ADELAIDE, POSNEWS.CO.ID – Pagi hari tanggal 1 Desember 1948, ketenangan Pantai Somerton di Adelaide, Australia, terusik. Warga menemukan sesosok mayat pria bersandar di dinding batu, tepat di seberang panti asuhan anak-anak cacat.
Pria itu berusia sekitar 40-45 tahun, bertubuh atletis, dan berpakaian necis dengan setelan jas serta dasi. Namun, ada yang ganjil. Polisi tidak menemukan kartu identitas apa pun. Lebih mencurigakan lagi, seseorang telah membuang semua label pada pakaiannya dengan sengaja.
Barang-barang di sakunya hanya menambah teka-teki: tiket kereta api yang tidak terpakai ke Pantai Henley, permen karet, sisir aluminium, rokok, korek api, dan uang enam pence.
Namun, petunjuk paling membingungkan adalah secarik kertas kecil yang tersembunyi di saku celananya. Kertas itu bertuliskan dua kata dalam bahasa Persia: “Tamám Shud”, yang berarti “Selesai” atau “Berakhir”.
Jejak Buku Puisi dan Kode Rahasia
Autopsi mengungkapkan kematian yang tidak wajar akibat gagal jantung, namun anehnya, jantung pria itu sehat dan tidak ada racun yang terdeteksi.
Penyelidikan berlanjut. Jurnalis Frank Kennedy menemukan bahwa sobekan kertas itu berasal dari halaman terakhir buku The Rubáiyát of Omar Khayyám, kumpulan puisi penyair Persia abad ke-11.
Polisi memohon publik untuk memeriksa buku mereka. Keajaiban terjadi: seorang pria lokal menyerahkan salinan buku yang tepat. Ia mengaku menemukannya di kursi belakang mobilnya enam bulan sebelumnya, sekitar waktu penemuan mayat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di bagian belakang buku itulah misteri semakin pekat. Polisi menemukan lima baris huruf acak yang tampak seperti kode rahasia. Hingga hari ini, ahli kriptografi terbaik dunia maupun mahasiswa pemecah sandi gagal memecahkan kode tersebut.
Selain kode, ada nomor telepon. Nomor itu mengarah kepada seorang wanita berusia 27 tahun yang dikenal sebagai “Jestyn” (nama aslinya Jo Thompson), yang tinggal hanya selemparan batu dari lokasi kejadian.
Jestyn menyangkal mengenal pria itu dan bersikap sangat tertutup selama interogasi. Anehnya, polisi saat itu memutuskan untuk tidak mengejar petunjuk ini lebih jauh.
Mata-mata Soviet atau Turis Amerika?
Identitas “Pria Somerton” tetap gelap. Sidik jari dan fotonya telah menyebar ke seluruh negara Persemakmuran tanpa hasil. Label nama “T. Keane” di kopernya pun ternyata jalan buntu.
Teori liar bermunculan. Banyak yang meyakini ia orang Amerika. Indikasinya: corak garis di dasinya yang miring gaya AS, sisir aluminium (barang langka di Australia saat itu), dan kebiasaan mengunyah permen karet.
Teori lain lebih sensasional: Ia adalah mata-mata Soviet atau kekasih gelap Jestyn.
Babak Baru: Pengakuan Anak “Jestyn”
Minat terhadap kasus ini kembali meledak pada 2013 setelah acara 60 Minutes mewawancarai Kate Thompson, putri Jestyn. Kate melontarkan klaim mengejutkan: ibunya berbohong kepada polisi.
Menurut Kate, ibunya mengenal Pria Somerton. Lebih jauh lagi, ia mengklaim ibunya adalah mata-mata Soviet dengan “sisi gelap” dan mungkin bertanggung jawab atas pembunuhan pria tersebut.
Roma dan Rachel Egan, istri dan putri dari mendiang saudara laki-laki Kate, Robin, juga tampil. Banyak pihak meyakini Robin adalah anak hasil hubungan gelap antara Pria Somerton dan Jestyn.
Keluarga ini mendukung permohonan penggalian makam (ekshumasi) untuk tes DNA demi membuktikan klaim tersebut. Meskipun Jaksa Agung pernah menolaknya pada 2011, petisi Change.org dan penggalangan dana kini terus mendesak agar misteri 65 tahun ini akhirnya mendapatkan jawaban: “Tamám Shud”.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















