serangan susulan atau “double-tap” terhadap penyintas kapal yang diduga penyelundup narkoba.

Pengakuan ini muncul pada Senin (01/12/2025). Seketika, gelombang kritik menghantam Pentagon dan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Tuduhan kejahatan perang mulai bermunculan dari Capitol Hill. Pasalnya, menyerang orang yang selamat dari kapal karam (shipwrecked survivors) merupakan pelanggaran hukum internasional yang serius. Meskipun demikian, Gedung Putih bersikeras bahwa Admiral Frank Bradley bertindak secara sah dan legal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perintah Mematikan dari Pucuk Pimpinan

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menjelaskan posisi pemerintah. Menurutnya, Admiral Bradley bekerja dalam wewenangnya untuk memastikan ancaman terhadap AS benar-benar musnah.

“Hegseth memberi wewenang kepada Laksamana Bradley untuk melakukan serangan kinetik ini,” ujar Leavitt.

Baca Juga :  China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan

Menteri Pertahanan Pete Hegseth pun langsung pasang badan. Melalui platform X, ia menyebut Bradley sebagai “pahlawan Amerika”. Hegseth menegaskan dukungan penuhnya terhadap keputusan tempur sang laksamana pada misi 2 September lalu.

Namun, senator Chris Murphy dari Partai Demokrat melihat hal berbeda. Ia menuduh Hegseth sedang melempar tanggung jawab (passing the buck).

“Hegseth mengalihkan kesalahan. Padahal, baik Republik maupun Demokrat mulai menyimpulkan bahwa ini adalah tindakan ilegal dan sangat tidak bermoral,” tegas Murphy kepada CNN.

Langgar Manual Perang Sendiri?

Kontroversi utama terletak pada legalitas serangan kedua. Laporan media menyebutkan serangan awal pada 2 September menyisakan dua orang yang selamat. Nahasnya, serangan susulan kemudian membunuh mereka atas perintah komando.

Total 11 orang tewas dalam dua serangan tersebut. Faktanya, kampanye militer anti-narkoba ini telah menewaskan lebih dari 80 orang dalam beberapa bulan terakhir.

Hegseth bersikeras bahwa tindakan tersebut mematuhi hukum konflik bersenjata. Akan tetapi, klaim ini bertentangan dengan Manual Hukum Perang Pentagon sendiri.

Dokumen tersebut menyatakan secara eksplisit: “Perintah untuk menembaki orang yang karam jelas ilegal.”

Baca Juga :  Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Senator Tuntut Investigasi Menyeluruh

Senator Mark Kelly, mantan pilot tempur Angkatan Laut, menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia mendesak Kongres untuk segera melakukan investigasi.

“Saya khawatir jika benar ada penyintas yang berpegangan pada kapal rusak lalu diserang, itu sudah melampaui batas,” ujarnya.

Kelly sebelumnya juga bersitegang dengan Trump karena video kontroversialnya. Ia menyatakan bahwa tentara boleh menolak “perintah ilegal”. Akibatnya, Pentagon kini tengah menyelidiki komentar Kelly tersebut.

Ketegangan Regional Memuncak

Operasi ini merupakan bagian dari kebijakan agresif Presiden Trump melawan “narko-teroris”. Trump telah mengerahkan kapal induk terbesar di dunia dan armada militer lainnya ke Karibia.

Imbasnya, ketegangan regional meningkat tajam. Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuduh Washington menggunakan isu narkoba sebagai dalih politik. Menurut Maduro, tujuan asli AS adalah memaksakan pergantian rezim di Caracas.

Kini, bola panas berada di tangan Kongres AS. Publik menanti apakah investigasi akan membuktikan adanya pelanggaran hukum perang atau sekadar prosedur militer yang agresif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Visa kolaborasi dengan MOONTON dan Bank Jago rilis kartu debit edisi terbatas MLBB M8 serta jadi sponsor M Series. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Visa Gandeng MOONTON dan Bank Jago: Hadirkan Kartu Debit

Minggu, 1 Nov 2026 - 16:52 WIB

GameSir merilis controller G7 Pro edisi Sunset Boulevard dan Ocean Breeze bernuansa Vice City GTA 6. Simak spesifikasi sensor TMR. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

GameSir Rilis Controller G7 Pro Edisi Vice City GTA 6

Minggu, 1 Nov 2026 - 16:00 WIB

Strava resmi terintegrasi dengan Google Gemini via Connected Apps. Simak cara menghubungkan akun dan keunggulan analisis. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Strava Gandeng Google Gemini Hadirkan Analisis Performa

Minggu, 1 Nov 2026 - 15:49 WIB