Trump Ancam Laporkan Jurnalis NBC Kristen Welker ke FCC

Selasa, 1 September 2026 - 14:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Trump mengancam melaporkan jurnalis NBC Kristen Welker ke FCC usai kritik soal hasil dukungannya pada kandidat jelang pemilihan paruh waktu November. Dok: Istimewa.

Presiden Trump mengancam melaporkan jurnalis NBC Kristen Welker ke FCC usai kritik soal hasil dukungannya pada kandidat jelang pemilihan paruh waktu November. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Presiden Donald Trump mengancam seorang jurnalis penyiaran ternama NBC dengan kemungkinan sanksi dari regulator media AS pada Minggu. Pasalnya, politikus Partai Republik ini kecewa dengan liputan soal dukungannya pada kandidat jelang pemilihan paruh waktu November mendatang.

Lewat platform Truth Social miliknya, Trump menyerang balik. Ia menyebut Kristen Welker sebagai “pembawa acara tidak populer” dari program bincang-bincang Meet the Press yang “dulu hebat”.

Trump Bantah Klaim “Hasil Beragam”

Sasaran kekesalan Trump adalah pernyataan Welker bahwa dirinya meraih “hasil beragam” dalam dukungannya terhadap kandidat pada pemilihan pendahuluan partai. Menurutnya, dukungan tersebut justru berhasil pada 98 hingga 100 persen kasus.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, Welker menyampaikan pandangannya kepada afiliasi lokal NBC pada Minggu pagi. Menurut Welker, Trump akan “sangat berpengaruh” dalam pemilihan paruh waktu mendatang. Soal dukungan kandidat, ia menambahkan bahwa Trump “meraih hasil beragam”. Meski demikian, Welker turut mencatat dukungan Trump terhadap Senator Darline Graham baru-baru ini berhasil dalam pertarungan pemilihan pendahuluan sang senator.

Trump Ancam Laporkan Welker ke FCC

Karena itu, Trump menyebut pernyataan Welker sebagai “ketidakakuratan yang disengaja”. Ia pun menegaskan akan melaporkan Welker ke Komisi Komunikasi Federal untuk mendapat teguran atau sanksi. Lembaga tersebut bertugas memberikan dan mengawasi izin frekuensi siaran radio dan televisi.

Baca Juga :  Trump Ancam Tarif 5% Jika Meksiko Tak Segera Buka Keran ke Texas

Menurut Trump, Welker bukan satu-satunya sasaran kritiknya. Selain itu, media yang ia sebut “Radikal Kiri” dituduhnya berupaya keras melecehkan, merendahkan, dan mencemarkan nama baik siapa pun yang berhubungan dengan dirinya.

Di sisi lain, Welker merupakan jurnalis peraih penghargaan. Bahkan, ia sempat mendapat pujian lintas partai usai memandu debat presiden 2020 yang mempertemukan Trump dengan Joe Biden dari Partai Demokrat, yang kemudian memenangkan pemilihan tahun itu.

Sementara itu, seorang juru bicara NBC News yang enggan menyebutkan namanya membela Welker pada Minggu. Kepada AFP, ia menyampaikan bahwa Welker adalah salah satu jurnalis terbaik di bidangnya dan NBC tetap mendukungnya.

Sejumlah Kandidat Dukungan Trump Kalah

Secara keseluruhan, dukungan Trump terbukti membantu kandidat Partai Republik yang berlaga untuk jabatan tingkat negara bagian. Kendati demikian, tingkat persetujuan publik terhadap Trump justru menurun.

Bahkan, setidaknya 10 kandidat dukungan Trump kalah pada siklus pemilihan ini, menurut catatan Ballotpedia. Daftar ini mencakup empat calon anggota DPR AS dan enam calon gubernur, termasuk teoritikus konspirasi Mike Lindell di Minnesota.

Ketegangan Trump dengan Media Terus Berlanjut

Sebagai pengembang properti kontroversial di New York, miliarder Trump dahulu memanfaatkan media Amerika untuk kepentingannya. Namun, sikapnya berbalik drastis terhadap pers setelah ia menjabat presiden. Bahkan, liputan yang mengkritiknya kerap ia sebut sebagai “berita palsu”.

Sejauh ini, Trump telah menggugat sejumlah media, termasuk Wall Street Journal dan New York Times. Selain itu, ia memerintahkan pemangkasan dana federal untuk media publik.

Baca Juga :  Trump Ancam Penjarakan Jurnalis Terkait Bocoran Penyelamatan Pilot di Iran

Di sisi lain, pemerintahannya meningkatkan pembatasan dan upaya mengintimidasi jurnalis. Adapun FCC, yang dipimpin oleh sekutu dekat Trump, turut menekan penyiar agar mengikuti arahan pemerintah.

Terkait hal ini, Trump menyatakan harapannya agar Ketua FCC Brendan Carr dan jajarannya menanggapi serius ancaman ini terhadap negara.

Media Lawan Balik lewat Jalur Hukum

Pada dasarnya, serangan terbaru ini menjadi bagian dari ofensif berbulan-bulan pemerintahan Trump terhadap media yang dinilainya terlalu kritis. Meski begitu, upaya tersebut menghadapi perlawanan yang makin besar dari organisasi berita dan jaringan penyiaran utama.

Sebagai buktinya, sejumlah media telah mengajukan gugatan terhadap FCC. Menurut mereka, tekanan semacam itu merupakan pembalasan politik yang melanggar Amandemen Pertama Konstitusi AS, yang melindungi kebebasan berbicara.

Sementara itu, hubungan Trump dan Welker sendiri sudah tegang selama berbulan-bulan. Sebagai contoh, pada Juni Trump tiba-tiba menghentikan wawancara dengan Welker usai perdebatan sengit. Saat itu, pertanyaan Welker soal perang melawan Iran membuatnya kesal.

Di sisi lain, para pakar menilai FCC tidak memiliki wewenang hukum untuk menghukum penyiar atau jurnalis atas sudut pandang mereka. Bahkan, sebuah makalah tahun 2025 dari Yale Journal on Regulation mencatat bahwa Mahkamah Agung AS telah menegaskan hukum AS tidak memberikan FCC kewenangan untuk melarang ucapan yang kontroversial.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Denmark Tegaskan AS Wajib Mematuhi Hukum Greenland
Kelompok Pengawas Pemerintah Menggugat Jared Kushner
Kondisi Kesehatan Paus Leo XIV Membaik Pasca Operasi
Kelompok Houthi Mengancam Akan Terus Menggempur
SpaceX Membatasi Layanan Starlink Militer Ukraina
Zelenskyy Sebut Rusia Tetap Menyerang Fasilitas Energi
Kelompok Houthi Mengancam Amerika Serikat Pasca Serangan
Aparat Federal Amerika Serikat Menggeledah Kediaman DPR

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:40 WIB

Denmark Tegaskan AS Wajib Mematuhi Hukum Greenland

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:34 WIB

Kelompok Pengawas Pemerintah Menggugat Jared Kushner

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Kondisi Kesehatan Paus Leo XIV Membaik Pasca Operasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:23 WIB

Kelompok Houthi Mengancam Akan Terus Menggempur

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:22 WIB

SpaceX Membatasi Layanan Starlink Militer Ukraina

Berita Terbaru

Denmark menegaskan eksplorasi sumber daya alam Greenland oleh AS harus mematuhi hukum lokal dan tidak mendapat keistimewaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Denmark Tegaskan AS Wajib Mematuhi Hukum Greenland

Kamis, 15 Okt 2026 - 15:40 WIB